Pembatasan Harga Minyak Rusia Bakal Dipatok USD45/Barel, Kremlin Peringatkan UE

Minggu, 15 Juni 2025 - 14:24 WIB
loading...
Pembatasan Harga Minyak...
Dorongan Komisi Eropa terkait pembatasan harga minyak Rusia berisiko memperburuk ketidakstabilan di pasar energi global. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Dorongan Komisi Eropa terkait pembatasan harga minyak Rusia berisiko memperburuk ketidakstabilan di pasar energi global. Hal itu dilontarkan oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov seperti dilansir RT.

Pernyataannya tersebut disampaikan sebagai respons terhadap laporan bahwa Brussels sedang meninjau batas harga saat ini yang ditetapkan di bawah sanksi UE (Uni Eropa) . "Tindakan semacam itu pasti tidak berkontribusi pada stabilisasi pasar energi dan minyak internasional," kata Peskov.

Komisi Eropa mengusulkan putaran sanksi ke-18 terhadap Rusia yang menargetkan ekspor energi, infrastruktur, dan jaringan keuangan. Baca Juga: Perusahaan Raksasa Tanker Rusia Dihantam Sanksi, Sovcomflot Rugi Rp6,3 Triliun

Langkah-langkah tersebut termasuk memotong batas harga minyak dari USD60 menjadi USD45 per barel, melarang penggunaan pipa gas Nord Stream, membatasi impor bahan bakar yang disuling dari minyak mentah Rusia , dan memasukkan 77 kapal dalam daftar hitam yang diklaim UE digunakan untuk menghindari sanksi yang ada.

Paket baru ini bertujuan untuk memberi tekanan pada Moskow terkait konflik Ukraina. Namun rencana tersebut memerlukan dukungan dari semua anggota UE yang berjumlah 27 negara agar dapat berlaku.

Peskov mengatakan, Kremlin terus memantau tindakan UE, sembari menambahkan bahwa Rusia akan merespons dengan cara yang paling baik demi melindungi kepentingannya jika blok tersebut mengubah batas harga.

Dia menambahkan, Rusia telah lama beroperasi di bawah sanksi "ilegal" dan telah mendapatkan "pengalaman yang sangat berguna" dalam cara meminimalkan "konsekuensi negatif". Pada bulan Desember 2022, UE, bersama dengan G7 dan Australia, memperkenalkan pembatasan harga sebesar USD60 per barel untuk minyak mentah Rusia yang diangkut melalui laut.

Ditambah melarang perusahaan pelayaran dan asuransi Barat untuk menangani kargo yang dijual di atas batas tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi pendapatan ekspor Rusia di tengah konflik Ukraina.

Sementara itu Rusia telah menolak pembatasan harga minyak Barat, dengan mengatakan bahwa langkah tersebut mendistorsi mekanisme pasar dan mengancam investasi di sektor energi global. Selain itu Kremlin turut memperingatkan bahwa mereka akan menghentikan pasokan ke negara mana pun yang mendukung batas harga tersebut.

Baca Juga: AS Cabut Sanksi Rusia Terkait Proyek Minyak Internasional

Pasar minyak global tetap sensitif terhadap perkembangan mengenai penerapan batasan harga minyak. Menurut pelaku pasar, upaya sebelumnya untuk menegakkan sanksi itu menghadapi perlawanan dari perusahaan pengiriman dan asuransi.

Analis menunjukkan bahwa sejak diperkenalkan, pembatasan harga minuak tersebut hampir sepenuhnya diabaikan, karena hampir tidak ada pengiriman minyak mentah melalui laut yang diperdagangkan di bawah batas USD60 per barel.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Panel Energi SPIEF 2026...
Panel Energi SPIEF 2026 Bahas Prospek Harga Minyak Tahun Depan, Bakal Tembus USD170 per Barel?
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
Impor Energi dari 41...
Impor Energi dari 41 Negara, India Tak Mampu Tolak Minyak Rusia: Kami Cari yang Paling Murah!
Arab Saudi Diprediksi...
Arab Saudi Diprediksi Pangkas Harga Minyak ke Asia hingga USD8 per Barel
Badai PHK Guncang Inggris...
Badai PHK Guncang Inggris di Tengah Perang AS-Iran, Tembus Rekor Tertinggi 5 Tahun
Harga Minyak Mentah...
Harga Minyak Mentah Meroket dalam Hitungan Jam usai AS Serang Iran Lagi
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
Rekomendasi
Ketum All Cipayung Nusantara...
Ketum All Cipayung Nusantara Berharap Sidang Kasus Ijazah Jokowi Digelar Terbuka
Hari Ini, Timnas Indonesia...
Hari Ini, Timnas Indonesia vs Australia Berebut Tiket Final di Piala AFF U-19 2026
Poco F8 Ultra Kembali...
Poco F8 Ultra Kembali Dijual di Indonesia: HP Gaming Buas dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5
Berita Terkini
Otto Media Grup Kolaborasi...
Otto Media Grup Kolaborasi Sadewi Essential Care, Perkuat Integrasi Brand-Rantai Pasok
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved