Perang Dagang AS-China Bentuk Kembali Rantai Pasok Global, Siapa yang Paling Diuntungkan?
Selasa, 17 Juni 2025 - 08:37 WIB
loading...
A
A
A
Makalah ini mengaitkan Strategi Keamanan Nasional AS untuk tahun 2023-2033, yang menyatakan dekade ini sebagai "menentukan" bagi persaingan AS-China, dengan Rencana Lima Tahun ke-15 Beijing (2026-2030), yang dipandang sebagai jendela penting untuk mencapai tujuan modernisasi tahun 2035.
Meskipun para penulis memprediksi bahwa posisi dan pengaruh China dalam rantai pasokan global akan terus tumbuh, mereka memperingatkan adanya "fase persaingan berisiko tinggi" yang akan dihadapi oleh AS. Dalam fase ini, AS akan menghadapi tantangan yang semakin intensif dan beragam, yang dapat mempercepat laju relokasi industri dari China.
"IPEF, terutama komponen rantai pasokannya, telah matang dan dapat berfungsi sebagai platform garis depan untuk persaingan AS dengan China," tulis para penulis, merujuk pada Kerangka Kerja Ekonomi Indo-Pasifik yang dipimpin oleh AS untuk melawan pengaruh regional Beijing, dikutip dari SCMP, Selasa (17/6).
Studi ini juga membandingkan dinamika sebelum dan sesudah perang dagang pertama antara AS dan China, dengan tahun 2018 sebagai titik balik ketika Washington memberlakukan tarif 25 persen untuk impor dari China. Sejak saat itu, delapan negara yang diidentifikasi menunjukkan kapasitas yang meningkat untuk menyerap manufaktur China, sambil meningkatkan impor barang setengah jadi dari China dan ekspor produk jadi ke AS.
Baca Juga: Apa Itu Weizmann Institute? Lab Senjata Canggih Israel yang Hancur Dirudal Iran
Meskipun para penulis memprediksi bahwa posisi dan pengaruh China dalam rantai pasokan global akan terus tumbuh, mereka memperingatkan adanya "fase persaingan berisiko tinggi" yang akan dihadapi oleh AS. Dalam fase ini, AS akan menghadapi tantangan yang semakin intensif dan beragam, yang dapat mempercepat laju relokasi industri dari China.
"IPEF, terutama komponen rantai pasokannya, telah matang dan dapat berfungsi sebagai platform garis depan untuk persaingan AS dengan China," tulis para penulis, merujuk pada Kerangka Kerja Ekonomi Indo-Pasifik yang dipimpin oleh AS untuk melawan pengaruh regional Beijing, dikutip dari SCMP, Selasa (17/6).
Studi ini juga membandingkan dinamika sebelum dan sesudah perang dagang pertama antara AS dan China, dengan tahun 2018 sebagai titik balik ketika Washington memberlakukan tarif 25 persen untuk impor dari China. Sejak saat itu, delapan negara yang diidentifikasi menunjukkan kapasitas yang meningkat untuk menyerap manufaktur China, sambil meningkatkan impor barang setengah jadi dari China dan ekspor produk jadi ke AS.
Baca Juga: Apa Itu Weizmann Institute? Lab Senjata Canggih Israel yang Hancur Dirudal Iran
Lihat Juga :