Investor Beralih ke Bitcoin saat Emas Terkoreksi dan The Fed Tahan Suku Bunga
Sabtu, 21 Juni 2025 - 20:32 WIB
loading...
A
A
A
Ia menambahkan, tren investasi terhadap Bitcoin kini mulai menunjukkan pendekatan yang lebih matang. "Kami melihat adanya peningkatan minat dari investor, termasuk sebagian institusi, yang tidak lagi hanya melihat Bitcoin sebagai instrumen spekulatif, tetapi juga sebagai alternatif lindung nilai di tengah ketidakpastian global," jelasnya.
Antony menjelaskan, salah satu kekuatan utama Bitcoin terletak pada ketidakbergantungannya terhadap otoritas pusat dalam pengelolaan pasokan. “Bitcoin tidak dikendalikan oleh bank sentral dan tidak bisa dicetak ulang seperti mata uang fiat. Jumlahnya terbatas hanya 21 juta koin, dan hal ini diatur langsung oleh protokolnya. Sifat yang terbatas dan desentralisasi ini membuatnya unik dalam lanskap investasi modern,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan harga Bitcoin tetap bisa dipengaruhi oleh sentimen pasar yang muncul akibat kebijakan moneter global atau ketegangan geopolitik.
"Namun, berbeda dengan mata uang fiat yang peredarannya bisa ditambah sesuai keputusan bank sentral, suplai Bitcoin bersifat tetap, sehingga memberi nilai protektif terhadap inflasi jangka panjang," tambahnya.
Menurut dia kondisi saat ini memperlihatkan realita bahwa instrumen-instrumen tradisional seperti emas bisa tertekan oleh kebijakan suku bunga, sementara Bitcoin justru mampu menunjukkan ketahanan dalam tekanan yang sama.
"Ada realokasi kepercayaan. Aset digital seperti Bitcoin memberi akses ke dunia tanpa batas, dengan efisiensi dan transparansi yang belum pernah ada sebelumnya," lanjut Antony.
Di Indonesia, kata Antony, tren yang sama mulai tampak jelas. Investor muda semakin sadar akan peran Bitcoin dalam diversifikasi portofolio jangka panjang. “Ada peningkatan minat untuk berinvestasi dengan pendekatan terencana, bukan spekulatif. Strategi seperti Dollar-Cost Averaging (DCA) mulai menjadi pilihan karena memungkinkan akumulasi aset secara disiplin dan stabil di tengah fluktuasi,” tambahnya.
Antony menjelaskan, salah satu kekuatan utama Bitcoin terletak pada ketidakbergantungannya terhadap otoritas pusat dalam pengelolaan pasokan. “Bitcoin tidak dikendalikan oleh bank sentral dan tidak bisa dicetak ulang seperti mata uang fiat. Jumlahnya terbatas hanya 21 juta koin, dan hal ini diatur langsung oleh protokolnya. Sifat yang terbatas dan desentralisasi ini membuatnya unik dalam lanskap investasi modern,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan harga Bitcoin tetap bisa dipengaruhi oleh sentimen pasar yang muncul akibat kebijakan moneter global atau ketegangan geopolitik.
"Namun, berbeda dengan mata uang fiat yang peredarannya bisa ditambah sesuai keputusan bank sentral, suplai Bitcoin bersifat tetap, sehingga memberi nilai protektif terhadap inflasi jangka panjang," tambahnya.
Menurut dia kondisi saat ini memperlihatkan realita bahwa instrumen-instrumen tradisional seperti emas bisa tertekan oleh kebijakan suku bunga, sementara Bitcoin justru mampu menunjukkan ketahanan dalam tekanan yang sama.
"Ada realokasi kepercayaan. Aset digital seperti Bitcoin memberi akses ke dunia tanpa batas, dengan efisiensi dan transparansi yang belum pernah ada sebelumnya," lanjut Antony.
Di Indonesia, kata Antony, tren yang sama mulai tampak jelas. Investor muda semakin sadar akan peran Bitcoin dalam diversifikasi portofolio jangka panjang. “Ada peningkatan minat untuk berinvestasi dengan pendekatan terencana, bukan spekulatif. Strategi seperti Dollar-Cost Averaging (DCA) mulai menjadi pilihan karena memungkinkan akumulasi aset secara disiplin dan stabil di tengah fluktuasi,” tambahnya.
Lihat Juga :