Wamentan Sudaryono Bongkar Strategi Bulog yang Ubah Sejarah Ketahanan Pangan RI!
Minggu, 22 Juni 2025 - 15:32 WIB
loading...
A
A
A
“Presiden sudah menetapkan HPP gabah kering panen di sawah sebesar Rp6.500 per kilogram. Dan jika pasar tidak mampu menyerap, maka negara hadir melalui Bulog yang ditugaskan membeli langsung dari pematang sawah,” ujarnya.
Perubahan kebijakan ini, lanjutnya, merupakan lompatan besar. Dulu, Bulog hanya membeli beras dari gudang, kini Bulog langsung menyerap gabah petani di sawah, sehingga kehadiran negara lebih nyata dan efektif menjaga stabilitas harga.
“Bulog bukan lagi ketemu beras, tapi ketemu sawah. Ini langkah yang sangat strategis untuk menjaga nilai jual petani,” tegasnya.
Mas Dar juga membeberkan capaian luar biasa dari program ini. Hingga pertengahan Juni 2025, Bulog telah menyerap lebih dari 2,5 juta ton gabah, yang setelah diolah menjadi beras kini memenuhi gudang negara. Jika ditambah stok beras dari tahun 2024, maka total stok beras nasional yang dikelola Bulog kini mencapai lebih dari 4 juta ton.
“Ini angka tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia,” ungkapnya bangga. Ia juga menjelaskan bahwa Bulog hanya menyerap sekitar 10 persen dari total panen nasional, artinya total panen padi nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton.
"Kadang-kadang orang mikirnya bahwa semua panenan itu dibeli Bulog, bukan. Bulog hanya membeli kira-kira 10 persen di daerah-daerah yang sulit, di daerah-daerah yang di mana pasar tidak bisa membeli. Pedagang beras tidak bisa beli, di situ Bulog hadir," sambung Sudaryono.
Ia juga menegaskan, bahwa pemerintah Indonesia saat ini menargetkan tidak lagi melakukan impor untuk komoditas strategis seperti beras, jagung, gula konsumsi, dan garam konsumsi, dengan tiga di antaranya menjadi tanggung jawab langsung Kementerian Pertanian.
Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menyebutkan, selama kepemimpinannya, aduan yang didapatkan dari petani yang menyempatkan berkomunikasi dengannya dipusatkan kepada permasalahan benih unggul, air dan irigasi, pupuk subsidi, serta jaminan harga saat panen.
Perubahan kebijakan ini, lanjutnya, merupakan lompatan besar. Dulu, Bulog hanya membeli beras dari gudang, kini Bulog langsung menyerap gabah petani di sawah, sehingga kehadiran negara lebih nyata dan efektif menjaga stabilitas harga.
“Bulog bukan lagi ketemu beras, tapi ketemu sawah. Ini langkah yang sangat strategis untuk menjaga nilai jual petani,” tegasnya.
Mas Dar juga membeberkan capaian luar biasa dari program ini. Hingga pertengahan Juni 2025, Bulog telah menyerap lebih dari 2,5 juta ton gabah, yang setelah diolah menjadi beras kini memenuhi gudang negara. Jika ditambah stok beras dari tahun 2024, maka total stok beras nasional yang dikelola Bulog kini mencapai lebih dari 4 juta ton.
“Ini angka tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia,” ungkapnya bangga. Ia juga menjelaskan bahwa Bulog hanya menyerap sekitar 10 persen dari total panen nasional, artinya total panen padi nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton.
"Kadang-kadang orang mikirnya bahwa semua panenan itu dibeli Bulog, bukan. Bulog hanya membeli kira-kira 10 persen di daerah-daerah yang sulit, di daerah-daerah yang di mana pasar tidak bisa membeli. Pedagang beras tidak bisa beli, di situ Bulog hadir," sambung Sudaryono.
Ia juga menegaskan, bahwa pemerintah Indonesia saat ini menargetkan tidak lagi melakukan impor untuk komoditas strategis seperti beras, jagung, gula konsumsi, dan garam konsumsi, dengan tiga di antaranya menjadi tanggung jawab langsung Kementerian Pertanian.
Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menyebutkan, selama kepemimpinannya, aduan yang didapatkan dari petani yang menyempatkan berkomunikasi dengannya dipusatkan kepada permasalahan benih unggul, air dan irigasi, pupuk subsidi, serta jaminan harga saat panen.
Lihat Juga :