Wamentan Sudaryono Bongkar Strategi Bulog yang Ubah Sejarah Ketahanan Pangan RI!

Minggu, 22 Juni 2025 - 15:32 WIB
loading...
Wamentan Sudaryono Bongkar...
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono.
A A A
JAKARTA - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono menegaskan bahwa swasembada pangan bukan sekadar ambisi politis semata, melainkan sebuah jalan penting untuk menuju kedaulatan bangsa.

Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa Mas Dar mengkritik pandangan yang menyebut impor pangan sebagai suatu hal yang biasa, karena dapat dikompensasi dengan ekspor komoditas lain seperti kelapa sawit.

“Ini opini yang menurut saya sangat berbahaya. Kenapa mesti swasembada? Karena hanya dengan memenuhi kebutuhan pangan dari produksi kita sendiri, kita bisa bicara tentang ketahanan, dan dari sana (bisa) menuju kedaulatan pangan,” kata Wamentan Sudaryono dalam keterangannya,Minggu (22/6/2025).

Wamentan Sudaryono menekankan bahwa kedaulatan pangan bukan retorika belaka, tetapi kebutuhan strategis bangsa, untuk pemenuhan pangan rakyat.

“Kedaulatan artinya negara kita tidak mudah diintervensi oleh kekuatan lain—baik negara, NGO, maupun kepentingan asing. Dan kedaulatan itu dimulai dari perut rakyat yang terisi oleh hasil tani bangsa sendiri,” tegasnya.

Menurutnya, pandemi COVID-19 telah memberi pelajaran berharga bahwa dalam situasi krisis, tidak ada jaminan negara lain akan memenuhi kebutuhan pangan, meskipun negara tersebut memiliki anggaran.

“Ini jadi pengingat bahwa uang tidak selalu bisa membeli pangan di saat sulit. Maka, jangan sampai kebutuhan pokok seperti beras dan jagung menjadi titik lemah kita di hadapan dunia,” ujarnya.

Wamentan Sudaryono mengulas tentang anjloknya harga saat panen raya beberapa tahun belakangan, dan saat ini pemerintah dibawah komando Presiden Prabowo Subianto telah hadir ditengah mengatasi permasalahan hal tersebut.

“Presiden sudah menetapkan HPP gabah kering panen di sawah sebesar Rp6.500 per kilogram. Dan jika pasar tidak mampu menyerap, maka negara hadir melalui Bulog yang ditugaskan membeli langsung dari pematang sawah,” ujarnya.

Perubahan kebijakan ini, lanjutnya, merupakan lompatan besar. Dulu, Bulog hanya membeli beras dari gudang, kini Bulog langsung menyerap gabah petani di sawah, sehingga kehadiran negara lebih nyata dan efektif menjaga stabilitas harga.

“Bulog bukan lagi ketemu beras, tapi ketemu sawah. Ini langkah yang sangat strategis untuk menjaga nilai jual petani,” tegasnya.

Mas Dar juga membeberkan capaian luar biasa dari program ini. Hingga pertengahan Juni 2025, Bulog telah menyerap lebih dari 2,5 juta ton gabah, yang setelah diolah menjadi beras kini memenuhi gudang negara. Jika ditambah stok beras dari tahun 2024, maka total stok beras nasional yang dikelola Bulog kini mencapai lebih dari 4 juta ton.

“Ini angka tertinggi sepanjang sejarah berdirinya Republik Indonesia,” ungkapnya bangga. Ia juga menjelaskan bahwa Bulog hanya menyerap sekitar 10 persen dari total panen nasional, artinya total panen padi nasional diperkirakan mencapai 25 juta ton.

"Kadang-kadang orang mikirnya bahwa semua panenan itu dibeli Bulog, bukan. Bulog hanya membeli kira-kira 10 persen di daerah-daerah yang sulit, di daerah-daerah yang di mana pasar tidak bisa membeli. Pedagang beras tidak bisa beli, di situ Bulog hadir," sambung Sudaryono.

Ia juga menegaskan, bahwa pemerintah Indonesia saat ini menargetkan tidak lagi melakukan impor untuk komoditas strategis seperti beras, jagung, gula konsumsi, dan garam konsumsi, dengan tiga di antaranya menjadi tanggung jawab langsung Kementerian Pertanian.

Lebih lanjut, Wamentan Sudaryono menyebutkan, selama kepemimpinannya, aduan yang didapatkan dari petani yang menyempatkan berkomunikasi dengannya dipusatkan kepada permasalahan benih unggul, air dan irigasi, pupuk subsidi, serta jaminan harga saat panen.

“Petani butuh benih yang baik, dan sekarang kami sudah bekerja sama dengan kampus-kampus besar seperti IPB untuk memproduksi benih unggul,” jelasnya.

Selain itu, Wamentan Sudaryono menyebutkan masalah irigasi pun tengah dijawab oleh pemerintah dengan investasi besar, yaitu Rp12 triliun untuk memperbaiki 83 ribu titik irigasi, dan tambahan Rp10 triliun disiapkan bila diperlukan.

“Air ini kunci. Tanpa air, percuma kita bicara tentang pangan,” sebutnya lagi.

Terkait persoalan pupuk, Pemerintah telah memangkas 145 regulasi terkait distribusi pupuk subsidi untuk mempercepat penyaluran pupuk kepada petani. Pemangkasan ini dilakukan untuk menghilangkan hambatan dan mempersingkat rantai distribusi pupuk.

Wamentan Sudaryono juga menyampaikan bahwa alokasi pupuk subsidi pada 2025 mencapai 9,5 juta ton, dua kali lipat lebih banyak dibanding 2023 yang hanya 4,7 juta ton. “Kalau dulu petani yang cari pupuk, sekarang pupuk yang cari petani,” imbuhnya.

Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) turut memperkuat klaim pemerintah. Pada kuartal pertama 2025, produksi padi dan beras tercatat meningkat 54 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara produksi jagung naik 39 persen, menandai keberhasilan strategi intensifikasi dan subsidi yang lebih tepat sasaran.

“Ini bukan kerja satu malam. Tapi kalau kita terus konsisten, bukan mustahil kita akan melihat Indonesia benar-benar berdiri tegak sebagai negara yang berdaulat secara pangan,” pungkas Mas Dar.
(unt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
Serap Beras Petani,...
Serap Beras Petani, Kapasitas Gudang Bulog Ditambah hingga 7 Juta Ton
Cadangan Beras Hampir...
Cadangan Beras Hampir Tembus 5 Juta Ton, Bukti Nyata Perkuat Ketahanan Pangan
Bantuan Pangan Mulai...
Bantuan Pangan Mulai Disalurkan ke 33 Juta Penerima! Beras 10 Kg, Minyak Goreng 2 Liter
KBI Perkuat Sistem Resi...
KBI Perkuat Sistem Resi Gudang Dukung Swasembada Pangan
Stok Beras dan Minyak...
Stok Beras dan Minyak Goreng Dijamin Aman Sampai Akhir Tahun 2026
Mengapa Harga Beras...
Mengapa Harga Beras Terus Merangkak Naik?
Potensi Gula Non-Tebu...
Potensi Gula Non-Tebu yang Dianaktirikan
DPR: Swasembada Migas...
DPR: Swasembada Migas Sama Pentingnya dengan Swasembada Pangan
Rekomendasi
8 Pangkalan Militer...
8 Pangkalan Militer AS Diserang Iran, IRGC: Selat Hormuz Milik Kita
Koalisi Masyarakat Sipil...
Koalisi Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Hentikan Latsarmil KDMP setelah 5 Peserta Meninggal
Sinopsis Tobat Jatuh...
Sinopsis 'Tobat Jatuh Cinta Eps 7: Mila Tidak Sanggup Lagi Mempertahankan Rumah Tangganya
Berita Terkini
Pacu Kinerja Bisnis,...
Pacu Kinerja Bisnis, Indo Artha Multitek Kenalkan Teknologi Layanan Haji
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
BPS: Sensus Ekonomi...
BPS: Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Penetapan Pajak Pribadi
Semarak HUT ke-58, BPJS...
Semarak HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat
Pemerintah Akan Turunkan...
Pemerintah Akan Turunkan Harga Gas Industri Senin Besok, Said Iqbal: Mitigasi PHK Massal
Infografis
Daftar 10 Pemain Tersubur...
Daftar 10 Pemain Tersubur dalam Sejarah Piala Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved