Panda Bond Bakal Dinilai Lembaga Rating China, Purbaya Tak Peduli Hasil S&P dan Moody's
Sabtu, 27 Juni 2026 - 20:15 WIB
loading...
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa dirinya tidak terlalu mengkhawatirkan sentimen rapor dari lembaga-lembaga penilaian global seperti S&P Global Ratings, Moody's, hingga Fitch Ratings. Hal ini seiring langkah pemerintah memperluas basis pembiayaan ke pasar modal China melalui instrumen Panda Bond.
Menurut Purbaya, strategi penetrasi pasar finansial di Beijing dan Shanghai ini secara otomatis akan menggunakan sistem penilaian dari agensi pemeringkat domestik China sendiri. Langkah diversifikasi radikal ini sekaligus mengemban misi taktis untuk memutus ketergantungan kronis APBN terhadap pasar obligasi global konvensional yang selama ini dikendalikan oleh para pemegang modal berbasis mata uang Dolar Amerika Serikat (AS).
"Kalau pemeringkatan itu keluar pun, yang sana, ya saya bisa enggak peduli. Kenapa saya harus menerbitkan obligasi dolar lagi untuk sementara?" kata Purbaya dikantornya, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga: Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Saat dikonfirmasi apakah lembaga yang dimaksud secara spesifik mengarah pada S&P Global Ratings, Menkeu menjawab singkat, "Ya gitulah." Lebih lanjut, Purbaya melayangkan kritik terhadap metodologi penilaian lembaga pemeringkat internasional yang dinilai kaku dan kerap menutup mata dari fakta kemajuan ekonomi riil di Indonesia.
"Tapi gini, dugaan saya ya, bukan S&P saja. Mereka sudah mempunyai mindset tertentu yang enggak mengakibatkan mereka melihat reality di lapangan. Saya enggak bisa ubah," ungkap Purbaya.
Menurut Purbaya, strategi penetrasi pasar finansial di Beijing dan Shanghai ini secara otomatis akan menggunakan sistem penilaian dari agensi pemeringkat domestik China sendiri. Langkah diversifikasi radikal ini sekaligus mengemban misi taktis untuk memutus ketergantungan kronis APBN terhadap pasar obligasi global konvensional yang selama ini dikendalikan oleh para pemegang modal berbasis mata uang Dolar Amerika Serikat (AS).
"Kalau pemeringkatan itu keluar pun, yang sana, ya saya bisa enggak peduli. Kenapa saya harus menerbitkan obligasi dolar lagi untuk sementara?" kata Purbaya dikantornya, Jumat (26/6/2026).
Baca Juga: Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Saat dikonfirmasi apakah lembaga yang dimaksud secara spesifik mengarah pada S&P Global Ratings, Menkeu menjawab singkat, "Ya gitulah." Lebih lanjut, Purbaya melayangkan kritik terhadap metodologi penilaian lembaga pemeringkat internasional yang dinilai kaku dan kerap menutup mata dari fakta kemajuan ekonomi riil di Indonesia.
"Tapi gini, dugaan saya ya, bukan S&P saja. Mereka sudah mempunyai mindset tertentu yang enggak mengakibatkan mereka melihat reality di lapangan. Saya enggak bisa ubah," ungkap Purbaya.
Lihat Juga :