Pelaku Usaha Depot Air Minum Didorong Perbaiki Praktik Bisnis
Senin, 23 Juni 2025 - 18:09 WIB
loading...
Ketua Kerja Sama Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia sekaligus Direktur Program PT Yapindo, dr. Lucy Widasari. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Yayasan Jiva Svastha Nusantara memulai rangkaian kegiatan penyuluhan dan edukasi di Kelurahan Lenteng Agung, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari upaya menekan angka stunting nasional. Program ini dilakukan dengan dukungan penuh dari pemerintah kelurahan setempat dan menempatkan kualitas air minum sebagai fokus utama.
Inisiatif tersebut sejalan dengan target pemerintah yang menurunkan prevalensi stunting nasional menjadi 14,2 persen pada tahun 2029 sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Saat ini, angka stunting nasional masih berada pada level 19,8 persen, sementara di Lenteng Agung tercatat 44 balita mengalami stunting.
Ketua Kerja Sama Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia sekaligus Direktur Program PT Yapindo, dr. Lucy Widasari, menjelaskan air minum yang terkontaminasi menjadi salah satu pemicu utama diare pada anak, yang berdampak langsung terhadap penyerapan gizi dan tumbuh kembang balita.
"Sekitar enam juta anak di dunia meninggal karena diare. Di Indonesia, 42 persen kematian bayi disebabkan oleh penyakit yang sama. Ini bukan hanya masalah air, tetapi krisis kemanusiaan yang menyentuh hak dasar masyarakat," kata dr. Lucy dalam keterangannya, Senin (23/6).
Baca Juga: Bahayakan Konsumen, Usaha Depot Air Isi Ulang Perlu Dievaluasi
Ia menekankan bahwa anak-anak yang terpapar air tercemar rentan mengalami infeksi saluran cerna, termasuk diare kronis yang menyebabkan protein tubuh hilang melalui usus yang rusak—kondisi yang dikenal sebagai protein-losing enteropathy. Akibatnya, meski asupan makanan cukup, tubuh tetap gagal menyerap gizi secara optimal.
Kondisi sanitasi yang buruk juga berisiko tinggi bagi ibu hamil. Paparan terhadap lingkungan tercemar bisa menyebabkan infeksi seperti hepatitis E yang berbahaya bagi janin, dan meningkatkan potensi kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah—dua faktor utama penyebab stunting sejak dalam kandungan.
Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Kebijakan Yayasan Jiva Svastha Nusantara, Surya Putra, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menanggulangi stunting. Ia menilai pemerintah tidak cukup hanya memberikan bantuan langsung, tetapi perlu mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait gizi dan sanitasi.
Surya juga menyoroti pentingnya peran pelaku usaha depot air minum isi ulang dalam menjaga kesehatan publik. Ia menyebut bahwa sebagian besar masyarakat mengandalkan air isi ulang sebagai sumber konsumsi harian, namun banyak depot belum memenuhi standar kebersihan.
"Di Bandung, hasil uji laboratorium menunjukkan 74 persen depot air isi ulang terkontaminasi bakteri E.coli dan coliform. Ini menunjukkan perlunya perbaikan praktik bisnis oleh para pelaku usaha agar tidak membahayakan masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Pipa Bocor Jadi Air Mancur Dadakan, PAM Jaya Buka Suara
Sayangnya, regulasi mengenai depot air minum isi ulang dinilai masih lemah. Meskipun ada ketentuan teknis seperti uji laboratorium dan kebersihan depot, implementasinya masih belum optimal. Tidak adanya sanksi tegas dan ketidakjelasan otoritas pengawas menjadi hambatan dalam penegakan aturan.
Ketua Yayasan Jiva Svastha Nusantara, Felicia Annelide, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus memperluas cakupan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat.
"Air bersih dan sehat adalah hak setiap warga negara. Kami akan terus mendorong hadirnya regulasi yang benar-benar melindungi masyarakat," ujarnya.
Yayasan Jiva mendorong, melalui pendekatan edukatif yang berkelanjutan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya kualitas air dalam upaya pencegahan stunting, dan semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun komunitas dapat bersinergi menciptakan lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang.
Inisiatif tersebut sejalan dengan target pemerintah yang menurunkan prevalensi stunting nasional menjadi 14,2 persen pada tahun 2029 sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Saat ini, angka stunting nasional masih berada pada level 19,8 persen, sementara di Lenteng Agung tercatat 44 balita mengalami stunting.
Ketua Kerja Sama Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia sekaligus Direktur Program PT Yapindo, dr. Lucy Widasari, menjelaskan air minum yang terkontaminasi menjadi salah satu pemicu utama diare pada anak, yang berdampak langsung terhadap penyerapan gizi dan tumbuh kembang balita.
"Sekitar enam juta anak di dunia meninggal karena diare. Di Indonesia, 42 persen kematian bayi disebabkan oleh penyakit yang sama. Ini bukan hanya masalah air, tetapi krisis kemanusiaan yang menyentuh hak dasar masyarakat," kata dr. Lucy dalam keterangannya, Senin (23/6).
Baca Juga: Bahayakan Konsumen, Usaha Depot Air Isi Ulang Perlu Dievaluasi
Ia menekankan bahwa anak-anak yang terpapar air tercemar rentan mengalami infeksi saluran cerna, termasuk diare kronis yang menyebabkan protein tubuh hilang melalui usus yang rusak—kondisi yang dikenal sebagai protein-losing enteropathy. Akibatnya, meski asupan makanan cukup, tubuh tetap gagal menyerap gizi secara optimal.
Kondisi sanitasi yang buruk juga berisiko tinggi bagi ibu hamil. Paparan terhadap lingkungan tercemar bisa menyebabkan infeksi seperti hepatitis E yang berbahaya bagi janin, dan meningkatkan potensi kelahiran prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah—dua faktor utama penyebab stunting sejak dalam kandungan.
Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Kebijakan Yayasan Jiva Svastha Nusantara, Surya Putra, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menanggulangi stunting. Ia menilai pemerintah tidak cukup hanya memberikan bantuan langsung, tetapi perlu mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait gizi dan sanitasi.
Surya juga menyoroti pentingnya peran pelaku usaha depot air minum isi ulang dalam menjaga kesehatan publik. Ia menyebut bahwa sebagian besar masyarakat mengandalkan air isi ulang sebagai sumber konsumsi harian, namun banyak depot belum memenuhi standar kebersihan.
"Di Bandung, hasil uji laboratorium menunjukkan 74 persen depot air isi ulang terkontaminasi bakteri E.coli dan coliform. Ini menunjukkan perlunya perbaikan praktik bisnis oleh para pelaku usaha agar tidak membahayakan masyarakat," ujarnya.
Baca Juga: Pipa Bocor Jadi Air Mancur Dadakan, PAM Jaya Buka Suara
Sayangnya, regulasi mengenai depot air minum isi ulang dinilai masih lemah. Meskipun ada ketentuan teknis seperti uji laboratorium dan kebersihan depot, implementasinya masih belum optimal. Tidak adanya sanksi tegas dan ketidakjelasan otoritas pengawas menjadi hambatan dalam penegakan aturan.
Ketua Yayasan Jiva Svastha Nusantara, Felicia Annelide, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus memperluas cakupan edukasi dan penyuluhan kepada masyarakat.
"Air bersih dan sehat adalah hak setiap warga negara. Kami akan terus mendorong hadirnya regulasi yang benar-benar melindungi masyarakat," ujarnya.
Yayasan Jiva mendorong, melalui pendekatan edukatif yang berkelanjutan, masyarakat semakin sadar akan pentingnya kualitas air dalam upaya pencegahan stunting, dan semua pihak, baik pemerintah, swasta, maupun komunitas dapat bersinergi menciptakan lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang.
(nng)
Lihat Juga :