Di Bawah Prabowo dan Anwar Ibrahim, Mengapa Malaysia dan Indonesia Kompak Perkuat Hubungan dengan Rusia?
Jum'at, 04 Juli 2025 - 15:00 WIB
loading...
Presiden Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menunjukkan upaya serius dalam mempererat hubungan dengan Rusia. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menunjukkan upaya serius dalam mempererat hubungan bilateral dengan Rusia. Kedua pemimpin sama-sama melewatkan momentum penting di forum Barat demi menjajaki peluang kerja sama strategis dengan Moskow, terutama di bidang ekonomi dan investasi.
Prabowo baru saja melakukan kunjungan tiga hari ke Rusia yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia. Dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat bahwa hubungan kedua negara "kembali menguat" di berbagai bidang, seperti perdagangan, investasi, pertanian, dan kerja sama teknis.
"Pertemuan saya dengan Presiden Putin berlangsung intens, hangat, dan produktif. Di semua sektor terjadi peningkatan yang signifikan," ujar Prabowo, seperti dikutip dari DW, Jumat (4/7).
Baca Juga: Baru Diangkat Putin, Jenderal Top Rusia Ini Tewas Diserang Roket HIMARS Ukraina
Bahkan keputusannya bertolak ke Rusia melewatkan kesempatan bertemu Presiden AS Donald Trump dalam KTT G7 di Kanada. Dalam konferensi pers bersama Putin, Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan mengikuti filosofi kekuatan dominan dunia. Ia menyebut Rusia dan China sebagai negara tanpa standar ganda dan sebagai pembela kaum tertindas.
Langkah Prabowo mencerminkan kebijakan luar negeri yang serupa dengan Malaysia. PM Anwar tercatat telah tiga kali mengunjungi Rusia dalam dua tahun terakhir. Kedua negara terlihat ingin memperkuat posisi non-blok melalui pendekatan luar negeri yang lebih seimbang, termasuk mempererat hubungan dengan Rusia dan Tiongkok.
Menurut peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute, Ian Storey, baik Jakarta maupun Kuala Lumpur tengah mencari cara memperluas keterlibatan ekonomi dengan Moskow meskipun peluang konkret dinilai masih terbatas. Pada 2023, perdagangan Rusia dengan negara-negara ASEAN tercatat mencapai rekor tertinggi sebesar USD 22 miliar.
Indonesia dan Malaysia saat ini tengah mengeksplorasi kerja sama di sektor energi dan pertahanan. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada batu bara, Rusia menawarkan peluang dalam pengembangan energi nuklir sipil. Beberapa negara ASEAN, termasuk Vietnam, telah mulai menjajaki proyek pembangkit listrik tenaga nuklir dengan dukungan teknologi Rusia.
Kerja sama terbaru ditandai dengan penandatanganan perjanjian antara Danantara dan Russian Direct Investment Fund untuk membentuk dana investasi bersama senilai €2 miliar. Pameran kerja sama ASEAN–Rusia di bidang teknologi nuklir juga telah dibuka di Jakarta oleh Sekjen ASEAN pada Februari lalu.
Dalam konteks geopolitik, Indonesia dan Malaysia juga melihat BRICS sebagai forum alternatif di tengah ketidakpastian arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Indonesia kini menjadi anggota penuh BRICS, sementara Malaysia berstatus sebagai mitra.
Baca Juga: Xi Jinping dan Putin Absen KTT BRICS 2025 di Brasil, Ada Apa?
Namun belum jelas apakah penguatan hubungan dengan Rusia merupakan langkah strategis untuk menghindari rivalitas AS–China, atau mencerminkan kedekatan ideologis dengan visi Rusia tentang tatanan dunia baru. Prabowo sendiri menyatakan, "Kami ingin berteman dengan semua pihak," saat ditanya soal keputusannya menolak undangan KTT G7.
Menurut Bridget Welsh dari Asia Research Institute Malaysia, kunjungan Anwar ke Rusia juga dipengaruhi sentimen domestik. Rusia dinilai populer di kalangan masyarakat Malaysia karena pandangan anti-Barat, khususnya terkait persepsi bahwa AS memicu perang di Ukraina.
Sentimen serupa juga berkembang di Indonesia, dipicu dukungan Barat terhadap Israel dalam konflik Timur Tengah, seperti tercermin dalam survei State of Southeast Asia 2024.
Prabowo baru saja melakukan kunjungan tiga hari ke Rusia yang bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia. Dalam pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat bahwa hubungan kedua negara "kembali menguat" di berbagai bidang, seperti perdagangan, investasi, pertanian, dan kerja sama teknis.
"Pertemuan saya dengan Presiden Putin berlangsung intens, hangat, dan produktif. Di semua sektor terjadi peningkatan yang signifikan," ujar Prabowo, seperti dikutip dari DW, Jumat (4/7).
Baca Juga: Baru Diangkat Putin, Jenderal Top Rusia Ini Tewas Diserang Roket HIMARS Ukraina
Bahkan keputusannya bertolak ke Rusia melewatkan kesempatan bertemu Presiden AS Donald Trump dalam KTT G7 di Kanada. Dalam konferensi pers bersama Putin, Prabowo menegaskan Indonesia tidak akan mengikuti filosofi kekuatan dominan dunia. Ia menyebut Rusia dan China sebagai negara tanpa standar ganda dan sebagai pembela kaum tertindas.
Langkah Prabowo mencerminkan kebijakan luar negeri yang serupa dengan Malaysia. PM Anwar tercatat telah tiga kali mengunjungi Rusia dalam dua tahun terakhir. Kedua negara terlihat ingin memperkuat posisi non-blok melalui pendekatan luar negeri yang lebih seimbang, termasuk mempererat hubungan dengan Rusia dan Tiongkok.
Menurut peneliti senior ISEAS-Yusof Ishak Institute, Ian Storey, baik Jakarta maupun Kuala Lumpur tengah mencari cara memperluas keterlibatan ekonomi dengan Moskow meskipun peluang konkret dinilai masih terbatas. Pada 2023, perdagangan Rusia dengan negara-negara ASEAN tercatat mencapai rekor tertinggi sebesar USD 22 miliar.
Indonesia dan Malaysia saat ini tengah mengeksplorasi kerja sama di sektor energi dan pertahanan. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada batu bara, Rusia menawarkan peluang dalam pengembangan energi nuklir sipil. Beberapa negara ASEAN, termasuk Vietnam, telah mulai menjajaki proyek pembangkit listrik tenaga nuklir dengan dukungan teknologi Rusia.
Kerja sama terbaru ditandai dengan penandatanganan perjanjian antara Danantara dan Russian Direct Investment Fund untuk membentuk dana investasi bersama senilai €2 miliar. Pameran kerja sama ASEAN–Rusia di bidang teknologi nuklir juga telah dibuka di Jakarta oleh Sekjen ASEAN pada Februari lalu.
Dalam konteks geopolitik, Indonesia dan Malaysia juga melihat BRICS sebagai forum alternatif di tengah ketidakpastian arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Indonesia kini menjadi anggota penuh BRICS, sementara Malaysia berstatus sebagai mitra.
Baca Juga: Xi Jinping dan Putin Absen KTT BRICS 2025 di Brasil, Ada Apa?
Namun belum jelas apakah penguatan hubungan dengan Rusia merupakan langkah strategis untuk menghindari rivalitas AS–China, atau mencerminkan kedekatan ideologis dengan visi Rusia tentang tatanan dunia baru. Prabowo sendiri menyatakan, "Kami ingin berteman dengan semua pihak," saat ditanya soal keputusannya menolak undangan KTT G7.
Menurut Bridget Welsh dari Asia Research Institute Malaysia, kunjungan Anwar ke Rusia juga dipengaruhi sentimen domestik. Rusia dinilai populer di kalangan masyarakat Malaysia karena pandangan anti-Barat, khususnya terkait persepsi bahwa AS memicu perang di Ukraina.
Sentimen serupa juga berkembang di Indonesia, dipicu dukungan Barat terhadap Israel dalam konflik Timur Tengah, seperti tercermin dalam survei State of Southeast Asia 2024.
(nng)
Lihat Juga :