Rugikan Ekonomi dan Lingkungan, GRASP 2030 Perkuat Kolaborasi Atasi Susut dan Sisa Pangan
Jum'at, 04 Juli 2025 - 15:51 WIB
loading...
A
A
A
Direktur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani menyampaikan, bahwa selain merugikan ekonomi dan lingkungan, susut dan sisa pangan juga mencerminkan ketimpangan sosial. “Oleh karena itu, komitmen bersama sektor bisnis dalam mengurangi susut dan sisa pangan bukan sekadar tanggung jawab sosial, tetapi juga peluang untuk efisiensi operasional, inovasi produk, dan peningkatan reputasi di mata konsumen, terutama generasi muda," sebut Indah dalam sambutannya saat membuka acara.
Sesi ini juga menyoroti pentingnya peran pengurangan susut dan sisa pangan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional . Dalam pidatonya, Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan BAPANAS, menekankan urgensi serta langkah utama untuk mengatasi susut dan sisa pangan di Indonesia, yang mencapai 48 juta ton per tahun.
“Kami memahami bahwa banyak hal sudah dilakukan oleh Bapak Ibu sekalian, tetapi kita gaungkan kembali dengan tiga langkah utama: pencegahan timbulan sisa makanan, penanganan sisa pangan, dan pencatatan,” jelas Nita.
Dalam sesi talk show, para narasumber membahas tantangan dan upaya pengurangan susut dan sisa pangan di berbagai sektor, mulai dari sektor pertanian, produksi, hingga ritel. GAPMMI menyoroti tantangan overproduksi akibat perubahan cepat preferensi konsumen; APRINDO menekankan pentingnya manajemen stok yang efektif di sektor ritel; sementara PISAgro membagikan pengalaman mendampingi petani agar memproduksi secara efisien dan menghindari susut pangan.
Chairwoman GRASP 2030 sekaligus Head of Sustainability Nutrifood, Angelique Dewi, mendorong pelaku usaha untuk mulai dari langkah sederhana seperti mengukur jumlah food waste di operasional mereka sebagai bentuk efisiensi.
Sesi ini juga menyoroti pentingnya peran pengurangan susut dan sisa pangan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional . Dalam pidatonya, Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan BAPANAS, menekankan urgensi serta langkah utama untuk mengatasi susut dan sisa pangan di Indonesia, yang mencapai 48 juta ton per tahun.
“Kami memahami bahwa banyak hal sudah dilakukan oleh Bapak Ibu sekalian, tetapi kita gaungkan kembali dengan tiga langkah utama: pencegahan timbulan sisa makanan, penanganan sisa pangan, dan pencatatan,” jelas Nita.
Dalam sesi talk show, para narasumber membahas tantangan dan upaya pengurangan susut dan sisa pangan di berbagai sektor, mulai dari sektor pertanian, produksi, hingga ritel. GAPMMI menyoroti tantangan overproduksi akibat perubahan cepat preferensi konsumen; APRINDO menekankan pentingnya manajemen stok yang efektif di sektor ritel; sementara PISAgro membagikan pengalaman mendampingi petani agar memproduksi secara efisien dan menghindari susut pangan.
Chairwoman GRASP 2030 sekaligus Head of Sustainability Nutrifood, Angelique Dewi, mendorong pelaku usaha untuk mulai dari langkah sederhana seperti mengukur jumlah food waste di operasional mereka sebagai bentuk efisiensi.
Lihat Juga :