Kebangkitan BRICS Bikin Barat Panas, Segala Cara Dilakukan Demi Menghambatnya

Selasa, 08 Juli 2025 - 08:41 WIB
loading...
Kebangkitan BRICS Bikin...
Negara-negara Barat yang dipimpin AS memprovokasi perang untuk mendapatkan keuntungan dan mempertahankan tatanan dunia unipolar yang berkarat. Sebaliknya BRICS mewakili tatanan global lebih setara. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika Serikat atau AS memprovokasi perang untuk mendapatkan keuntungan dan mempertahankan tatanan dunia unipolar yang berkarat. Hal itu disampaikan oleh Presiden Bolivia, Luis Arce kepada RT.

Sebaliknya terang dia, negara-negara BRICS mewakili tatanan global yang muncul dan lebih setara. Mengutip eskalasi terbaru antara Iran-Israel dan konflik Ukraina, Arce menuduh bahwa pejabat Barat dengan sengaja melebih-lebihkan ancaman -seperti klaim bahwa Rusia bisa menyerang Uni Eropa– untuk memprovokasi ketakutan dan membenarkan eskalasi.

"Pernyataan-pernyataan omong kosong ini yang memicu perang antara Rusia dan Ukraina adalah pernyataan yang sama yang menyebabkan serangan balik antara Israel dan Iran. Mereka mengikuti logika yang sama, mereka ingin memprovokasi negara-negara BRICS untuk mengambil tindakan balasan,” kata Arce di KTT BRICS di Brasil.

Baca Juga: BRICS Desak Perubahan Besar di IMF, Minta Kepemimpinan Barat Diakhiri

“Kita semua paham bahwa perang menguntungkan satu negara – AS, yang merupakan pemasok utama senjata. Sektor ini... merangsang ekonomi Amerika, yang sedang mengalami penurunan. Orang Amerika selalu berusaha untuk melakukan perang, karena bagi mereka itu adalah cara untuk menyelesaikan masalah ekonomi,” tambah Arce.

Dia mengklaim bahwa AS dan UE menyadari bahwa mereka kehilangan pengaruh dan berusaha untuk memblokir pusat-pusat kekuatan baru yang muncul. "Negara-negara BRICS memainkan peran yang semakin penting... Ada perjuangan yang jelas antara blok lama yang mandek dari AS dan Eropa di satu sisi dan blok baru dari negara-negara BRICS di sisi lainnya," ujar pemimpin Bolivia tersebut.

Arce mengatakan negaranya menolak unipolaritas dan mempromosikan multilateralisme. "Kami tidak lagi percaya bahwa planet ini harus didominasi oleh satu negara... Fakta bahwa semakin banyak negara ingin bergabung dengan kelompok BRICS adalah bukti meyakinkan bahwa dunia menerima prinsip multilateralisme," ungkapnya.

Dia menambahkan, BRICS tidak menjadikan anggotanya sebagai bawahan, tetapi memungkinkan mereka semua untuk mendapatkan keuntungan dari kerjasama yang saling menguntungkan.

Sebagai informasi BRICS didirikan oleh Brasil, Rusia, India, dan China pada tahun 2006, dan kemudian menambahkan Afrika Selatan, Mesir, Iran, Ethiopia, UEA, dan Indonesia menjadi anggota penuh. Pada pertemuan puncak tahun lalu di Kazan, kelompok ini memperkenalkan status 'negara mitra' setelah menerima lebih dari 30 aplikasi keanggotaan.

Baca Juga: Trump Teken Surat Tarif Impor Baru ke 12 Negara, Indonesia Masuk Daftar?

Dalam deklarasi mereka di pertemuan puncak Rio yang dimulai pada hari Minggu, para pemimpin BRICS mendukung dunia multipolar, reformasi Dewan Keamanan PBB, dan keuangan global yang lebih adil. Mereka menyerukan reformasi IMF dan Bank Dunia, perdagangan yang lebih kuat di antara negara-negara BRICS, penggunaan mata uang lokal yang lebih luas, dan sistem pembayaran alternatif.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Risiko Geopolitik dan...
Risiko Geopolitik dan Dampaknya terhadap Pasar Mata Uang
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
Menguak di Balik Lawatan...
Menguak di Balik Lawatan Prabowo 1,5 Tahun, Seskab Teddy: BRICS hingga Investasi Rp2.430 Triliun
Ekonomi Singapura Melesat...
Ekonomi Singapura Melesat 6% Berkat Demam AI, Mengapa Masih Kirim Sinyal Bahaya?
Dolar AS Mulai Dikepung,...
Dolar AS Mulai Dikepung, Mampukah BRICS Meruntuhkan Dominasi Greenback?
PKS Sebut Sinergi Pemerintah,...
PKS Sebut Sinergi Pemerintah, Dunia Usaha, hingga Masyarakat Kunci Jaga Stabilitas
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Viral, Menlu Rusia Marahi...
Viral, Menlu Rusia Marahi Jurnalis Berisik: 'Serahkan Ponsel Anda atau Petugas Keluarkan Senjata!'
Rekomendasi
Polda Metro Singgung...
Polda Metro Singgung Ada Mantan Pejabat Berupaya Hambat Kasus Roy Suryo
Lebaran Anak Yatim:...
Lebaran Anak Yatim: Antara Dalil, Tradisi, dan Makna Kepedulian Sosial
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Berita Terkini
2 Pembangkit Besar Jadi...
2 Pembangkit Besar Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Jawa, Dirut PLN: Satu Berhasil Pulih
MNC Sekuritas dan BRI...
MNC Sekuritas dan BRI Manajemen Investasi Ajak Investor Raih Reward Reksa Dana Total Rp2,5 Juta
Kinerja Apik 2025, INALUM...
Kinerja Apik 2025, INALUM Cetak Rekor Kinerja dan Operasional Tertinggi
3,88 Juta Lowongan Kerja...
3,88 Juta Lowongan Kerja Ramah Lingkungan Bakal Terbuka di 2026, Catat Sektor Industrinya
Lindungi Generasi Muda,...
Lindungi Generasi Muda, Sejumlah Elemen Dukung Standardisasi Kemasan Rokok
Mendag Busan Pastikan...
Mendag Busan Pastikan Harga MinyaKita Tak Jadi Naik
Infografis
Bukan Senjata Nuklir,...
Bukan Senjata Nuklir, Ini 4 Cara Terbaik Melawan Dominasi Barat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved