Trump Tuding BRICS Gerogoti Dolar AS, Ini Respons Tegas dari Negara Anggota

Rabu, 09 Juli 2025 - 16:25 WIB
loading...
Trump Tuding BRICS Gerogoti...
Donald Trump kembali melancarkan kritik keras terhadap BRICS dengan menuduh kelompok tersebut berupaya mendegradasi dolar AS. FOTO/Watcher Guru
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melancarkan kritik keras terhadap aliansi ekonomi BRICS, dengan menuduh kelompok tersebut berupaya mendegradasi dolar AS dalam perdagangan internasional. Ia pun mengancam akan menerapkan tarif tambahan 10% kepada negara-negara yang mendukung apa yang disebutnya sebagai "kebijakan anti-Amerika".

Melalui unggahan di platform Truth Social, Minggu (7/7), Trump menyatakan tidak akan ada pengecualian bagi negara-negara yang bersekutu dengan BRICS jika terus mendorong pelemahan dolar AS. Ancaman ini menghidupkan kembali ketegangan lama yang sempat mencuat enam bulan lalu, ketika Trump mengancam tarif hingga 100% terhadap negara-negara yang mencoba menggantikan dolar dalam sistem perdagangan global.

Baca Juga: Trump Ancam Bubarkan BRICS dengan Cara Ini

Namun, bukannya surut, tekanan Trump justru mendorong negara-negara BRICS mempercepat pengembangan sistem pembayaran lokal dan instrumen alternatif dalam transaksi lintas batas. Rusia bahkan secara terbuka menyerukan evaluasi ulang atas peran dominan dolar AS dalam keuangan internasional.

"Negara mana pun yang mencoba menggantikan dolar akan menghadapi tarif. Selamat tinggal Amerika," kata Trump dalam pernyataan yang dikutip dari NDTV, Rabu (9/7). Pernyataan ini memicu reaksi keras dari berbagai pemimpin negara anggota BRICS.

Presiden Brasil Luiz InĂ¡cio Lula da Silva menilai ancaman Trump sebagai langkah keliru dan tidak bertanggung jawab. "Dunia telah berubah. Kami tidak menginginkan seorang kaisar. Kami adalah negara-negara berdaulat," ujarnya dalam konferensi pers. Lula menegaskan komitmen BRICS untuk terus mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan melanjutkan pemilihan mata uang alternatif secara bertahap.

Sementara, China memberikan respons lebih diplomatis. Dalam pernyataannya, Beijing menyebut bahwa perang dagang tidak menghasilkan pemenang, dan kebijakan proteksionisme hanya akan menghambat pertumbuhan global.

Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dan Presiden Bolivia Luis Arce turut menyuarakan kekhawatiran, sedangkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh AS menyalahgunakan kekuatan hegemoniknya dalam sistem perdagangan global.

Dalam pernyataan bersama usai pertemuan dua hari di Brasil, para pemimpin BRICS, termasuk Perdana Menteri India Narendra Modi, mengecam langkah-langkah tarif sepihak.

"Kami menyuarakan keprihatinan serius atas meningkatnya tindakan-tindakan tarif dan non-tarif unilateral yang mendistorsi perdagangan dan bertentangan dengan aturan WTO," bunyi pernyataan tersebut.

Meski tidak menyebut nama negara secara eksplisit, pernyataan itu tampak diarahkan kepada Trump. BRICS memperingatkan bahwa praktik tarif yang sembarangan dapat merusak perdagangan global, mengganggu rantai pasok, serta memperbesar ketimpangan ekonomi.

Blok ini juga mengecam serangan Israel dan AS terhadap Iran, yang kini menjadi anggota penuh BRICS. Mereka menilai serangan terhadap fasilitas nuklir damai sebagai pelanggaran hukum internasional. Selain itu, BRICS juga menyampaikan keprihatinan terhadap warga Palestina dan mengutuk aksi terorisme di Kashmir.

Baca Juga: AS Kucurkan Rp24,3 Triliun untuk Bangun Pangkalan Militer Rahasia Israel

Seiring meningkatnya pengaruh BRICS di negara-negara berkembang, AS dan negara Barat semakin kesulitan mendikte kesepakatan dagang. Berdiri sejak 2009, BRICS kini mencakup 10 negara anggota penuh dan sejumlah mitra strategis dari berbagai belahan dunia.

Meskipun terdiri dari negara dengan sistem politik dan ekonomi yang berbeda-beda, pertumbuhan anggota dan daftar tunggu panjang menunjukkan daya tarik BRICS sebagai alternatif kekuatan global yang mewakili aspirasi negara-negara Selatan.

Presiden Bolivia Luis Arce menyimpulkan dinamika ini dengan tegas, "Ada pertarungan nyata antara blok lama yang stagnan, yaitu AS dan Eropa, dengan blok baru BRICS yang sedang bangkit."

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Trump Klaim Kesepakatan...
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Selamatkan Dunia dari Bencana Ekonomi
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Harga Emas Bangkit usai...
Harga Emas Bangkit usai Trump Sebut Selat Hormuz Dibuka Pekan Ini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Rekomendasi
SPI Jadi yang Pertama...
SPI Jadi yang Pertama Beri Naskah Analisis RUU Advokat ke Pemerintah
Pegadaian CPS Pondok...
Pegadaian CPS Pondok Aren Gelar Pengobatan Gratis bagi Ratusan Masyarakat
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Berita Terkini
Damessa Perluas Layanan...
Damessa Perluas Layanan lewat Cabang Baru di Cileungsi
Membangun Revolusi Pembiayaan...
Membangun Revolusi Pembiayaan Sosial Nasional Tanpa Membebani APBN
SIG Sulap 60 Ton Sampah...
SIG Sulap 60 Ton Sampah Kelapa Jadi Pakan Ternak, Peternak di Aceh Hemat 60%
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
Selamatkan Petani, Peran...
Selamatkan Petani, Peran DSI dalam Tata Niaga Sawit Disebut Perlu Evaluasi Ulang
Purbaya Santai Tanggapi...
Purbaya Santai Tanggapi Risiko Pencucian Uang di Patriot Bond: Bisa Dipakai Bangun Ekonomi
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved