Teknologi AI Tingkatkan Efisiensi Industri Logistik Maritim
Rabu, 09 Juli 2025 - 20:37 WIB
loading...
Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai merambah sektor logistik maritim. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini mulai merambah sektor logistik maritim, sebuah bidang yang selama ini dikenal tradisional dan minim digitalisasi. Penerapan AI diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan daya saing perusahaan.
Chief Technology Officer PT Asian Bulk Logistics (ABL), Arief Setiawan, menyebut adopsi AI membawa perubahan signifikan dalam operasional perusahaan. ABL dikenal sebagai penyedia jasa logistik laut untuk angkutan batu bara, bauksit, dan nikel dari lokasi tambang ke kapal pengangkut curah.
“Secara historis, industri kami sangat tradisional. Tapi agar tetap kompetitif dan relevan, kami harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujar Arief dalam forum World AI Show 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (9/7).
Baca Juga: Berkat AI, Transjakarta Catat Lonjakan Penumpang Jadi 1,6 Juta per Hari
Salah satu terobosan utama yang diadopsi ABL adalah sistem Captain Eyes, sebuah solusi berbasis video analitik dan AI yang mampu memantau kondisi kapal selama 24 jam. Teknologi ini menggantikan sistem pemantauan manual yang terbatas waktu dan jangkauan.
“Dulu, kapten hanya mengandalkan CCTV biasa, dan itu tidak efisien. Sekarang, sistem akan otomatis memberi peringatan kepada kapten jika terdeteksi potensi bahaya atau kelalaian,” jelas Arief.
Selain pengawasan kapal, ABL juga mengimplementasikan teknologi pemeliharaan prediktif berbasis Internet of Things (IoT) dan AI. Sensor dipasang pada mesin kapal untuk mengumpulkan data kondisi secara real-time, yang kemudian dianalisis guna mencegah kerusakan lebih dini.
“Misalnya jika terdeteksi viskositas oli turun atau ada kontaminan, teknisi dan kantor pusat langsung mendapat notifikasi. Ini mencegah kerusakan besar yang bisa menghentikan operasional,” ungkapnya.
Inovasi lain adalah pemasangan kamera berbasis AI di derek kapal untuk memantau kondisi operator. Sistem ini mampu mengenali tanda-tanda kelelahan atau kantuk, yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja.
“Kalau operator mulai terlihat mengantuk, sistem akan langsung mengirim alarm dan peringatan ke tim keamanan. Ini langkah preventif yang sangat penting,” tambahnya.
Baca Juga: Jakarta Sky Fun Run 2025 Pacu Sport Tourism dan Ekonomi Kreatif
Menurut Arief, langkah-langkah ini merupakan lompatan besar bagi perusahaan logistik maritim, terutama di sektor pertambangan, yang umumnya masih mengandalkan metode manual dan konvensional.
“Sebagai perusahaan yang sering dianggap 'kuli panggul' pertambangan, kami ingin tunjukkan bahwa AI bisa berdampak nyata dalam meningkatkan profesionalisme dan keselamatan kerja,” tegasnya.
Ia juga berharap transformasi digital ini bisa mendorong perusahaan-perusahaan lain di sektor serupa untuk mulai mengadopsi teknologi, agar industri logistik maritim Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global.
Chief Technology Officer PT Asian Bulk Logistics (ABL), Arief Setiawan, menyebut adopsi AI membawa perubahan signifikan dalam operasional perusahaan. ABL dikenal sebagai penyedia jasa logistik laut untuk angkutan batu bara, bauksit, dan nikel dari lokasi tambang ke kapal pengangkut curah.
“Secara historis, industri kami sangat tradisional. Tapi agar tetap kompetitif dan relevan, kami harus terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujar Arief dalam forum World AI Show 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (9/7).
Baca Juga: Berkat AI, Transjakarta Catat Lonjakan Penumpang Jadi 1,6 Juta per Hari
Salah satu terobosan utama yang diadopsi ABL adalah sistem Captain Eyes, sebuah solusi berbasis video analitik dan AI yang mampu memantau kondisi kapal selama 24 jam. Teknologi ini menggantikan sistem pemantauan manual yang terbatas waktu dan jangkauan.
“Dulu, kapten hanya mengandalkan CCTV biasa, dan itu tidak efisien. Sekarang, sistem akan otomatis memberi peringatan kepada kapten jika terdeteksi potensi bahaya atau kelalaian,” jelas Arief.
Selain pengawasan kapal, ABL juga mengimplementasikan teknologi pemeliharaan prediktif berbasis Internet of Things (IoT) dan AI. Sensor dipasang pada mesin kapal untuk mengumpulkan data kondisi secara real-time, yang kemudian dianalisis guna mencegah kerusakan lebih dini.
“Misalnya jika terdeteksi viskositas oli turun atau ada kontaminan, teknisi dan kantor pusat langsung mendapat notifikasi. Ini mencegah kerusakan besar yang bisa menghentikan operasional,” ungkapnya.
Inovasi lain adalah pemasangan kamera berbasis AI di derek kapal untuk memantau kondisi operator. Sistem ini mampu mengenali tanda-tanda kelelahan atau kantuk, yang berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja.
“Kalau operator mulai terlihat mengantuk, sistem akan langsung mengirim alarm dan peringatan ke tim keamanan. Ini langkah preventif yang sangat penting,” tambahnya.
Baca Juga: Jakarta Sky Fun Run 2025 Pacu Sport Tourism dan Ekonomi Kreatif
Menurut Arief, langkah-langkah ini merupakan lompatan besar bagi perusahaan logistik maritim, terutama di sektor pertambangan, yang umumnya masih mengandalkan metode manual dan konvensional.
“Sebagai perusahaan yang sering dianggap 'kuli panggul' pertambangan, kami ingin tunjukkan bahwa AI bisa berdampak nyata dalam meningkatkan profesionalisme dan keselamatan kerja,” tegasnya.
Ia juga berharap transformasi digital ini bisa mendorong perusahaan-perusahaan lain di sektor serupa untuk mulai mengadopsi teknologi, agar industri logistik maritim Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global.
(nng)
Lihat Juga :