Perang Dagang Makin Sengit, Trump Siapkan Tarif Impor 30% untuk Eropa dan Meksiko

Minggu, 13 Juli 2025 - 07:44 WIB
loading...
Perang Dagang Makin...
Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif impor terhadap produk-produk dari Meksiko dan Uni Eropa. FOTO/AP
A A A
JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana pemberlakuan tarif impor sebesar 30% terhadap produk-produk dari Meksiko dan Uni Eropa. Langkah ini merupakan bagian dari kampanye tarif global yang kembali digulirkannya sejak menjabat kembali pada Januari lalu.

Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Trump menyatakan bahwa AS tetap ingin bekerja sama dengan Uni Eropa, meski mencatat defisit perdagangan besar. "Kami memutuskan untuk melanjutkan kerja sama, tetapi hanya dengan perdagangan yang lebih seimbang dan adil," tulis Trump, seperti dikutip dari unggahannya di platform Truth Social dari CNN, Minggu (13/7).

Baca Juga: Nilai Dagang China-BRICS Tembus Rp10.489 Triliun, Indonesia dan Brasil Jadi Mitra Strategis

Trump telah menetapkan serangkaian tarif baru terhadap sejumlah mitra dagang AS tahun ini, namun kebijakan tersebut kerap berubah secara tiba-tiba naik, turun, atau ditangguhkan menyebabkan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi global maupun domestik.

Trump menetapkan bahwa semua impor dari Uni Eropa dan Meksiko akan dikenakan tarif 30% mulai 1 Agustus 2025, kecuali sektor tertentu seperti otomotif yang akan dikenai tarif 25%. Von der Leyen merespons dengan menegaskan bahwa Uni Eropa tetap terbuka untuk negosiasi hingga tenggat 1 Agustus. Namun, ia mengingatkan bahwa tarif tersebut akan mengganggu rantai pasok, pelaku usaha, dan konsumen di kedua belah pihak. Ia juga menyatakan bahwa UE siap menerapkan tindakan balasan jika diperlukan.

Presiden Prancis Emmanuel Macron turut mendesak Komisi Eropa untuk mempercepat persiapan langkah balasan yang tegas, termasuk menggunakan instrumen anti-koersi. Pernyataan Macron dan von der Leyen didukung sejumlah pejabat Uni Eropa lainnya dalam bentuk penolakan publik yang paling keras terhadap kebijakan perdagangan Trump sejauh ini.

Trump menyebut alasan utama pengenaan tarif adalah untuk menghentikan aliran fentanyl ke AS. Dalam surat kepada Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, ia menyatakan bahwa meski Meksiko telah membantu mengamankan perbatasan, upaya tersebut dianggap belum cukup.

Menteri Ekonomi Meksiko Marcelo Ebrard menyatakan, pemerintah Meksiko menilai tarif tersebut tidak adil dan sedang berupaya mencari alternatif bersama AS demi melindungi pelaku usaha dan lapangan kerja di kedua negara. Sheinbaum pun optimistis kesepakatan bisa dicapai sebelum tarif diberlakukan.

Baca Juga: Psywar Dimulai, Pejabat Iran Posting Gambar Israel Dibom Nuklir

Trump juga memperingatkan bahwa jika ada negara yang membalas kebijakan tarif ini, maka AS akan menaikkan kembali tarif setara dengan balasan tersebut. "Berapa pun angka yang Anda pilih untuk menaikkan tarif, akan kami tambahkan ke 30% yang kami kenakan," ujarnya.

Pemerintahan Trump secara khusus mengkritik kebijakan pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak layanan digital di sejumlah negara anggota Uni Eropa. Pajak ini dianggap memberatkan perusahaan digital AS karena dikenakan atas pendapatan kotor, termasuk dari iklan, langganan, hingga penjualan data.

Sebelumnya, Trump bahkan sempat mengancam akan memberlakukan tarif 50 persen terhadap produk dari Uni Eropa per 1 Juni jika tidak ada kemajuan dalam negosiasi. "Saya tidak sedang mencari kesepakatan," ujar dia dua bulan lalu.

Berdasarkan data Kantor Perwakilan Dagang AS, Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar dengan nilai perdagangan dua arah mencapai USD 976 miliar pada 2024, diikuti Meksiko sebesar USD 840 miliar dan Kanada USD762 miliar.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Mobil Buatan Amerika...
Mobil Buatan Amerika Serikat Dapat Ujian Besar di Pasar Jepang
Rekomendasi
Qatar Tersingkir dari...
Qatar Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Bosnia-Herzegovina Jaga Kans Lolos ke 32 Besar
Sinopsis Microdrama...
Sinopsis Microdrama Fall Into Sweet Trap di V+Short, Nikah Kontrak Berujung Cinta
Buku Sang Arsitek Presisi...
Buku Sang Arsitek Presisi Polri Ulas Kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit Prabowo
Berita Terkini
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Gandeng Mitra Global,...
Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
Kemenkop dan Rumah Energi...
Kemenkop dan Rumah Energi Dorong Koperasi Jadi Motor Transisi Energi
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
Infografis
3 Efek Tarif Impor Donald...
3 Efek Tarif Impor Donald Trump Terhadap Harga Emas Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved