1.000 Pekerja Muda Berpeluang Lanjut Kuliah di Luar Negeri Melalui Program ABCDE
Senin, 14 Juli 2025 - 20:13 WIB
loading...
Upaya meningkatkan daya saing tenaga kerja muda terus menguat di tengah persaingan global yang kian kompleks. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Upaya meningkatkan daya saing tenaga kerja muda terus menguat di tengah persaingan global yang kian kompleks. Salah satu upaya yang kini mengemuka adalah memberikan akses pendidikan tinggi bagi pekerja muda yang sebelumnya tertunda kuliah karena alasan ekonomi.
Fenomena pekerja muda kembali ke bangku sekolah tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga merambah ke berbagai daerah. Banyak lulusan SMA atau SMK yang telah bekerja selama beberapa tahun mulai mencari jalan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi demi memperluas peluang karier dan meningkatkan kompetensi.
Menjawab kebutuhan tersebut, berbagai inisiatif mulai bermunculan. Salah satunya adalah Program Beasiswa ABCDE yang diinisiasi Aristia Bachelor Collective Digital Education (ABCDE). Program ini menargetkan 1.000 warga Indonesia untuk melanjutkan kuliah di China dan Taiwan, khususnya bagi pekerja muda yang memiliki semangat belajar namun belum berkesempatan meraih gelar sarjana.
"Program ini kami hadirkan agar generasi muda Indonesia memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan internasional. Kami ingin memberi jalan bagi mereka yang sebelumnya terkendala biaya dan informasi," ujar pendiri ABCDE sekaligus Chief Marketing Officer Mazuta Group, Aristia Chen, dalam pernyataannya, Senin (14/7).
Baca Juga: 67 Ribu Lowongan Kerja Baru Bakal Tersedia, Luhut Singgung Perusahaan China
Aristia menyampaikan, program ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat berkuliah di Taiwan. Meski tidak menuntaskan studi karena kendala pribadi, ia merasakan betul bagaimana pendidikan dapat membuka banyak pintu kesempatan dalam hidup.
"Program ABCDE bukan hanya soal beasiswa. Kami juga menyediakan bootcamp intensif, sertifikasi nasional, pelatihan Bahasa Mandarin, hingga pendampingan untuk persiapan kuliah ke luar negeri," jelas Aristia. Ia menekankan bahwa pendekatan ABCDE berbasis pada semangat kolaboratif dan prinsip Society 5.0, di mana akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi hak semua orang.
Program ini secara khusus ditujukan untuk lulusan SMA/SMK yang sudah bekerja minimal dua tahun, belum memiliki gelar sarjana, dan tidak sedang menerima beasiswa lain. Prosesnya mencakup pendaftaran bootcamp, seleksi ketat, pelatihan bahasa, hingga pengurusan dokumen ke universitas mitra di China dan Taiwan.
Selain menargetkan pelajar berprestasi dari kalangan pekerja, ABCDE juga melihat tren positif dari peningkatan kualitas pendidikan tinggi di China serta besarnya anggaran riset dan inovasi yang terus dikembangkan negara tersebut. Hal ini dianggap menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia.
Baca Juga: Kemiskinan di Indonesia Melonjak 3 Kali Lipat, Nyaris Tembus 195 Juta Jiwa versi Bank Dunia
Pendidikan luar negeri dinilai memiliki nilai tambah dalam membekali generasi muda dengan perspektif global dan kemampuan lintas budaya. Di sisi lain, dunia usaha juga makin membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya terampil, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar global.
"Kami ingin menjadi jembatan agar para pekerja muda Indonesia bisa bermimpi lebih besar dan punya peluang setara untuk meraih pendidikan tinggi, terutama di negara-negara yang sudah terbukti memiliki sistem pendidikan berkualitas," tutup Aristia.
Fenomena pekerja muda kembali ke bangku sekolah tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga merambah ke berbagai daerah. Banyak lulusan SMA atau SMK yang telah bekerja selama beberapa tahun mulai mencari jalan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi demi memperluas peluang karier dan meningkatkan kompetensi.
Menjawab kebutuhan tersebut, berbagai inisiatif mulai bermunculan. Salah satunya adalah Program Beasiswa ABCDE yang diinisiasi Aristia Bachelor Collective Digital Education (ABCDE). Program ini menargetkan 1.000 warga Indonesia untuk melanjutkan kuliah di China dan Taiwan, khususnya bagi pekerja muda yang memiliki semangat belajar namun belum berkesempatan meraih gelar sarjana.
"Program ini kami hadirkan agar generasi muda Indonesia memiliki akses lebih luas terhadap pendidikan internasional. Kami ingin memberi jalan bagi mereka yang sebelumnya terkendala biaya dan informasi," ujar pendiri ABCDE sekaligus Chief Marketing Officer Mazuta Group, Aristia Chen, dalam pernyataannya, Senin (14/7).
Baca Juga: 67 Ribu Lowongan Kerja Baru Bakal Tersedia, Luhut Singgung Perusahaan China
Aristia menyampaikan, program ini terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat berkuliah di Taiwan. Meski tidak menuntaskan studi karena kendala pribadi, ia merasakan betul bagaimana pendidikan dapat membuka banyak pintu kesempatan dalam hidup.
"Program ABCDE bukan hanya soal beasiswa. Kami juga menyediakan bootcamp intensif, sertifikasi nasional, pelatihan Bahasa Mandarin, hingga pendampingan untuk persiapan kuliah ke luar negeri," jelas Aristia. Ia menekankan bahwa pendekatan ABCDE berbasis pada semangat kolaboratif dan prinsip Society 5.0, di mana akses terhadap ilmu pengetahuan menjadi hak semua orang.
Program ini secara khusus ditujukan untuk lulusan SMA/SMK yang sudah bekerja minimal dua tahun, belum memiliki gelar sarjana, dan tidak sedang menerima beasiswa lain. Prosesnya mencakup pendaftaran bootcamp, seleksi ketat, pelatihan bahasa, hingga pengurusan dokumen ke universitas mitra di China dan Taiwan.
Selain menargetkan pelajar berprestasi dari kalangan pekerja, ABCDE juga melihat tren positif dari peningkatan kualitas pendidikan tinggi di China serta besarnya anggaran riset dan inovasi yang terus dikembangkan negara tersebut. Hal ini dianggap menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa internasional, termasuk dari Indonesia.
Baca Juga: Kemiskinan di Indonesia Melonjak 3 Kali Lipat, Nyaris Tembus 195 Juta Jiwa versi Bank Dunia
Pendidikan luar negeri dinilai memiliki nilai tambah dalam membekali generasi muda dengan perspektif global dan kemampuan lintas budaya. Di sisi lain, dunia usaha juga makin membutuhkan tenaga kerja yang tidak hanya terampil, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi dan pasar global.
"Kami ingin menjadi jembatan agar para pekerja muda Indonesia bisa bermimpi lebih besar dan punya peluang setara untuk meraih pendidikan tinggi, terutama di negara-negara yang sudah terbukti memiliki sistem pendidikan berkualitas," tutup Aristia.
(nng)
Lihat Juga :