BRICS Diserang Tarif Tinggi, India Ambil Sikap Lawan Proteksionisme AS

Kamis, 17 Juli 2025 - 07:49 WIB
loading...
BRICS Diserang Tarif...
Perdana Menteri India, Narendra Modi, berbicara pada KTT BRICS di Johannesburg, Afrika Selatan, pada bulan Agustus 2023. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Kebijakan ekonomi proteksionis Amerika Serikat (AS) yang kian agresif di bawah Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan dunia. Melalui pengumuman tarif impor 10% untuk negara-negara anggota BRICS, serta ancaman tarif hingga 200% pada produk farmasi, AS diyakini sedang menekan blok ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia, termasuk India.

Langkah tarif baru ini tidak hanya berdampak pada sektor perdagangan global, tetapi juga meningkatkan risiko terjadinya perang dagang antara AS dan India. BRICS merupakan blok yang menyumbang lebih dari 32% produk domestik bruto (PDB) dunia sekaligus lebih dari 40% populasi global.

Baca Juga: 150 Media dari 136 Negara Tingkatkan Kerjasama Global South melalui BRICS

Data Kantor Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR) menunjukkan nilai impor agregat AS dari negara-negara BRICS mencapai USD886 miliar. Dengan penerapan tarif 10%, beban bea masuk tambahan diperkirakan mencapai lebih dari USD88 miliar, berpotensi menghambat ekspansi ekonomi dan upaya negara-negara BRICS untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

Nasionalisme ekonomi yang menguat di bawah Trump terutama menargetkan ekspor farmasi India. Tahun 2024–2025, ekspor farmasi India ke AS tercatat sebesar USD9,8 miliar atau sekitar 30% dari total ekspor produk farmasi India. Tarif setinggi 200% dikhawatirkan akan melambungkan harga obat di pasar Amerika, mengganggu rantai pasok global, dan memicu kekurangan di sektor kesehatan AS.

Kenaikan harga ini diprediksi paling dirasakan oleh konsumen, terutama mereka yang menerima manfaat program kesehatan pemerintah seperti Medicare dan Medicaid. Negara bagian seperti Texas, California, dan Florida disebut menjadi wilayah terdampak signifikan, seiring tingginya nilai pengiriman obat dari India ke wilayah tersebut.

Eskalasi kebijakan tarif terhadap negara-negara BRICS tidak berhenti pada sektor farmasi. Ekspor tembaga India senilai USD2 miliar juga terancam tarif hingga 50%, di mana As menyumbang sekitar USD360 juta dari nilai ekspor itu. Sektor manufaktur utama di Gujarat dan Tamil Nadu pun kini menghadapi ancaman menurunnya daya saing akibat proteksionisme AS.

Proposal perdagangan India dengan nilai USD150 hingga USD200 miliar kini berada di tengah ketidakpastian. Dikutip dari Watcher Guru, India telah menyatakan tidak akan memberikan konsesi lebih lanjut, menunjukkan sikap tegas menghadapi tekanan negosiasi dari Washington.

Baca Juga: Trump Ogah Bayar Utang AS Rp594.000 Triliun, Negara-negara Ini Paling Dirugikan

Skenario ini dinilai dapat mempercepat strategi diversifikasi perdagangan dengan mendorong negara-negara BRICS untuk lebih memperkuat transaksi lintas batas dalam mata uang lokal, sebagai langkah mengurangi dominasi sistem dolar dalam hubungan ekonomi global.

Nasionalisme ekonomi Amerika Serikat yang semakin kentara ini diyakini akan mempengaruhi tatanan perdagangan dunia, menuntut negara berkembang termasuk Indonesia untuk terus mewaspadai dampak lanjutan terhadap stabilitas ekonomi nasionalnya. Pada akhirnya, kebijakan tarif tinggi seperti yang diberlakukan Trump berpotensi menjadi pedang bermata dua, bukan tidak mungkin justru menurunkan daya saing ekonomi AS sendiri serta menumbuhkan aliansi ekonomi baru di luar cengkeraman dolar.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Trump: Produsen Mobil...
Trump: Produsen Mobil AS Bisa Produksi Rudal
Trump Batasi Israel...
Trump Batasi Israel di Berbagai Bidang, Tak Hanya di Lebanon
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Rekomendasi
Garda Prabowo: Penyampaian...
Garda Prabowo: Penyampaian Mahasiswa dalam Aksi Demonstrasi Kurang Beradab
Roy Suryo Ajukan Praperadilan...
Roy Suryo Ajukan Praperadilan terkait Penggeledahan
Kolombia Pecundangi...
Kolombia Pecundangi RD Kongo, Daniel Munoz Cetak Gol Penentu Kemenangan
Berita Terkini
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
MNC Sekuritas Gelar...
MNC Sekuritas Gelar SPM Level 2 Bersama IBI Kesatuan Bogor: Mengenal Analisis Teknikal
IHSG Pagi Ini Dibuka...
IHSG Pagi Ini Dibuka Menguat 0,44 Persen ke Level 6.128
MSCI Tahan Status Emerging...
MSCI Tahan Status Emerging Market Indonesia, OJK Pastikan Reformasi Pasar Modal Jalan Terus
Hasil RUPST MNC Energy...
Hasil RUPST MNC Energy Investments untuk Tahun Buku 2025
Pasar Modal RI Terancam...
Pasar Modal RI Terancam Turun Kasta ke Frontier Market, MSCI Ultimatum hingga November 2026
Infografis
Profil Ayatollah Ali...
Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang Tewas Diserang AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved