Aksi China Buang Dolar Terus Berlanjut, Sepanjang April Lepas Obligasi AS Rp133 Triliun
Rabu, 23 Juli 2025 - 15:24 WIB
loading...
Pemerintah China kembali melepas surat utang dan obligasi pemerintah AS dalam jumlah besar. FOTO/europeanconservative
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah China kembali melepas surat utang dan obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dalam jumlah besar. Sepanjang April 2025, China telah menjual hampir USD8,2 miliar atau setara Rp133 triliun aset Treasury AS, sebagai bagian dari strategi diversifikasi cadangan devisa mereka yang kini lebih difokuskan pada emas.
Langkah tersebut menandai bulan ketiga berturut-turut China memangkas kepemilikan surat utang AS. Dalam periode tersebut, bank sentral China tercatat telah membeli emas senilai total USD247,8 miliar. Gerakan ini menunjukkan upaya negara anggota BRICS ini melepaskan ketergantungan terhadap aset-aset keuangan dalam denominasi dolar AS.
Baca Juga: China Undang 30 Negara Bahas Dedolarisasi, Pimpin Langkah Global Akhiri Dominasi Dolar AS
Tidak hanya China, negara-negara anggota BRICS lainnya termasuk India, Rusia, Brasil, Afrika Selatan, dan Mesir juga tercatat mengurangi kepemilikan surat utang AS sejak tahun lalu. Sebagai gantinya, mereka memperkuat cadangan devisa dengan emas, yang nilainya melonjak tajam sepanjang 2025.
Dikutip dari Watcher Guru, harga emas kini telah menembus level USD3.400 per troy ounce, sekaligus meningkatkan nilai cadangan devisa negara-negara BRICS. Sebaliknya, indeks dolar AS (DXY) terus melemah bahkan telah turun di bawah kisaran 98 menunjukkan penurunan sentimen terhadap mata uang tersebut.
Aksi jual ini muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan tarif besar terhadap sejumlah negara pada awal April. Kebijakan proteksionis itu diyakini menjadi pemicu langkah balasan dari China dan negara BRICS lainnya dalam bentuk pelepasan surat utang AS.
Data Departemen Keuangan AS menunjukkan, kepemilikan surat utang AS oleh China pada April 2025 turun menjadi USD757 miliar. Padahal pada tahun fiskal 2012–2013, angkanya sempat mencapai USD1.350 miliar. Dalam kurun 13 tahun, terjadi penurunan drastis sebesar 44%.
Pelepasan besar surat utang dalam skala besar, posisi China sebagai pemegang utang AS kini berada di urutan ketiga, di bawah Jepang dan Inggris. Jika tren ini berlanjut dan diikuti negara berkembang lainnya, AS bisa menghadapi tantangan besar dalam pembiayaan defisit fiskalnya.
Langkah China ini bukan hanya mengalihkan investasi ke emas, tetapi juga memperluas portofolio cadangan devisa mereka ke mata uang lokal negara-negara mitra dagang utama. Strategi ini dimaksudkan untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam sistem keuangan internasional.
Profesor ekonomi dari Universitas Shanghai, Xi Junyang, mengatakan kepada Global Times bahwa penurunan kepemilikan surat utang AS mencerminkan keinginan China untuk menyeimbangkan alokasi cadangan devisa.
"Aksi jual seperti ini kemungkinan akan terjadi secara rutin, mengingat tren pengurangan Treasury telah dimulai sejak 2022," ujarnya.
Baca Juga: Sosok Mimi Yuliana Maeloa, Cucu Miliarder Indonesia yang Beli Rumah Mewah Rp317,9 Miliar di Singapura
Menurut Xi, keputusan tersebut juga berlandaskan pada pertimbangan risiko geopolitik dan stabilitas jangka panjang. Ketergantungan berlebihan terhadap dolar AS dinilai tidak lagi menguntungkan bagi strategi keuangan jangka panjang negara.
Efek dari aksi pelepasan ini telah dirasakan di pasar global. Investor mulai mengalihkan portofolionya ke aset-aset non-dolar seperti emas dan mata uang regional. Gejolak di pasar keuangan pun diprediksi akan terus berlanjut selama ketegangan geopolitik dan perang dagang belum mereda.
Langkah tersebut menandai bulan ketiga berturut-turut China memangkas kepemilikan surat utang AS. Dalam periode tersebut, bank sentral China tercatat telah membeli emas senilai total USD247,8 miliar. Gerakan ini menunjukkan upaya negara anggota BRICS ini melepaskan ketergantungan terhadap aset-aset keuangan dalam denominasi dolar AS.
Baca Juga: China Undang 30 Negara Bahas Dedolarisasi, Pimpin Langkah Global Akhiri Dominasi Dolar AS
Tidak hanya China, negara-negara anggota BRICS lainnya termasuk India, Rusia, Brasil, Afrika Selatan, dan Mesir juga tercatat mengurangi kepemilikan surat utang AS sejak tahun lalu. Sebagai gantinya, mereka memperkuat cadangan devisa dengan emas, yang nilainya melonjak tajam sepanjang 2025.
Dikutip dari Watcher Guru, harga emas kini telah menembus level USD3.400 per troy ounce, sekaligus meningkatkan nilai cadangan devisa negara-negara BRICS. Sebaliknya, indeks dolar AS (DXY) terus melemah bahkan telah turun di bawah kisaran 98 menunjukkan penurunan sentimen terhadap mata uang tersebut.
Aksi jual ini muncul tak lama setelah Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan tarif besar terhadap sejumlah negara pada awal April. Kebijakan proteksionis itu diyakini menjadi pemicu langkah balasan dari China dan negara BRICS lainnya dalam bentuk pelepasan surat utang AS.
Data Departemen Keuangan AS menunjukkan, kepemilikan surat utang AS oleh China pada April 2025 turun menjadi USD757 miliar. Padahal pada tahun fiskal 2012–2013, angkanya sempat mencapai USD1.350 miliar. Dalam kurun 13 tahun, terjadi penurunan drastis sebesar 44%.
Pelepasan besar surat utang dalam skala besar, posisi China sebagai pemegang utang AS kini berada di urutan ketiga, di bawah Jepang dan Inggris. Jika tren ini berlanjut dan diikuti negara berkembang lainnya, AS bisa menghadapi tantangan besar dalam pembiayaan defisit fiskalnya.
Langkah China ini bukan hanya mengalihkan investasi ke emas, tetapi juga memperluas portofolio cadangan devisa mereka ke mata uang lokal negara-negara mitra dagang utama. Strategi ini dimaksudkan untuk mengurangi dominasi dolar AS dalam sistem keuangan internasional.
Profesor ekonomi dari Universitas Shanghai, Xi Junyang, mengatakan kepada Global Times bahwa penurunan kepemilikan surat utang AS mencerminkan keinginan China untuk menyeimbangkan alokasi cadangan devisa.
"Aksi jual seperti ini kemungkinan akan terjadi secara rutin, mengingat tren pengurangan Treasury telah dimulai sejak 2022," ujarnya.
Baca Juga: Sosok Mimi Yuliana Maeloa, Cucu Miliarder Indonesia yang Beli Rumah Mewah Rp317,9 Miliar di Singapura
Menurut Xi, keputusan tersebut juga berlandaskan pada pertimbangan risiko geopolitik dan stabilitas jangka panjang. Ketergantungan berlebihan terhadap dolar AS dinilai tidak lagi menguntungkan bagi strategi keuangan jangka panjang negara.
Efek dari aksi pelepasan ini telah dirasakan di pasar global. Investor mulai mengalihkan portofolionya ke aset-aset non-dolar seperti emas dan mata uang regional. Gejolak di pasar keuangan pun diprediksi akan terus berlanjut selama ketegangan geopolitik dan perang dagang belum mereda.
(nng)
Lihat Juga :