Diversifikasi Pangan Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Kamis, 10 September 2020 - 12:15 WIB
loading...
A
A
A
Saat ini setiap provinsi difokuskan memproduksi panganan lokal selain beras. Ada enam komoditas pangan di antaranya ubi kayu, jagung, sagu, pisang, kentang, dan sorgum. “Secara konsistem menggalakkan diversifikasi pangan di wilayah masing-masing dan menjadi sebuah gerakan, bahkan di pekarangan rumah,” kata Riwantoro.
Dalam lima tahun ke depan, Kementan menargetkan penurunan konsumsi beras nasional sebesar 7%. Khusus 2020 rata-rata konsumsi beras ditargetkan turun ke posisi 92,9 per kg per kapita per tahun dari posisi tahun lalu sebesar 94,9 per kg per kapita per tahun.
Hingga 2024 mendatang, ditargetkan konsumsi sudah turun 7% ke posisi 85 per kg per kapita per tahun. Penurunan itu setara 1,77 juta ton senilai Rp17,78 triliun. Namun, dengan catatan, penurunan konsumsi beras bisa dicapai asalkan ada intervensi dari pemerintah. Tanpa intervensi, penurunan konsumsi beras hanya mampu mencapai posisi 91,2 per kg per kapita per tahun. (Lihat videonya: Limbah Medis Rumah Sakit Mencemari Sungai Cisadane)
“Kami targetkan ada satu penurunan pangan beras kita dan itu harus diikuti dengan kenaikan konsumsi pangan lokalnya. Peluang diversifikasi besar karena masyarakat ingin hidup sehat dan terdapat peluang bisnis UMKM,” ujarnya.
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB University Sahara menuturkan, pandemi Covid-19 menjadi momentum tepat untuk mempercepat diversifikasi pangan. Karena itu, pola pandang harus diubah bahwa beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Karena selama ini pemerintah masih terlalu fokus pada pengembangan pangan jenis beras. Padahal Indonesia memiliki ragam jenis pangan berlimpah. (Sudarsono)
Dalam lima tahun ke depan, Kementan menargetkan penurunan konsumsi beras nasional sebesar 7%. Khusus 2020 rata-rata konsumsi beras ditargetkan turun ke posisi 92,9 per kg per kapita per tahun dari posisi tahun lalu sebesar 94,9 per kg per kapita per tahun.
Hingga 2024 mendatang, ditargetkan konsumsi sudah turun 7% ke posisi 85 per kg per kapita per tahun. Penurunan itu setara 1,77 juta ton senilai Rp17,78 triliun. Namun, dengan catatan, penurunan konsumsi beras bisa dicapai asalkan ada intervensi dari pemerintah. Tanpa intervensi, penurunan konsumsi beras hanya mampu mencapai posisi 91,2 per kg per kapita per tahun. (Lihat videonya: Limbah Medis Rumah Sakit Mencemari Sungai Cisadane)
“Kami targetkan ada satu penurunan pangan beras kita dan itu harus diikuti dengan kenaikan konsumsi pangan lokalnya. Peluang diversifikasi besar karena masyarakat ingin hidup sehat dan terdapat peluang bisnis UMKM,” ujarnya.
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi IPB University Sahara menuturkan, pandemi Covid-19 menjadi momentum tepat untuk mempercepat diversifikasi pangan. Karena itu, pola pandang harus diubah bahwa beras bukan satu-satunya sumber karbohidrat. Karena selama ini pemerintah masih terlalu fokus pada pengembangan pangan jenis beras. Padahal Indonesia memiliki ragam jenis pangan berlimpah. (Sudarsono)
(ysw)
Lihat Juga :