Menghidupkan Kembali Semangat Pertamina untuk Indonesia Berdaulat Energi
Jum'at, 25 Juli 2025 - 18:13 WIB
loading...
Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi (PHE), Denny JA menyuarakan dorongan kuat untuk mengembalikan kejayaan Pertamina seperti era keemasannya di dekade 1970-an. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi (PHE), Denny JA menyuarakan dorongan kuat untuk mengembalikan kejayaan Pertamina seperti era keemasannya di dekade 1970-an. Dalam pertemuan intens bersama Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, dan jajaran direksi PHE, ia menggagas visi besar bertajuk “Make Pertamina Great Again”.
“Pertamina bukan hanya entitas bisnis, melainkan simbol kemandirian bangsa. Ini mandat peradaban,” ujar Denny dalam keterangannya, Jumat (25/7/2025).
Baca Juga: Pertamina Hulu Energi Temukan Cadangan Migas P1 12,41 Juta Barel
Menurut Denny, Pertamina di masa lampau pernah mencapai produksi minyak 1,2 juta barel per hari di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo. Namun kini produksi hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Padahal, Petronas -perusahaan minyak Malaysia yang dulu belajar dari Pertamina- justru berkembang menjadi pemain global yang efisien dan transparan.
Dalam pertemuan empat mata bersama Dirut Simon Mantiri, disepakati tiga agenda besar untuk membangkitkan Pertamina:
1. Target Produksi 1 Juta Barel per Hari
Dengan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), sinergi eksplorasi dan percepatan perizinan, Denny meyakini target ini bukan utopia.
2. Pelibatan Swasta dalam Koridor Nasionalisme
Dunia usaha diharapkan masuk lebih luas ke sektor hulu migas, namun tetap dalam prinsip transparansi, pengawasan ketat, dan keberpihakan pada kepentingan nasional.
3. Membangun Ekosistem Energi yang Berkeadilan
Denny menekankan pentingnya keadilan sosial dalam kebangkitan energi. CSR Pertamina harus menjangkau masyarakat lokal, pendidikan, hingga pelestarian budaya.
![Menghidupkan Kembali Semangat Pertamina untuk Indonesia Berdaulat Energi]()
Tak hanya soal teknis produksi, Denny juga menggagas aspek budaya sebagai bagian dari kebangkitan Pertamina. Ia mengusulkan inisiatif seperti “Pertamina Peduli Budaya” dalam bentuk festival tahunan yang merangkul film, musik, dan sastra.
“Kebangkitan energi tak boleh hanya teknokratis. Harus berakar pada imajinasi bangsa,” tegasnya.
Dalam kesempatan terpisah, Denny juga berdiskusi dengan Dirut PHE Awang Lazuardi untuk menyusun langkah-langkah non-konvensional. Ia mengusulkan, insentif fiskal untuk investor EOR, platform monitoring pengadaan secara real-time, serta penyederhanaan izin melalui fast-track policy berbasis UU khusus.
Baca Juga: Daftar Lengkap 30 Komisaris BUMN Merangkap Wakil Menteri, Terbaru Taufik Hidayat
Menurut Denny, kemandirian energi hanya bisa dicapai lewat ekosistem kolaboratif. Ia bahkan menggambarkan tim Dewan Komisaris PHE sebagai “The Fantastic Eight”, mengacu pada kekuatan kolektif delapan tokoh yang mengisi posisi strategis tersebut.
Sebagai bagian dari visi jangka panjang, Denny juga mengusulkan pembentukan Pertamina Energy Innovation Hub, yang menggabungkan akademisi, startup energi, dan industri untuk mendorong riset dan teknologi energi bersih, seperti biofuel, geotermal, dan surya.
“Pertamina harus bergerak menuju energi hijau. Ini bukan hanya soal cuaca global, tapi posisi strategis Indonesia sebagai pionir energi bersih di Asia Tenggara,” pungkasnya.
“Pertamina bukan hanya entitas bisnis, melainkan simbol kemandirian bangsa. Ini mandat peradaban,” ujar Denny dalam keterangannya, Jumat (25/7/2025).
Baca Juga: Pertamina Hulu Energi Temukan Cadangan Migas P1 12,41 Juta Barel
Menurut Denny, Pertamina di masa lampau pernah mencapai produksi minyak 1,2 juta barel per hari di bawah kepemimpinan Ibnu Sutowo. Namun kini produksi hanya sekitar 600 ribu barel per hari. Padahal, Petronas -perusahaan minyak Malaysia yang dulu belajar dari Pertamina- justru berkembang menjadi pemain global yang efisien dan transparan.
Dalam pertemuan empat mata bersama Dirut Simon Mantiri, disepakati tiga agenda besar untuk membangkitkan Pertamina:
1. Target Produksi 1 Juta Barel per Hari
Dengan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), sinergi eksplorasi dan percepatan perizinan, Denny meyakini target ini bukan utopia.
2. Pelibatan Swasta dalam Koridor Nasionalisme
Dunia usaha diharapkan masuk lebih luas ke sektor hulu migas, namun tetap dalam prinsip transparansi, pengawasan ketat, dan keberpihakan pada kepentingan nasional.
3. Membangun Ekosistem Energi yang Berkeadilan
Denny menekankan pentingnya keadilan sosial dalam kebangkitan energi. CSR Pertamina harus menjangkau masyarakat lokal, pendidikan, hingga pelestarian budaya.

Tak hanya soal teknis produksi, Denny juga menggagas aspek budaya sebagai bagian dari kebangkitan Pertamina. Ia mengusulkan inisiatif seperti “Pertamina Peduli Budaya” dalam bentuk festival tahunan yang merangkul film, musik, dan sastra.
“Kebangkitan energi tak boleh hanya teknokratis. Harus berakar pada imajinasi bangsa,” tegasnya.
Dalam kesempatan terpisah, Denny juga berdiskusi dengan Dirut PHE Awang Lazuardi untuk menyusun langkah-langkah non-konvensional. Ia mengusulkan, insentif fiskal untuk investor EOR, platform monitoring pengadaan secara real-time, serta penyederhanaan izin melalui fast-track policy berbasis UU khusus.
Baca Juga: Daftar Lengkap 30 Komisaris BUMN Merangkap Wakil Menteri, Terbaru Taufik Hidayat
Menurut Denny, kemandirian energi hanya bisa dicapai lewat ekosistem kolaboratif. Ia bahkan menggambarkan tim Dewan Komisaris PHE sebagai “The Fantastic Eight”, mengacu pada kekuatan kolektif delapan tokoh yang mengisi posisi strategis tersebut.
Sebagai bagian dari visi jangka panjang, Denny juga mengusulkan pembentukan Pertamina Energy Innovation Hub, yang menggabungkan akademisi, startup energi, dan industri untuk mendorong riset dan teknologi energi bersih, seperti biofuel, geotermal, dan surya.
“Pertamina harus bergerak menuju energi hijau. Ini bukan hanya soal cuaca global, tapi posisi strategis Indonesia sebagai pionir energi bersih di Asia Tenggara,” pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :