Promosikan Potensi Herbal Lokal, SIG Bawa UMKM Rembang Tembus Pasar Nasional
Senin, 28 Juli 2025 - 09:25 WIB
loading...
Sekelompok ibu rumah tangga di Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berhasil mengolah hasil panen tanaman herbal menjadi produk minuman kesehatan bernilai jual tinggi. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Sekelompok ibu rumah tangga di Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, berhasil mengolah hasil panen tanaman herbal menjadi produk minuman kesehatan bernilai jual tinggi. Di bawah binaan Rumah BUMN PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) di Kabupaten Rembang, Kelompok Wanita Tani (KWT) Annisa sukses memasarkan produk herbal hingga ke luar Pulau Jawa, mencatatkan omzet hingga Rp100 juta per tahun.
Sejak berdiri pada tahun 2017, KWT Annisa yang beranggotakan 31 ibu rumah tangga telah memproduksi berbagai produk olahan tanaman herbal dan pangan lokal, seperti minuman sirup, serbuk jahe, temulawak, kunyit, dan minuman khas berbahan buah kawis. Semua produk diolah dari bahan baku alami yang berasal dari petani lokal di sekitar Desa Glebeg.
Baca Juga: SIG Pasok Kebutuhan 29.990 Ton Semen untuk Pembangunan Tol Bocimi
Ketua KWT Annisa, Rutiah, mengungkapkan dukungan Rumah BUMN Rembang yang telah membantu pertumbuhan bisnis mereka sejak tahun 2022. Wanita berusia 50 tahun ini menyatakan bahwa RB Rembang berperan besar dalam mendorong KWT Annisa untuk memproduksi minuman herbal. Mereka tidak hanya dibekali kemampuan mengelola usaha secara administratif dan bisnis, tetapi juga diperkuat dalam branding dan pemasaran agar produk mereka semakin dikenal.
"Awalnya kami hanya ingin memanfaatkan hasil pekarangan agar tidak terbuang percuma. Dari dapur yang sederhana, kami mulai belajar mengolah menjadi produk bernilai jual. Setelah bergabung dengan RB Rembang, peluang kami semakin terbuka. Kami diberikan pelatihan, dibantu promosi, dan jejaring usaha semakin luas," ujar Rutiah dalam pernyataannya, Senin (28/7).
Rutiah menjelaskaN, usaha yang dirintis sejak tahun 2017 dengan modal awal Rp500 ribu ini dikerjakan dengan alat memasak sederhana. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing, mereka dapat menghasilkan hingga 100 kilogram bahan baku seperti jahe, kunyit, dan buah kawis, yang dapat diolah menjadi sekitar 100 botol produk per minggu. Produk mereka mulai dikenal di pasar tradisional dan merambah jejaring UMKM di Kabupaten Rembang.
Seiring meningkatnya permintaan, KWT Annisa berinisiatif menjalin kerja sama dengan petani lokal dan sesama pelaku UMKM di Rembang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, terutama menjelang momen seperti Lebaran, di mana kapasitas produksi bisa meningkat tiga kali lipat.
Kini, produk minuman jahe, temulawak, dan sari buah kawis dari KWT Annisa tidak hanya dipasarkan di wilayah Rembang, tetapi juga menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk Yogyakarta, Semarang, Surakarta, dan Surabaya. Dengan dukungan e-commerce dan jaringan reseller, produk KWT Annisa bahkan mampu menjangkau pemasaran di luar Jawa, seperti Kalimantan.
Baca Juga: SIG Berdayakan 879 Perempuan Ubah Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik
Dengan racikan otentik berbahan herbal dan harga terjangkau mulai dari Rp10 ribu hingga Rp40 ribu per kemasan, produk KWT Annisa kini meraih omzet rata-rata Rp10 juta per bulan, atau melebihi Rp100 juta per tahun.
"Sebagai pelaku usaha, saya sangat merasakan manfaat dari keberadaan RB Rembang. Kami mendapat banyak dukungan, mulai dari pelatihan hingga promosi produk. Saya sangat berterima kasih kepada SIG dan RB Rembang. Harapan saya, para pelaku UMKM dapat terus berkembang dan sukses bersama," ungkap Rutiah.
Sementara, Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa SIG mendukung penuh penguatan peran perempuan dalam ekonomi masyarakat desa sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
"SIG percaya bahwa perempuan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Melalui pembinaan UMKM, kami mendorong lebih banyak kelompok usaha perempuan agar dapat tumbuh mandiri, naik kelas, dan berdaya saing di pasar yang lebih luas. SIG akan terus mendampingi UMKM, terutama pelaku perempuan, agar semakin tangguh dan mampu memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya," ujar Vita.
Sejak berdiri pada tahun 2017, KWT Annisa yang beranggotakan 31 ibu rumah tangga telah memproduksi berbagai produk olahan tanaman herbal dan pangan lokal, seperti minuman sirup, serbuk jahe, temulawak, kunyit, dan minuman khas berbahan buah kawis. Semua produk diolah dari bahan baku alami yang berasal dari petani lokal di sekitar Desa Glebeg.
Baca Juga: SIG Pasok Kebutuhan 29.990 Ton Semen untuk Pembangunan Tol Bocimi
Ketua KWT Annisa, Rutiah, mengungkapkan dukungan Rumah BUMN Rembang yang telah membantu pertumbuhan bisnis mereka sejak tahun 2022. Wanita berusia 50 tahun ini menyatakan bahwa RB Rembang berperan besar dalam mendorong KWT Annisa untuk memproduksi minuman herbal. Mereka tidak hanya dibekali kemampuan mengelola usaha secara administratif dan bisnis, tetapi juga diperkuat dalam branding dan pemasaran agar produk mereka semakin dikenal.
"Awalnya kami hanya ingin memanfaatkan hasil pekarangan agar tidak terbuang percuma. Dari dapur yang sederhana, kami mulai belajar mengolah menjadi produk bernilai jual. Setelah bergabung dengan RB Rembang, peluang kami semakin terbuka. Kami diberikan pelatihan, dibantu promosi, dan jejaring usaha semakin luas," ujar Rutiah dalam pernyataannya, Senin (28/7).
Rutiah menjelaskaN, usaha yang dirintis sejak tahun 2017 dengan modal awal Rp500 ribu ini dikerjakan dengan alat memasak sederhana. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing, mereka dapat menghasilkan hingga 100 kilogram bahan baku seperti jahe, kunyit, dan buah kawis, yang dapat diolah menjadi sekitar 100 botol produk per minggu. Produk mereka mulai dikenal di pasar tradisional dan merambah jejaring UMKM di Kabupaten Rembang.
Seiring meningkatnya permintaan, KWT Annisa berinisiatif menjalin kerja sama dengan petani lokal dan sesama pelaku UMKM di Rembang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku, terutama menjelang momen seperti Lebaran, di mana kapasitas produksi bisa meningkat tiga kali lipat.
Kini, produk minuman jahe, temulawak, dan sari buah kawis dari KWT Annisa tidak hanya dipasarkan di wilayah Rembang, tetapi juga menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk Yogyakarta, Semarang, Surakarta, dan Surabaya. Dengan dukungan e-commerce dan jaringan reseller, produk KWT Annisa bahkan mampu menjangkau pemasaran di luar Jawa, seperti Kalimantan.
Baca Juga: SIG Berdayakan 879 Perempuan Ubah Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik
Dengan racikan otentik berbahan herbal dan harga terjangkau mulai dari Rp10 ribu hingga Rp40 ribu per kemasan, produk KWT Annisa kini meraih omzet rata-rata Rp10 juta per bulan, atau melebihi Rp100 juta per tahun.
"Sebagai pelaku usaha, saya sangat merasakan manfaat dari keberadaan RB Rembang. Kami mendapat banyak dukungan, mulai dari pelatihan hingga promosi produk. Saya sangat berterima kasih kepada SIG dan RB Rembang. Harapan saya, para pelaku UMKM dapat terus berkembang dan sukses bersama," ungkap Rutiah.
Sementara, Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa SIG mendukung penuh penguatan peran perempuan dalam ekonomi masyarakat desa sebagai bagian dari komitmen perusahaan terhadap pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
"SIG percaya bahwa perempuan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Melalui pembinaan UMKM, kami mendorong lebih banyak kelompok usaha perempuan agar dapat tumbuh mandiri, naik kelas, dan berdaya saing di pasar yang lebih luas. SIG akan terus mendampingi UMKM, terutama pelaku perempuan, agar semakin tangguh dan mampu memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat di sekitarnya," ujar Vita.
(nng)
Lihat Juga :