Masyarakat Didorong Kritis terhadap Depot Air Minum Isi Ulang
Selasa, 29 Juli 2025 - 09:49 WIB
loading...
Edukasi publik bertajuk Indonesia Sehat Mulai dari Air Bermutu 2025 di Pondok Pinang, Jakarta Selatan. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Air yang tampak jernih belum tentu aman untuk dikonsumsi. Pesan ini kembali ditegaskan Yayasan Jiva Svastha Nusantara dalam kegiatan edukasi publik bertajuk Indonesia Sehat Mulai dari Air Bermutu 2025, yang digelar di kantor Kelurahan Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Program ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya air minum isi ulang yang tidak memenuhi standar kesehatan dan sanitasi. Sebagian besar masyarakat perkotaan masih menggantungkan kebutuhan air konsumsi harian pada depot isi ulang, meski operasional sebagian besar depot masih jauh dari ketentuan yang seharusnya.
Baca Juga: 7 Cara Memilih Air Mineral yang Sehat dan Aman untuk Kesehatan
Beberapa permasalahan yang kerap ditemukan antara lain penggunaan air baku dari sumber yang tidak berizin, penggunaan galon bermerek tanpa izin resmi, hingga tidak adanya uji laboratorium berkala. Hal-hal ini kerap luput dari perhatian konsumen yang menganggap air isi ulang sudah pasti aman.
Sanitarian Ahli Muda dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Wuhgini, menyebutkan depot air minum seharusnya melakukan uji mikrobiologi setiap bulan, serta uji fisika dan kimia minimal setiap enam bulan atau satu tahun sekali, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan.
"Masyarakat jangan segan menanyakan ke depot air isi ulang, apakah airnya rutin diuji di laboratorium atau tidak. Banyak depot hanya melakukan tes saat awal buka, padahal itu tidak cukup," ujarnya.
Ia juga menyoroti masih adanya depot yang menggunakan air baku dari sumber tidak resmi dan tidak menguji kualitas airnya secara berkala. Menyimpan air dalam jumlah besar pun dinilai berisiko karena bisa meningkatkan potensi kontaminasi mikroba.
Selain itu, Wuhgini menegaskan penggunaan galon bermerek tanpa izin juga melanggar hukum. "Depot tidak boleh memakai galon dengan merek dagang. Harusnya mereka menyediakan wadah polos yang tidak menyesatkan konsumen," tambahnya.
Kegiatan ini juga menyoroti dampak kesehatan dari konsumsi air terkontaminasi. Kepala Bidang Hukum dan Advokasi Kebijakan Yayasan Jiva Svastha Nusantara, Surya Putra, menjelaskan, air tidak layak konsumsi dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit, termasuk hepatitis A.
"Hepatitis A bisa ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Jika air dari depot tidak higienis, maka risiko penularan sangat tinggi," jelasnya.
Baca Juga: Pelaku Usaha Depot Air Minum Didorong Perbaiki Praktik Bisnis
Ia menambahkan, infeksi hepatitis A bisa berdampak serius, terutama bagi ibu hamil dan janin. Selain itu, diare yang sering kali disebabkan oleh air yang tidak aman juga berpengaruh terhadap penyerapan nutrisi dan berpotensi menyebabkan stunting.
"Kita tidak sedang membahas hanya soal sanitasi. Ini menyangkut masa depan generasi bangsa. Air yang kotor bisa langsung merusak kualitas hidup anak-anak," tegas Surya.
Melalui kampanye ini, Yayasan Jiva Svastha Nusantara mendorong masyarakat untuk menjadi konsumen yang kritis dan berdaya. Literasi mengenai air minum yang aman dinilai penting untuk dimulai dari rumah tangga, khususnya ibu rumah tangga yang kerap menjadi penentu kualitas air di keluarga.
Program ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat mengenai bahaya air minum isi ulang yang tidak memenuhi standar kesehatan dan sanitasi. Sebagian besar masyarakat perkotaan masih menggantungkan kebutuhan air konsumsi harian pada depot isi ulang, meski operasional sebagian besar depot masih jauh dari ketentuan yang seharusnya.
Baca Juga: 7 Cara Memilih Air Mineral yang Sehat dan Aman untuk Kesehatan
Beberapa permasalahan yang kerap ditemukan antara lain penggunaan air baku dari sumber yang tidak berizin, penggunaan galon bermerek tanpa izin resmi, hingga tidak adanya uji laboratorium berkala. Hal-hal ini kerap luput dari perhatian konsumen yang menganggap air isi ulang sudah pasti aman.
Sanitarian Ahli Muda dari Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Wuhgini, menyebutkan depot air minum seharusnya melakukan uji mikrobiologi setiap bulan, serta uji fisika dan kimia minimal setiap enam bulan atau satu tahun sekali, sesuai Peraturan Menteri Kesehatan.
"Masyarakat jangan segan menanyakan ke depot air isi ulang, apakah airnya rutin diuji di laboratorium atau tidak. Banyak depot hanya melakukan tes saat awal buka, padahal itu tidak cukup," ujarnya.
Ia juga menyoroti masih adanya depot yang menggunakan air baku dari sumber tidak resmi dan tidak menguji kualitas airnya secara berkala. Menyimpan air dalam jumlah besar pun dinilai berisiko karena bisa meningkatkan potensi kontaminasi mikroba.
Selain itu, Wuhgini menegaskan penggunaan galon bermerek tanpa izin juga melanggar hukum. "Depot tidak boleh memakai galon dengan merek dagang. Harusnya mereka menyediakan wadah polos yang tidak menyesatkan konsumen," tambahnya.
Kegiatan ini juga menyoroti dampak kesehatan dari konsumsi air terkontaminasi. Kepala Bidang Hukum dan Advokasi Kebijakan Yayasan Jiva Svastha Nusantara, Surya Putra, menjelaskan, air tidak layak konsumsi dapat menjadi media penyebaran berbagai penyakit, termasuk hepatitis A.
"Hepatitis A bisa ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar. Jika air dari depot tidak higienis, maka risiko penularan sangat tinggi," jelasnya.
Baca Juga: Pelaku Usaha Depot Air Minum Didorong Perbaiki Praktik Bisnis
Ia menambahkan, infeksi hepatitis A bisa berdampak serius, terutama bagi ibu hamil dan janin. Selain itu, diare yang sering kali disebabkan oleh air yang tidak aman juga berpengaruh terhadap penyerapan nutrisi dan berpotensi menyebabkan stunting.
"Kita tidak sedang membahas hanya soal sanitasi. Ini menyangkut masa depan generasi bangsa. Air yang kotor bisa langsung merusak kualitas hidup anak-anak," tegas Surya.
Melalui kampanye ini, Yayasan Jiva Svastha Nusantara mendorong masyarakat untuk menjadi konsumen yang kritis dan berdaya. Literasi mengenai air minum yang aman dinilai penting untuk dimulai dari rumah tangga, khususnya ibu rumah tangga yang kerap menjadi penentu kualitas air di keluarga.
(nng)
Lihat Juga :