AS dan China Sepakat Perpanjang Penundaan Tarif selama 90 Hari

Rabu, 30 Juli 2025 - 07:51 WIB
loading...
AS dan China Sepakat...
Amerika Serikat (AS) dan China menyepakati perpanjangan penundaan penerapan tarif selama 90 hari. FOTO/Reuters
A A A
STOCKHOLM - Amerika Serikat (AS) dan China menyepakati perpanjangan penundaan penerapan tarif selama 90 hari. Kesepakatan ini dicapai setelah dua hari pembicaraan yang konstruktif di Stockholm, Swedia bertujuan untuk meredakan perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia. Perang dagang tersebut sebelumnya telah mengancam pertumbuhan ekonomi global.

Namun demikian, belum ada terobosan signifikan yang diumumkan dari pertemuan tersebut. Pejabat AS menyatakan keputusan akhir mengenai perpanjangan gencatan senjata tarif, yang seharusnya berakhir pada 12 Agustus sepenuhnya berada di tangan Presiden Donald Trump.

Baca Juga: Industri China Tertekan Tarif AS, Gerus Laba hingga Picu PHK Massal

Menteri Keuangan AS Scott Bessent menepis spekulasi bahwa Presiden Trump akan menolak perpanjangan tersebut. "Pertemuan-pertemuan tersebut sangat konstruktif," kata Bessent kepada awak media usai pertemuan dikutip dari Reuters, Rabu (30/7). "Hanya saja kami belum memberikan persetujuan akhir."

Saat kembali ke Washington setelah kunjungan ke Skotlandia, di mana ia menandatangani kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa, Presiden Trump menyatakan bahwa Bessent telah memberinya pengarahan mengenai pembicaraan dengan China. "Dia merasa sangat baik tentang pertemuan tersebut, lebih baik daripada perasaannya kemarin," ujar Trump.

Setelah berbulan-bulan mengancam akan mengenakan tarif tinggi pada mitra dagang, Trump telah menandatangani perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa, Jepang, Indonesia, dan beberapa negara lain. Namun, kompleksitas ekonomi China dan kontrolnya terhadap pasokan logam langka global membuat pembicaraan ini menjadi sangat rumit.

Pada Mei lalu, kedua belah pihak sempat mundur dari rencana untuk memberlakukan tarif tinggi satu sama lain, yang sebanding dengan embargo perdagangan bilateral. Tanpa adanya kesepakatan, rantai pasok global dan pasar keuangan berpotensi menghadapi gejolak baru.

Bessent berharap dapat bertemu dengan Trump setelah keduanya kembali ke Washington. Presiden, lanjut Bessent, akan memiliki keputusan akhir mengenai perpanjangan penundaan tarif. "Perpanjangan 90 hari lagi adalah salah satu opsi," ujar Perwakilan Perdagangan AS Jamieson Greer.

"Kami memiliki pertemuan konstruktif, tentu saja, untuk kembali dengan laporan positif. Namun, perpanjangan penundaan, dia yang akan memutuskan," kata Greer usai pembicaraan di Rosenbad, kantor perdana menteri Swedia di pusat Stockholm.

Baca Juga: 10 Negara Paling Malas Jalan Kaki di Dunia, Ternyata Indonesia Juaranya

Bessent juga mengisyaratkan kemungkinan pertemuan lanjutan antara pejabat AS dan China dalam waktu sekitar 90 hari. Pembahasan mengenai aliran logam langka China menjadi lebih rinci setelah pembicaraan sebelumnya di Jenewa dan London. "Ada interaksi pribadi yang baik yang sedang terbangun, saling menghormati. Saya pikir kita memahami agenda mereka dengan lebih baik," katanya.

Pembicaraan di Stockholm tersebut mengikuti kesepakatan perdagangan terbesar Trump dengan Uni Eropa pada Minggu lalu, mencakup tarif 15% untuk sebagian besar ekspor barang Uni Eropa ke Amerika Serikat, serta kesepakatan dengan Jepang.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Krisis Energi Global,...
Krisis Energi Global, China dan Saudi Aramco Gelar Pertemuan Darurat
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Piala Dunia 2026: Saat...
Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA
Rekomendasi
Kasus Bocah 6 Tahun...
Kasus Bocah 6 Tahun Dibully dan Disetrum ke Tiang Listrik hingga Koma, Cuma 1 Pelaku Ditahan Polisi
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Midcare Expo 2026 FK...
Midcare Expo 2026 FK Unair, Dorong Mahasiswa Kembangkan Jiwa Kewirausahaan
Berita Terkini
ESDM Menjawab Isu Pasokan...
ESDM Menjawab Isu Pasokan Batubara Jadi Penyebab Pemadaman Listrik di Pulau Jawa
Bangun Pertanian di...
Bangun Pertanian di Papua, Pemerintah Gelontorkan Rp5 Triliun
Penjelasan PLN soal...
Penjelasan PLN soal Blackout di Beberapa Wilayah Pulau Jawa
Emas Antam Kembali Berkilau,...
Emas Antam Kembali Berkilau, Hari Ini Naik Rp20 Ribu Sentuh Rp2.709.000 per Gram
IHSG Dibuka Perkasa...
IHSG Dibuka Perkasa Sentuh Level 5.960, Ada 380 Saham Berlari di Zona Hijau
Aliran Modal Asing Mulai...
Aliran Modal Asing Mulai Masuk, Rupiah Membaik Tinggalkan Rp18.000 per Dolar AS
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved