Tingkatkan Kompetensi SDM, Kemenpar dan Industri Hotel Manfaatkan AI
Senin, 04 Agustus 2025 - 18:42 WIB
loading...
Hospitality Forum 2025 yang digelar di Jakarta. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong transformasi sumber daya manusia (SDM) di sektor perhotelan melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Upaya ini diwujudkan lewat kolaborasi bersama Asosiasi Manajer SDM Hotel Indonesia (AMSIH), ELSA Speak, dan Paradigm dalam ajang Hospitality Forum 2025 yang digelar di Jakarta.
Forum tersebut mempertemukan lebih dari 50 pemimpin SDM jaringan hotel dari berbagai daerah untuk membahas solusi pelatihan berbasis digital. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas layanan melalui sistem pembelajaran yang lebih adaptif, efisien, dan berstandar global.
Data Kemenpar menyebutkan bahwa sektor pariwisata Indonesia menargetkan 25,75 juta tenaga kerja pada 2025, serta kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 4,6 persen. Namun, masih banyak hotel yang belum memiliki sistem pelatihan berkelanjutan. Survei forum menunjukkan bahwa 94,4 persen hotel belum pernah mengimplementasikan pelatihan hyper-personalized berbasis AI.
Baca Juga: Leonardo DiCaprio Bangun Hotel Super Mewah di Israel, Klaim Paling Ramah Lingkungan
Masalah kompetensi bahasa Inggris juga mencuat sebagai tantangan utama. Sebanyak 44,4 persen pimpinan HR menyebutkan variasi kemampuan bahasa Inggris antar karyawan sebagai hambatan layanan berkualitas. Ini menandakan pentingnya pendekatan pelatihan yang kontekstual dan disesuaikan dengan kebutuhan operasional harian.
Perwakilan Kemenpar menekankan bahwa pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan destinasi indah, tetapi juga pengalaman layanan yang profesional dan berkelas internasional. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan komunikasi SDM menjadi prioritas dalam peta jalan transformasi industri ini.
ELSA Speak memperkenalkan teknologi pelatihan bahasa Inggris berbasis AI yang telah diterapkan di berbagai hotel ternama seperti Apurva Kempinski Bali dan Vasa Hotel Surabaya. Dalam tiga bulan, metode ini mampu meningkatkan skor English Proficiency Score (EPS) hingga 19 persen, dengan tingkat partisipasi pengguna mencapai 92 persen.
Managing Director ELSA Speak Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful, menyatakan bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan strategi jangka panjang dalam pelatihan SDM. "Dengan teknologi yang tepat, kita bisa membangun budaya belajar yang personal, tanpa tekanan, dan berkelanjutan," kata dia dalam pernyataannya, Senin (4/8).
Dalam forum ini juga terungkap kesenjangan investasi pelatihan antara hotel lokal dan internasional. Jaringan global seperti Marriott dan Hilton mengalokasikan hingga 3 persen dari payroll untuk pelatihan, sementara hotel lokal rata-rata hanya 0,5 hingga 1 persen.
Baca Juga: Bos OpenAI Sebut Aksi Penipuan Menggunakan AI Mengintai Dunia
Peggy Putri, Co-founder Paradigm, menekankan bahwa membangun tim kelas dunia bukan hanya soal dana, tetapi juga soal sistem, komitmen, dan kemauan untuk tumbuh bersama. Ia menyarankan pendekatan blended learning yang menggabungkan tatap muka, microlearning, dan teknologi AI sebagai solusi jangka panjang.
Forum ini menjadi titik awal transformasi konkret sektor hospitality di Indonesia. Kolaborasi lintas sektor membuktikan bahwa perubahan sedang berlangsung dipimpin oleh pelaku industri yang berani berinovasi dan berinvestasi pada SDM-nya.
Forum tersebut mempertemukan lebih dari 50 pemimpin SDM jaringan hotel dari berbagai daerah untuk membahas solusi pelatihan berbasis digital. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas layanan melalui sistem pembelajaran yang lebih adaptif, efisien, dan berstandar global.
Data Kemenpar menyebutkan bahwa sektor pariwisata Indonesia menargetkan 25,75 juta tenaga kerja pada 2025, serta kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 4,6 persen. Namun, masih banyak hotel yang belum memiliki sistem pelatihan berkelanjutan. Survei forum menunjukkan bahwa 94,4 persen hotel belum pernah mengimplementasikan pelatihan hyper-personalized berbasis AI.
Baca Juga: Leonardo DiCaprio Bangun Hotel Super Mewah di Israel, Klaim Paling Ramah Lingkungan
Masalah kompetensi bahasa Inggris juga mencuat sebagai tantangan utama. Sebanyak 44,4 persen pimpinan HR menyebutkan variasi kemampuan bahasa Inggris antar karyawan sebagai hambatan layanan berkualitas. Ini menandakan pentingnya pendekatan pelatihan yang kontekstual dan disesuaikan dengan kebutuhan operasional harian.
Perwakilan Kemenpar menekankan bahwa pariwisata tidak cukup hanya mengandalkan destinasi indah, tetapi juga pengalaman layanan yang profesional dan berkelas internasional. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan komunikasi SDM menjadi prioritas dalam peta jalan transformasi industri ini.
ELSA Speak memperkenalkan teknologi pelatihan bahasa Inggris berbasis AI yang telah diterapkan di berbagai hotel ternama seperti Apurva Kempinski Bali dan Vasa Hotel Surabaya. Dalam tiga bulan, metode ini mampu meningkatkan skor English Proficiency Score (EPS) hingga 19 persen, dengan tingkat partisipasi pengguna mencapai 92 persen.
Managing Director ELSA Speak Indonesia, Yasser Muhammad Syaiful, menyatakan bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan strategi jangka panjang dalam pelatihan SDM. "Dengan teknologi yang tepat, kita bisa membangun budaya belajar yang personal, tanpa tekanan, dan berkelanjutan," kata dia dalam pernyataannya, Senin (4/8).
Dalam forum ini juga terungkap kesenjangan investasi pelatihan antara hotel lokal dan internasional. Jaringan global seperti Marriott dan Hilton mengalokasikan hingga 3 persen dari payroll untuk pelatihan, sementara hotel lokal rata-rata hanya 0,5 hingga 1 persen.
Baca Juga: Bos OpenAI Sebut Aksi Penipuan Menggunakan AI Mengintai Dunia
Peggy Putri, Co-founder Paradigm, menekankan bahwa membangun tim kelas dunia bukan hanya soal dana, tetapi juga soal sistem, komitmen, dan kemauan untuk tumbuh bersama. Ia menyarankan pendekatan blended learning yang menggabungkan tatap muka, microlearning, dan teknologi AI sebagai solusi jangka panjang.
Forum ini menjadi titik awal transformasi konkret sektor hospitality di Indonesia. Kolaborasi lintas sektor membuktikan bahwa perubahan sedang berlangsung dipimpin oleh pelaku industri yang berani berinovasi dan berinvestasi pada SDM-nya.
(nng)
Lihat Juga :