Gawat! Amerika Serikat Berada di Tepi Jurang Resesi Ekonomi

Rabu, 06 Agustus 2025 - 07:25 WIB
loading...
Gawat! Amerika Serikat...
Analis utama Moody’s menggambarkan, kondisi AS saat ini sedang berada di tepi jurang resesi. Para pakar mengatakan, perlambatan lapangan kerja menandakan pelemahan pertumbuhan ekonomi. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Kebijakan tarif impor tinggi dan imigrasi Donald Trump di masa jabatan keduanya sebagai Presiden AS mendorong ekonomi Amerika menuju penurunan. Peringatan krisis ini disampaikan oleh analis utama Moody’s, Mark Zandi.

Lembaga pemeringkat Moody's mengeluarkan, peringatan tersebut setelah laporan Biro Statistik Tenaga Kerja yang menunjukkan AS hanya menambah rata-rata 35.000 pekerjaan per bulan dari periode Mei hingga Juli. Angka tersebut kurang dari sepertiga laju tahun lalu dan yang terlemah sejak 2020.

Mark Zandi menggambarkan, kondisi AS saat ini sedang berada "di tepi jurang" resesi . Para pakar mengatakan, perlambatan lapangan kerja menandakan pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Ray Dalio Kirim Peringatan Serius ke Amerika: Utang Membengkak Sentuh Rp603.174 Triliun

Indikator lainnya juga tidak menggembirakan di antaranya, pengeluaran konsumen bulan Juni hanya naik 0,1% setelah inflasi, harga melonjak 2,7% secara tahunan -tertinggi sejak Februari- dan aktivitas pabrik menyusut selama empat bulan berturut-turut seiring dengan pelemahan pesanan dan pekerjaan.

"Ekonomi (AS) berada di tepi resesi. Itu adalah kesimpulan jelas dari data ekonomi yang dirilis minggu lalu,” tulis Zandi di X.

“Pengeluaran konsumen stagnan, sektor konstruksi dan manufaktur menyusut, dan lapangan pekerjaan diprediksi akan jatuh," sambungnya.

Dia memperingatkan, bahwa inflasi yang berada di atas target membuat Federal Reserve (bank sentral AS) memiliki sedikit ruang untuk menghidupkan kembali pertumbuhan, terutama di bawah kebijakan Trump.

"Tidak ada misteri mengapa ekonomi mengalami kesulitan; salahkan kenaikan tarif AS dan kebijakan imigrasi yang sangat ketat,” kata Zandi.

“Tarif ini semakin menggerogoti keuntungan perusahaan-perusahaan Amerika dan daya beli rumah tangga Amerika. Lebih sedikit pekerja imigran berarti ekonomi yang lebih kecil," bebernya.

Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump telah memperketat pembatasan terhadap imigrasi ilegal, merencanakan untuk mendeportasi 4 juta orang selama empat tahun – langkah yang banyak diperingatkan akan memicu kekurangan tenaga kerja yang parah.

Dia juga telah memberlakukan tarif pada ratusan mitra dagang AS, menjadikannya sebagai strategi "resiprokal" untuk mendapatkan syarat perdagangan yang lebih baik, melindungi pekerjaan, menghidupkan kembali manufaktur, mengurangi defisit, dan mendanai keringanan pajak.

Baca Juga: Membaca Kematian Dolar dan Tumpukan Utang AS Rp591.735 Triliun, Seberapa Gawat?

Zandi tidak sendirian dalam memperingatkan tentang risiko tersebut. Ketua Fed Jerome Powell juga mengeluarkan, peringatan seupa bahwa tarif impor dapat secara tajam meningkatkan inflasi dan pengangguran. Institut Kebijakan Ekonomi memperkirakan bahwa rencana deportasi massal Trump dapat menghancurkan hampir 6 juta pekerjaan.

Almamater Trump, Wharton School di Universitas Pennsylvania, memperingatkan bahwa deportasi akan mengecilkan sebagian besar gaji pekerja, memotong GDP, dan membuat defisit anggaran federal semakin bengkak ketika kondisinya sudah sangat besar.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
1 Miliar Barel Minyak...
1 Miliar Barel Minyak Terguncang Selat Hormuz, Dunia Terancam Resesi
Peluang Resesi Indonesia...
Peluang Resesi Indonesia di Bawah 5%, Lebih Kuat dari AS, Kanada, dan Jepang
Dunia di Ambang Kebangkrutan?...
Dunia di Ambang Kebangkrutan? Utang AS Tembus Rp666.215 Triliun
Sinyal Resesi Global...
Sinyal Resesi Global Menguat, Lonjakan Harga Minyak Dekati Ambang Batas Krisis
Kurs Rupiah Capai Rp16.904/USD,...
Kurs Rupiah Capai Rp16.904/USD, Indonesia Punya Pengalaman Hindari Jurang Resesi
Pesta Elite, Resesi...
Pesta Elite, Resesi Sulit
Bergaji Rp540 Juta per...
Bergaji Rp540 Juta per Tahun, Warga Kelas Pekerja AS Berbondong-bondong Gabung Militer
Popularitas Presiden...
Popularitas Presiden Donald Trump Turun ke Level Terendah, Ini Penyebabnya
Rekomendasi
Unesa Buka Seleksi Jalur...
Unesa Buka Seleksi Jalur Mandiri Non Tes Rapor 2026, Simak Syaratnya
Resmi Menikah, Jennifer...
Resmi Menikah, Jennifer Coppen Disambut Hangat Keluarga Justin Hubner
Profesor AS: Israel,...
Profesor AS: Israel, Bukan Iran, yang Jadi Ancaman Nuklir Utama di Timur Tengah
Berita Terkini
Anomali Tiket Pesawat:...
Anomali Tiket Pesawat: Penerbangan Domestik Dipungut PPN, ke Luar Negeri Bebas Pajak
Menakar Efek Domino...
Menakar Efek Domino Pertamax Rp16.250: Waspada Ancaman Inflasi
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
Migrasi Pertamax ke...
Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved