Geger Gegara Tarif, India Tangguhkan Pembelian Senjata dari AS

Jum'at, 08 Agustus 2025 - 22:20 WIB
loading...
Geger Gegara Tarif,...
Peluru artileri berdiameter 55mm dikemas untuk pengiriman di Pabrik Amunisi Militer Scranton di Scranton, Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 16 Februari 2023. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Pemerintah India menangguhkan rencana pembelian sejumlah alutsista dari Amerika Serikat sebagai respons terhadap kebijakan tarif tambahan yang diberlakukan Presiden Donald Trump. Tiga pejabat India menyatakan, keputusan ini mencerminkan ketidakpuasan mendalam Delhi terhadap Washington yang dinilai memperburuk hubungan kedua negara.

Salah satu langkah awal yang diambil India adalah membatalkan kunjungan Menteri Pertahanan Rajnath Singh ke Washington, yang semula dijadwalkan dalam waktu dekat untuk mengumumkan kesepakatan pembelian senjata. Dua sumber menyebut pembatalan itu langsung berkaitan dengan kebijakan tarif AS.

Presiden Trump pada 6 Agustus menetapkan tarif tambahan 25 persen atas berbagai barang ekspor dari India, sebagai bentuk tekanan terhadap pembelian minyak Rusia oleh Delhi. Tarif itu membuat total bea masuk atas ekspor India ke AS melonjak menjadi 50 persen, tertinggi di antara mitra dagang utama Washington.

Baca Juga: Pertarungan BRICS vs AS Dimulai: Rusia, China hingga India Jadi Target Utama

Meskipun belum ada instruksi resmi tertulis untuk menghentikan pembelian, salah satu pejabat mengindikasikan bahwa proses negosiasi saat ini mandek dan belum menunjukkan kemajuan. India menunggu kepastian arah hubungan bilateral sebelum melanjutkan kontrak pertahanan.

Menurut laporan Reuters, pembicaraan untuk mengakuisisi kendaraan tempur Stryker buatan General Dynamics dan rudal anti-tank Javelin dari Raytheon dan Lockheed Martin telah dihentikan sementara. Rencana pembelian enam pesawat intai Boeing P8I untuk Angkatan Laut India senilai USD3,6 miliar ikut tertunda.

Perusahaan-perusahaan pertahanan AS yang terlibat dalam rencana ekspor ini, termasuk Boeing dan Lockheed Martin, menolak berkomentar dan mengarahkan pertanyaan kepada pemerintah masing-masing. Raytheon tidak memberikan tanggapan.

India, yang selama ini memiliki hubungan pertahanan kuat dengan Rusia, dalam beberapa tahun terakhir telah memperluas diversifikasi pemasok senjata ke negara-negara Barat seperti Prancis, Israel, dan Amerika Serikat. Namun, ketegangan tarif dengan Washington kini menjadi tantangan baru bagi kemitraan tersebut.

Baca Juga: Tentara Israel Makin Sering Rampok Harta Warga Palestina di Tepi Barat

Pergeseran ini sempat dinilai strategis karena keterbatasan Rusia dalam mengekspor senjata akibat keterlibatan aktif mereka dalam konflik Ukraina. Beberapa sistem senjata Rusia juga dilaporkan menunjukkan performa buruk di medan tempur.

Meski demikian, kerja sama pertahanan antara India dan AS dalam bentuk pertukaran intelijen dan latihan militer bersama disebut masih berjalan normal. Delhi juga menyatakan kesiapan mengurangi ketergantungan terhadap minyak Rusia jika ada alternatif dengan harga kompetitif, termasuk dari AS.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Pengaruh Wali Kota Muslim...
Pengaruh Wali Kota Muslim New York Ini Makin Kuat, Siapa yang Didukungnya Menang!
Mobil Buatan Amerika...
Mobil Buatan Amerika Serikat Dapat Ujian Besar di Pasar Jepang
Pilot F-15 AS: Serangan...
Pilot F-15 AS: Serangan Drone Iran Membentuk Formasi Ubur-ubur
Rekomendasi
Klasemen Akhir Grup...
Klasemen Akhir Grup B Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Tembus 32 Besar, Qatar Tersingkir
Momen Riuh di Gorontalo,...
Momen Riuh di Gorontalo, Massa Kompak Teriakkan Nama Seskab Teddy di Depan Presiden Prabowo
Qatar Tersingkir dari...
Qatar Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Bosnia-Herzegovina Jaga Kans Lolos ke 32 Besar
Berita Terkini
ONDA Bidik Kebutuhan...
ONDA Bidik Kebutuhan Renovasi Rumah dengan Sistem Terintegrasi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Gandeng Mitra Global,...
Gandeng Mitra Global, PT WCS Dorong Ekosistem Pertanian Berbasis Digital
Telkom Catat Pendapatan...
Telkom Catat Pendapatan Rp146,7 Triliun, DPR Minta Soliditas Dijaga
Kemenkop dan Rumah Energi...
Kemenkop dan Rumah Energi Dorong Koperasi Jadi Motor Transisi Energi
Plaza Seremoni IKN Karya...
Plaza Seremoni IKN Karya Brantas Abipraya Raih Penghargaan Lanskap Internasional MLAA 2026
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved