Biaya Pendidikan Naik 5 Kali Lebih Cepat dari Gaji, Orang Tua Perlu Antisipasi
Senin, 11 Agustus 2025 - 14:21 WIB
loading...
Pendidikan anak menjadi salah satu investasi terbesar yang diupayakan orang tua. FOTO/Shutterstock
A
A
A
JAKARTA - Pendidikan anak menjadi salah satu investasi terbesar yang diupayakan orang tua. Namun, tren kenaikan biayanya jauh melampaui pertumbuhan pendapatan keluarga. Laporan Kompas (2024) mencatat rata-rata kenaikan biaya sekolah dasar (SD) mencapai 12,6% per tahun dalam periode 2018–2024, sementara kenaikan gaji orang tua hanya sekitar 2,6% per tahun. Artinya, biaya pendidikan tumbuh hampir lima kali lebih cepat dibanding penghasilan.
Perbandingan ini terlihat dari lonjakan biaya masuk sekolah. Pada 2014, salah satu sekolah national plus ternama mematok uang pangkal Rp25 juta, sedangkan pada 2024 angkanya melonjak menjadi sekitar Rp80 juta. Tanpa perencanaan matang, kenaikan ini berpotensi membebani keluarga.
Baca Juga: Sri Mulyani Anggarkan Rp7 Triliun untuk Operasional Sekolah Rakyat
Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama, mendorong keluarga untuk menyiapkan perlindungan sejak dini. "Bagi Prudential Syariah, mempersiapkan masa depan keluarga bukan hanya soal hadiah yang akan kita tinggalkan, tetapi memastikan nilainya tetap terjaga dan bertumbuh di tengah inflasi dan ketidakpastian," ujarnya.
Menurutnya, kehadiran orang tua saat ini adalah hadiah yang tak ternilai, namun risiko hidup bisa datang kapan saja. Karena itu, proteksi keuangan yang nilainya dapat berkembang seiring waktu penting untuk memastikan rencana yang diupayakan hari ini tetap berarti di masa depan.
Asuransi jiwa syariah menjadi salah satu instrumen yang dapat menyediakan jaring pengaman finansial bagi keluarga. Mempersiapkan peninggalan sejak dini bukan hanya langkah bijak, tetapi juga hadiah terbaik yang akan terus memberi arti, bahkan setelah orang tua tiada.
Beban serupa juga terjadi pada sektor properti. Berdasarkan data Indeks Harga Properti Perumahan (IHPP), harga rumah naik dari 102,11% pada 2021 menjadi 110,9% di 2025. Kenaikan nilai properti ini membuat pembelian rumah untuk anak di masa depan semakin sulit diakses jika tidak direncanakan sejak awal.
Baca Juga: Biaya Kuliah Kedokteran di UI, UGM, Unpad, dan Unair di SNBT 2025, Mana yang Termahal?
Tak hanya pendidikan dan properti, biaya gaya hidup keluarga pun terus meningkat. Harga tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Singapura, misalnya, naik dari Rp4 juta pada 2022 menjadi Rp6 juta di 2025. Tiket Jakarta–Jepang bahkan melonjak dari Rp6,8 juta menjadi Rp13 juta pada periode yang sama. Biaya ibadah umrah pun terdongkrak, dari Rp29 juta pada 2022 menjadi sekitar Rp34 juta di 2024.
Jika tren ini berlanjut, daya beli masyarakat akan terus tergerus. Nilai uang yang terasa cukup saat ini bisa kehilangan separuh kekuatannya dalam beberapa tahun mendatang. Tabungan yang ada belum tentu mampu mengimbangi laju inflasi dan kenaikan kebutuhan keluarga.
Banyak orang tua berusaha menabung, membiayai pendidikan setinggi-tingginya, dan menyiapkan aset seperti rumah. Namun, kehidupan kerap menghadirkan ketidakpastian: kehilangan penghasilan, musibah, atau kepergian orang tua bisa terjadi sewaktu-waktu.
Dalam situasi tersebut, "hadiah" terbesar yang bisa diberikan orang tua bukan sekadar harta, melainkan rasa aman. Anak tetap dapat melanjutkan pendidikan, memiliki tempat tinggal layak, dan menjalani kehidupan yang stabil meskipun orang tua telah tiada.
Sayangnya, sebagian besar keluarga masih menunda persiapan ini. Padahal, waktu adalah aset berharga yang menentukan nilai persiapan di masa depan. Tanpa strategi yang tepat, tabungan akan terkikis inflasi, dan kebutuhan di masa mendatang sulit terpenuhi.
Perbandingan ini terlihat dari lonjakan biaya masuk sekolah. Pada 2014, salah satu sekolah national plus ternama mematok uang pangkal Rp25 juta, sedangkan pada 2024 angkanya melonjak menjadi sekitar Rp80 juta. Tanpa perencanaan matang, kenaikan ini berpotensi membebani keluarga.
Baca Juga: Sri Mulyani Anggarkan Rp7 Triliun untuk Operasional Sekolah Rakyat
Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, Vivin Arbianti Gautama, mendorong keluarga untuk menyiapkan perlindungan sejak dini. "Bagi Prudential Syariah, mempersiapkan masa depan keluarga bukan hanya soal hadiah yang akan kita tinggalkan, tetapi memastikan nilainya tetap terjaga dan bertumbuh di tengah inflasi dan ketidakpastian," ujarnya.
Menurutnya, kehadiran orang tua saat ini adalah hadiah yang tak ternilai, namun risiko hidup bisa datang kapan saja. Karena itu, proteksi keuangan yang nilainya dapat berkembang seiring waktu penting untuk memastikan rencana yang diupayakan hari ini tetap berarti di masa depan.
Asuransi jiwa syariah menjadi salah satu instrumen yang dapat menyediakan jaring pengaman finansial bagi keluarga. Mempersiapkan peninggalan sejak dini bukan hanya langkah bijak, tetapi juga hadiah terbaik yang akan terus memberi arti, bahkan setelah orang tua tiada.
Beban serupa juga terjadi pada sektor properti. Berdasarkan data Indeks Harga Properti Perumahan (IHPP), harga rumah naik dari 102,11% pada 2021 menjadi 110,9% di 2025. Kenaikan nilai properti ini membuat pembelian rumah untuk anak di masa depan semakin sulit diakses jika tidak direncanakan sejak awal.
Baca Juga: Biaya Kuliah Kedokteran di UI, UGM, Unpad, dan Unair di SNBT 2025, Mana yang Termahal?
Tak hanya pendidikan dan properti, biaya gaya hidup keluarga pun terus meningkat. Harga tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Singapura, misalnya, naik dari Rp4 juta pada 2022 menjadi Rp6 juta di 2025. Tiket Jakarta–Jepang bahkan melonjak dari Rp6,8 juta menjadi Rp13 juta pada periode yang sama. Biaya ibadah umrah pun terdongkrak, dari Rp29 juta pada 2022 menjadi sekitar Rp34 juta di 2024.
Jika tren ini berlanjut, daya beli masyarakat akan terus tergerus. Nilai uang yang terasa cukup saat ini bisa kehilangan separuh kekuatannya dalam beberapa tahun mendatang. Tabungan yang ada belum tentu mampu mengimbangi laju inflasi dan kenaikan kebutuhan keluarga.
Banyak orang tua berusaha menabung, membiayai pendidikan setinggi-tingginya, dan menyiapkan aset seperti rumah. Namun, kehidupan kerap menghadirkan ketidakpastian: kehilangan penghasilan, musibah, atau kepergian orang tua bisa terjadi sewaktu-waktu.
Dalam situasi tersebut, "hadiah" terbesar yang bisa diberikan orang tua bukan sekadar harta, melainkan rasa aman. Anak tetap dapat melanjutkan pendidikan, memiliki tempat tinggal layak, dan menjalani kehidupan yang stabil meskipun orang tua telah tiada.
Sayangnya, sebagian besar keluarga masih menunda persiapan ini. Padahal, waktu adalah aset berharga yang menentukan nilai persiapan di masa depan. Tanpa strategi yang tepat, tabungan akan terkikis inflasi, dan kebutuhan di masa mendatang sulit terpenuhi.
(nng)
Lihat Juga :