Harga Minyak Mendidih Imbas AS Perpanjang Gencatan Tarif 90 Hari dengan China

Selasa, 12 Agustus 2025 - 12:03 WIB
loading...
Harga Minyak Mendidih...
Pompa minyak mengangkat minyak ke permukaan di Formasi Monterey, California, AS. 29 April 2013. FOTO/Reuters
A A A
JAKARTA - Harga minyak dunia menguat pada Selasa (12/8), setelah Amerika Serikat (AS) dan China sepakat memperpanjang penundaan kenaikan tarif selama 90 hari. Keputusan ini meredakan kekhawatiran pasar atas potensi eskalasi perang dagang yang dapat memperlambat perekonomian kedua negara sekaligus menekan permintaan bahan bakar global.

Kontrak berjangka minyak Brent tercatat naik 26 sen atau 0,39 persen menjadi USD66,89 per barel pada pukul 00.15 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 22 sen atau 0,34 persen ke level USD64,18 per barel.

Baca Juga: Harga BBM Iran Termurah di Dunia, Beli Bensin Cuma Rp800 per Liter

Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tarif dengan China selama tiga bulan. Kebijakan ini menunda penerapan tarif tinggi atas barang-barang impor dari Negeri Tirai Bambu, terutama saat pengecer AS bersiap menghadapi musim belanja akhir tahun.

Langkah tersebut memicu optimisme pasar bahwa kedua ekonomi terbesar di dunia dapat mencapai kesepakatan dagang. Jika terwujud, kesepakatan itu diyakini akan menghindarkan keduanya dari potensi embargo perdagangan yang berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan mengurangi permintaan energi.

Selain perkembangan di sektor perdagangan, pelaku pasar juga memantau rencana pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 15 Agustus di Alaska. Pertemuan itu diharapkan menjadi momentum untuk membahas penyelesaian konflik di Ukraina.

Pertemuan berlangsung di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap Moskow, termasuk ancaman sanksi lebih berat bagi pembeli minyak Rusia seperti China dan India. Sanksi tersebut berpotensi mengganggu arus perdagangan minyak global jika kesepakatan damai tidak tercapai.

"Setiap kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina akan mengakhiri risiko gangguan pasokan minyak Rusia yang selama ini mengancam pasar," kata Daniel Hynes, analis komoditas senior ANZ, dalam catatan yang dikutip Reuters, Selasa (12/8).

Baca Juga: China dan AS Adem Ayem, Trump Resmi Perpanjang Gencatan Tarif 90 Hari

Sebelumnya, Trump memberi tenggat hingga Jumat pekan lalu bagi Rusia untuk menyetujui perjanjian damai atau menghadapi sanksi sekunder bagi negara pembeli minyaknya. Ia juga mendorong India dan China untuk mengurangi pembelian minyak dari Rusia, bahkan mengancam akan mengenakan tarif tambahan bagi Beijing.

Menjelang pertemuan Trump dengan Putin, risiko penerapan sanksi tersebut dinilai mulai mereda, sehingga memberikan ruang bagi pasar untuk bergerak lebih stabil. Selain faktor geopolitik, fokus pasar juga tertuju pada rilis data inflasi AS yang dijadwalkan hari ini. Angka inflasi tersebut akan menjadi acuan bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.

Ekspektasi bahwa bank sentral AS akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat menjadi sentimen positif tambahan bagi pergerakan harga minyak mentah. Kombinasi antara meredanya tensi perdagangan, prospek perundingan damai, dan potensi pelonggaran kebijakan moneter menjadi pendorong utama penguatan harga minyak saat ini.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
10 Presiden Terkaya...
10 Presiden Terkaya Sepanjang Sejarah AS, Trump Jauh Lebih Unggul dari Pendahulunya
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
Diskriminatif, AS Cabut...
Diskriminatif, AS Cabut Kuota Tiket Suporter Timnas Iran di Piala Dunia 2026
Drone Iran Gempur Armada...
Drone Iran Gempur Armada Kelima AS di Bahrain
Suara Ledakan Terdengar...
Suara Ledakan Terdengar di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm, Iran Segera Balas Serangan AS
Rekomendasi
Selain Resmikan RSUD,...
Selain Resmikan RSUD, Prabowo Diagendakan Menghadiri Munas Hipmi di Lampung
Kapan Tahun Baru Islam...
Kapan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah?
Menganalisis Kekuatan...
Menganalisis Kekuatan Pesawat Su-35 dan Rafale setelah Pertemuan di Laut Baltik
Berita Terkini
IHSG Tergelincir di...
IHSG Tergelincir di Awal Sesi Sentuh 5.744, Transaksi Pagi Cetak Rp1,1 T
Kilau Emas Antam Kembali...
Kilau Emas Antam Kembali Meredup, Hari Ini Turun Rp20 Ribu ke Rp2.713.000 per Gram
Gencatan Senjata Gagal!...
Gencatan Senjata Gagal! Harga Minyak Dunia Terbang Tinggi Hampir 1% saat AS Kembali Gempur Iran
Tarif Trump 18% Mengancam...
Tarif Trump 18% Mengancam Komoditas Unggulan Nasional, RI Rayu AS Minta Pengecualian
Pertamax Naik Rp3.950...
Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
Harga BBM Pertamax Cs...
Harga BBM Pertamax Cs Resmi Naik per Rabu 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
Infografis
Iran Paksa AS Terima...
Iran Paksa AS Terima Kekalahan setelah 40 Hari Berperang, Ini 10 Poin Gencatan Senjata
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved