Ketua LPS Purbaya: Soemitronomics Kunci RI Melalui Berbagai Krisis Ekonomi Global
Kamis, 21 Agustus 2025 - 17:21 WIB
loading...
A
A
A
"Respons kebijakan ekinomi pada 2008 tepat karena aktivitas ekonomi tetap jalan yang ditopang oleh ketersediaan likuiditas melalui uang beredar yang tumbuh'," kata Purbaya.
Situasi yang sama juga berlaku saat Pandemi. Meskipun saat itu hampir kolaps, tetapi Pemerintah cepat mengubah dan merespons dengan pelonggaran secara terbatas, sehingga RI sukses keluar dari resesi dan kembali tumbuh positif seperti pada 2009 dengan tumbuh 4,9%.
"Pada 2020 juga kita pakai ilmu yang sejenis, karena sudah pintar yaitu menjaga domestic demand," kata Purbaya.
Kondisi tersebut berbeda saat krisis moneter 1997-1998. Saat itu kata Purbaya, respons kebijakan membingungkan karena suku bunga naik hingga 60%, sementara uang beredar tumbuh lebih dari 100%.
Dampaknya dengan suku bunga tinggi, tidak ada pelaku usaha yang berani meminjam ke bank. Sebaliknya, uang beredar yang melimpah dipakai menyerang rupiah kembali. "Kebijakan yang membingungkan itu memberi bahan bakar menyerang rupiah kita," kata Purbaya.
Dari tiga krisis tersebut jelas Purbaya, dua di antaranya yaitu krisis global 2008 dan pandemi Covid-19 bisa dilalui dengan baik karena menggunakan pendekatan lokal wisdom, sedangkan krisis 1998 menyisakan celah yang dalam karena menggunakan resep dari luar.
"Jadi kita sudah punya modal yang besar, tinggal di manage dengan baik. Fokus pada diri sendiri dengan memanfaatkan domestik demand," kata Purbaya.
Situasi yang sama juga berlaku saat Pandemi. Meskipun saat itu hampir kolaps, tetapi Pemerintah cepat mengubah dan merespons dengan pelonggaran secara terbatas, sehingga RI sukses keluar dari resesi dan kembali tumbuh positif seperti pada 2009 dengan tumbuh 4,9%.
"Pada 2020 juga kita pakai ilmu yang sejenis, karena sudah pintar yaitu menjaga domestic demand," kata Purbaya.
Kondisi tersebut berbeda saat krisis moneter 1997-1998. Saat itu kata Purbaya, respons kebijakan membingungkan karena suku bunga naik hingga 60%, sementara uang beredar tumbuh lebih dari 100%.
Dampaknya dengan suku bunga tinggi, tidak ada pelaku usaha yang berani meminjam ke bank. Sebaliknya, uang beredar yang melimpah dipakai menyerang rupiah kembali. "Kebijakan yang membingungkan itu memberi bahan bakar menyerang rupiah kita," kata Purbaya.
Dari tiga krisis tersebut jelas Purbaya, dua di antaranya yaitu krisis global 2008 dan pandemi Covid-19 bisa dilalui dengan baik karena menggunakan pendekatan lokal wisdom, sedangkan krisis 1998 menyisakan celah yang dalam karena menggunakan resep dari luar.
"Jadi kita sudah punya modal yang besar, tinggal di manage dengan baik. Fokus pada diri sendiri dengan memanfaatkan domestik demand," kata Purbaya.
Lihat Juga :