Simbol Perlawanan Dolar AS, Mata Uang BRICS Tampilkan Desain Unik

Jum'at, 22 Agustus 2025 - 22:01 WIB
loading...
Simbol Perlawanan Dolar...
Desain gambar mata uang BRICS kembali mencuri perhatian publik seiring kian matangnya rencana peluncuran mata uang bersama blok tersebut pada 2026. FOTO/Watcher Guru/IOL
A A A
JAKARTA - Desain gambar mata uang BRICS kembali mencuri perhatian publik seiring kian matangnya rencana peluncuran mata uang bersama blok tersebut pada 2026. Gambar terbaru menampilkan bendera lima negara anggota Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan sebagai simbol persatuan ekonomi dan geopolitik BRICS di tengah dinamika global.

Souvenir mata uang BRICS ini diterbitkan dalam pecahan 50, 100, dan 200 unit moneter. Pada KTT BRICS 2024 di Kazan, Rusia, Presiden Vladimir Putin menerima lembaran pecahan 50 sebagai simbol komitmen bersama. Sementara itu, lembaran pecahan 200 diperkenalkan pada Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg, menandai kemajuan nyata menuju target peluncuran 2026.

Desain mata uang ini menonjolkan keunikan tiap negara anggota. Selain bendera nasional, desainnya menampilkan ikon landmark dan satwa khas dari masing-masing negara. Konsep ini diinisiasi komunitas bisnis BRICS sebagai representasi visi kebersamaan dan arsitektur baru hubungan ekonomi internasional.

"Konsep souvenir ini hadir sebagai simbol gerakan bersama menuju tatanan ekonomi internasional yang lebih seimbang," ujar perwakilan tim desain, Katirin dikutip dari Watcher Guru, Jumat (22/8).

Baca Juga: Udang Asal Indonesia Disebut Mengandung Radioaktif Nuklir, AS Beri Peringatan

Sebagai langkah sosialisasi, sebanyak 10.000 lembar uang simbolis didistribusikan pada Juli 2025. Meski belum memiliki nilai tukar resmi, distribusi ini menjadi bukti keseriusan BRICS dalam menggarap mata uang bersama yang digadang-gadang akan mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa inisiatif ini bukanlah upaya konfrontatif terhadap mata uang AS. "Kami tidak menolak atau memerangi dolar. Namun, jika kami tidak diberi ruang untuk bekerja dengan dolar, kami perlu mencari alternatif lain. Itulah yang sedang kami lakukan," katanya.

Simbol Perlawanan Dolar AS, Mata Uang BRICS Tampilkan Desain Unik

FOTO/X/SL Khantan

Brasil disebut memimpin koordinasi teknis dan strategi pengembangan mata uang bersama ini, bekerja sama erat dengan negara anggota lainnya. Melalui berbagai inisiatif strategis, peluncuran resmi pada akhir 2026 dinilai semakin realistis.

KTT BRICS yang akan digelar di India pada 2026 juga diperkirakan menjadi forum penting untuk membahas detail implementasi, mulai dari regulasi hingga mekanisme transaksi. Diskusi kebijakan strategis ini diharapkan mempercepat pembentukan ekosistem ekonomi yang mendukung mata uang tunggal.

Dukungan terhadap rencana ini juga datang dari anggota baru BRICS, seperti Iran. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalal, menegaskan kerja sama Iran dan Rusia dalam mengakselerasi pembentukan mata uang bersama yang dapat mengurangi dampak sanksi ekonomi Amerika Serikat.

"Kerja sama ini bukan hanya soal simbolik, tetapi langkah nyata untuk menciptakan instrumen keuangan yang lebih adil dan independen," kata Jalal.

Seiring perkembangan ini, pengamat menilai kehadiran mata uang BRICS berpotensi mengubah lanskap perdagangan dan keuangan global. Dengan ekonomi gabungan yang mewakili lebih dari 40% populasi dunia, BRICS diyakini mampu memperkuat posisi tawar negara berkembang di panggung internasional.

Meski masih banyak tantangan teknis dan politik yang harus diselesaikan, keseriusan blok ini menunjukkan bahwa peluncuran mata uang BRICS pada 2026 bukan lagi wacana, melainkan target yang kian nyata.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Janji Manis Investasi...
Janji Manis Investasi Rp5.323 Triliun di Balik Kesepakatan Damai AS-Iran
Runtuhkan Dolar AS,...
Runtuhkan Dolar AS, Putin Kumpulkan 11 Pemimpin ASEAN Termasuk Indonesia
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Tantang Dominasi Dolar...
Tantang Dominasi Dolar AS, China Perluas Penggunaan Yuan secara Global
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Rekomendasi
Prancis Favorit, Mbappe...
Prancis Favorit, Mbappe Bidik Rekor Baru saat Hadapi Irak
Tak Ditahan, Roy Suryo...
Tak Ditahan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikenakan Wajib Lapor
Adhyaksa FC Pindah Homebase...
Adhyaksa FC Pindah Homebase ke Kalimantan Tengah, Buka Peluang Ganti Nama Jadi Kalteng FC
Berita Terkini
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved