Tiga Opsi Selamatkan KAI dari Jebakan Utang Kereta Cepat China

Sabtu, 23 Agustus 2025 - 17:00 WIB
loading...
Tiga Opsi Selamatkan...
KAI sebagai pemegang saham mayoritas kereta cepat Whoosh kini didorong mencari solusi agar tidak kian terjerat utang ke China. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Beban utang jumbo proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh terus menjadi sorotan. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, sebagai pemegang saham mayoritas, kini didorong mencari solusi agar tidak kian terjerat kewajiban pembayaran pinjaman ke China Development Bank (CDB) yang nilainya mencapai miliaran dolar AS.

Pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, menyatakan dukungannya terhadap langkah Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membantu restrukturisasi utang KCJB. Menurutnya, setidaknya ada tiga opsi yang bisa menjadi jalan keluar bagi KAI: pengembangan kawasan, peningkatan okupansi Whoosh, dan divestasi sebagian saham pemerintah kepada investor strategis.

Toto menilai pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) menjadi opsi paling realistis untuk menciptakan sumber pendapatan baru di luar penjualan tiket. “Misalnya di kawasan Halim atau stasiun pemberhentian lainnya, pengembangan TOD bisa dilakukan oleh anggota konsorsium, seperti WIKA, yang memiliki akses dan konsesi lahan,” ujarnya saat dihubungi SindoNews, di Jakarta, Sabtu (23/8).

Baca Juga: KAI Digrogoti Utang Whoosh ke China, Bayar Bunga Rp2 Triliun per Tahun

Ia mencontohkan model bisnis Japan Railways East (JR-East) yang sukses meraup pendapatan terbesar bukan dari penjualan tiket, tetapi dari pengembangan kawasan sekitarnya, termasuk pusat perbelanjaan dan properti komersial. "Pendapatan konsolidasi JR-East justru sebagian besar datang dari pengelolaan kawasan. Konsep seperti itu bisa ditiru untuk memperbaiki arus kas KCJB," kata Toto.

Namun, ia mengakui, pengembangan kawasan memerlukan investasi tambahan yang cukup besar. Kondisi ini sulit dilakukan oleh KAI mengingat beban utang proyek kereta cepat yang sudah membengkak. "Solusi jangka pendeknya adalah sebagian beban utang diambil alih Danantara, sehingga KAI bisa punya ruang untuk berinvestasi mengembangkan kawasan," ujarnya.

Selain itu, peningkatan okupansi Whoosh juga dinilai krusial. Saat ini, tingkat keterisian kereta cepat masih di bawah target moderat sekitar 60 persen per hari, sehingga pendapatan dari penjualan tiket jauh dari cukup untuk menutup biaya operasional dan bunga pinjaman.

"Tanpa strategi agresif untuk meningkatkan okupansi, arus pendapatan tetap akan terbatas. Ini berbahaya karena cicilan bunga saja sudah mencapai sekitar Rp2 triliun per tahun," kata Toto.

Baca Juga: Whoosh Bikin Rugi KAI Rp1,6 Triliun, Masuk Rencana Kerja Danantara

Opsi ketiga, menurutnya, adalah melepas sebagian kepemilikan saham pemerintah melalui KAI untuk mengundang investor strategis baru. Saat ini, struktur kepemilikan PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) terdiri dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) sebagai pemegang mayoritas dengan 60 persen, yang di dalamnya KAI memegang porsi 58,53 persen, Wijaya Karya 33,36 persen, Jasa Marga 7,08 persen, dan PTPN VIII 1,03 persen. Sisanya, 40 persen saham dimiliki konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok, Beijing Yawan HSR Co. Ltd.

"Pemerintah bisa mencari strategic investor yang bersedia mengambil sebagian porsi saham di KCIC. Pertanyaannya, apakah ada investor yang tertarik masuk ke proyek ini? Itu tantangannya," ujar Toto.

Ia menambahkan, langkah restrukturisasi yang tepat sangat penting agar KAI tidak semakin tertekan.
"Kalau beban utang tidak segera dikelola, risiko terhadap operasional dan keuangan KAI bisa semakin besar," pungkasnya.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
PT DSI Jadi Perantara...
PT DSI Jadi Perantara Tunggal Ekspor 3 Komoditas, Dony Oskaria: Hingga 31 Desember 2026
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
Danantara Bantah Isu...
Danantara Bantah Isu Pemilik Tabungan Rp3 Miliar Wajib Beli Patriot Bond
AHY Jadi Ketua Komite...
AHY Jadi Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung Geser Luhut, Perpres Baru Diteken Prabowo
Diganjar Rating Negatif...
Diganjar Rating Negatif dari Moody's, Danantara Bilang Begini
Inul Daratista Geram...
Inul Daratista Geram Dituding Gila Hormat, Ungkap Alasan Petugas KAI Melayani Sambil Jongkok
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
Arus Balik Long Weekend...
Arus Balik Long Weekend Padati Whoosh, Separuh Penumpang Bergerak ke Jakarta
Rekomendasi
Cari Tontonan Plot Twist?...
Cari Tontonan Plot Twist? Ini 5 Microdrama V+Short yang Wajib Masuk Watchlist
Hari Ini, Timnas Indonesia...
Hari Ini, Timnas Indonesia vs Australia Berebut Tiket Final di Piala AFF U-19 2026
Prabowo Komitmen Sediakan...
Prabowo Komitmen Sediakan Obat Murah Agar Bisa Diakses Masyarakat
Berita Terkini
Harga BBM dan LPG Subsidi...
Harga BBM dan LPG Subsidi Tak Naik Seperti Pertamax, Bahlil: Itu Perintah Presiden
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Komisi XII Ingatkan Dampaknya terhadap Daya Beli
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Berbagai Jenis ETF Sebelum Berinvestasi
Rupiah Membaik Tinggalkan...
Rupiah Membaik Tinggalkan Level Rp18.000 per USD, Ini Sentimennya
Jaga Distribusi Energi,...
Jaga Distribusi Energi, Elnusa Petrofin Beri Apresiasi Awak Mobil Tangki
Purbaya Targetkan Ekonomi...
Purbaya Targetkan Ekonomi Indonesia Tumbuh 6,5% di 2027
Infografis
3 Proyek Kereta Cepat...
3 Proyek Kereta Cepat Termahal di Dunia, Whoosh Tak Masuk Hitungan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved