Adapundi dan AFPI Perkuat Literasi Kuangan Melalui Edukasi 25 Jam
Rabu, 27 Agustus 2025 - 11:41 WIB
loading...
Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar siaran langsung edukasi dan literasi keuangan selama 25 jam tanpa henti. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar siaran langsung edukasi dan literasi keuangan selama 25 jam tanpa henti pada 21–22 Agustus lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-80 RI sekaligus upaya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan keuangan digital yang aman dan bijak.
Acara bertajuk Live Streaming Edukasi & Literasi 25 Jam Nonstop itu menghadirkan beragam sesi interaktif, termasuk diskusi yang mengangkat topik "Kreativitas dalam Mengelola Keuangan: Belajar dari Penulis dan Banker". Diskusi ini menghadirkan Direktur Utama Adapundi Achmad Indrawan, penulis sekaligus banker Ika Natassa, serta Kepala Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis Direktorat OJK Jawa Barat Yuzirwan.
Baca Juga: Bank Raya Gelar Pesta Raya 2025, Pacu Literasi dan Inklusi Keuangan Digital
Dalam diskusi tersebut, Ika Natassa mengaitkan pengelolaan keuangan dengan proses kreatif dalam dunia kepenulisan. "Dalam menulis ada karakter, ada tujuan, dan ada hambatan. Mengatur keuangan juga sama. Kita harus tahu karakter kita, apa tujuan keuangan yang ingin dicapai, dan hambatan apa yang mungkin menghalangi. Dari situlah kreativitas lahir," ujarnya.
Achmad Indrawan menambahkan setiap individu perlu memiliki tujuan keuangan yang jelas agar dapat membuat perencanaan yang realistis. "Jika pendapatan kita kurang, kita harus berani berinovasi dan kreatif mencari tambahan penghasilan. Itu kunci pengelolaan keuangan yang sehat," katanya.
Sementara, Yuzirwan dari OJK menekankan pentingnya kreativitas yang didukung oleh pengetahuan yang memadai. "Kreativitas harus dibarengi pemahaman yang benar mengenai produk keuangan. Jangan lupa juga untuk selalu mengecek legalitas produk dan memastikan hanya menggunakan layanan keuangan yang terdaftar di OJK dan AFPI," ujarnya.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi industri fintech untuk menunjukkan bahwa kemudahan akses keuangan digital harus berjalan seiring dengan aspek keamanan, etika, dan literasi keuangan yang baik.
Adapundi, salah satu anggota AFPI, menilai partisipasi mereka dalam kegiatan ini sebagai wujud nyata komitmen mendorong masyarakat menjadi peminjam yang cerdas dan bertanggung jawab. "Kami ingin masyarakat semakin memahami pentingnya perencanaan keuangan yang matang agar dapat mengelola keuangannya dengan lebih bijak," kata Achmad.
Baca Juga: Kasus Pembunuhan Kepala Cabang Bank, Polisi Tetapkan 15 Tersangka
Selain diskusi, acara ini juga menampilkan beragam sesi edukasi keuangan lainnya, mulai dari pengelolaan utang, investasi yang aman, hingga strategi meningkatkan pendapatan keluarga. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem keuangan digital yang sehat sekaligus mengurangi risiko terjerat praktik keuangan ilegal.
Sebagai catatan, kegiatan tersebut juga berhasil mencatatkan prestasi nasional dengan meraih pengakuan sebagai siaran literasi keuangan daring terpanjang dalam sejarah, menurut Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Acara bertajuk Live Streaming Edukasi & Literasi 25 Jam Nonstop itu menghadirkan beragam sesi interaktif, termasuk diskusi yang mengangkat topik "Kreativitas dalam Mengelola Keuangan: Belajar dari Penulis dan Banker". Diskusi ini menghadirkan Direktur Utama Adapundi Achmad Indrawan, penulis sekaligus banker Ika Natassa, serta Kepala Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis Direktorat OJK Jawa Barat Yuzirwan.
Baca Juga: Bank Raya Gelar Pesta Raya 2025, Pacu Literasi dan Inklusi Keuangan Digital
Dalam diskusi tersebut, Ika Natassa mengaitkan pengelolaan keuangan dengan proses kreatif dalam dunia kepenulisan. "Dalam menulis ada karakter, ada tujuan, dan ada hambatan. Mengatur keuangan juga sama. Kita harus tahu karakter kita, apa tujuan keuangan yang ingin dicapai, dan hambatan apa yang mungkin menghalangi. Dari situlah kreativitas lahir," ujarnya.
Achmad Indrawan menambahkan setiap individu perlu memiliki tujuan keuangan yang jelas agar dapat membuat perencanaan yang realistis. "Jika pendapatan kita kurang, kita harus berani berinovasi dan kreatif mencari tambahan penghasilan. Itu kunci pengelolaan keuangan yang sehat," katanya.
Sementara, Yuzirwan dari OJK menekankan pentingnya kreativitas yang didukung oleh pengetahuan yang memadai. "Kreativitas harus dibarengi pemahaman yang benar mengenai produk keuangan. Jangan lupa juga untuk selalu mengecek legalitas produk dan memastikan hanya menggunakan layanan keuangan yang terdaftar di OJK dan AFPI," ujarnya.
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi industri fintech untuk menunjukkan bahwa kemudahan akses keuangan digital harus berjalan seiring dengan aspek keamanan, etika, dan literasi keuangan yang baik.
Adapundi, salah satu anggota AFPI, menilai partisipasi mereka dalam kegiatan ini sebagai wujud nyata komitmen mendorong masyarakat menjadi peminjam yang cerdas dan bertanggung jawab. "Kami ingin masyarakat semakin memahami pentingnya perencanaan keuangan yang matang agar dapat mengelola keuangannya dengan lebih bijak," kata Achmad.
Baca Juga: Kasus Pembunuhan Kepala Cabang Bank, Polisi Tetapkan 15 Tersangka
Selain diskusi, acara ini juga menampilkan beragam sesi edukasi keuangan lainnya, mulai dari pengelolaan utang, investasi yang aman, hingga strategi meningkatkan pendapatan keluarga. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman masyarakat terhadap ekosistem keuangan digital yang sehat sekaligus mengurangi risiko terjerat praktik keuangan ilegal.
Sebagai catatan, kegiatan tersebut juga berhasil mencatatkan prestasi nasional dengan meraih pengakuan sebagai siaran literasi keuangan daring terpanjang dalam sejarah, menurut Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
(nng)
Lihat Juga :