Manajemen Risiko Kunci Tingkatkan Kapasitas SDM di Era Bisnis Dinamis
Kamis, 28 Agustus 2025 - 21:11 WIB
loading...
PLN UP2B Sistem Makassar memperkuat kompetensi SDM melalui pelatihan manajemen risiko. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) Sistem Makassar memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan manajemen risiko. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap karyawan memiliki pemahaman memadai dalam mengidentifikasi, menganalisis dan mengendalikan risiko yang bisa memengaruhi keberlangsungan operasional perusahaan.
Pelatihan bertajuk Quantitative Risk Management ini diikuti 11 peserta dan digelar intensif selama dua hari pada akhir Juli 2025. Materi yang diberikan mencakup teori hingga simulasi proyek nyata, guna membekali para peserta dengan keterampilan praktis dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Kemampuan mengelola risiko menjadi salah satu aspek krusial di tengah dinamika bisnis yang kian kompleks. Dengan kompetensi yang memadai, perusahaan dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan.
Baca Juga: Kinerja Kredit Melempem, Sinyal Ekonomi Indonesia Masih Lesu
Menurutnya pelatihan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan teoretis tetapi juga melatih pola pikir analitis agar karyawan mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data dan perhitungan akurat. "Hasilnya, tidak hanya meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga memperkuat ketahanan organisasi secara keseluruhan," jelasnya.
Salah satu peserta pelatihan, Tiara Dwi, merasakan banyak manfaat dari kegiatan ini. Ia mencontohkan, nilai rata-rata peserta meningkat signifikan, dari 49,3 pada pre-test menjadi 88,6 di post-test.
"Ini membuktikan bahwa materi yang diberikan sangat bisa kami pahami. Kami jadi lebih siap menerapkan konsep manajemen risiko, terutama saat harus mengambil keputusan penting dalam proyek," ungkap Tiara.
Baca Juga: Tumbuh 107%, PLN EPI Raih Laba Rp2,24 Triliun Sepanjang 2024
Ia menambahkan, pemahaman baru yang diperoleh membuatnya dan rekan-rekan lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan kerja sehari-hari. "Kalau kompetensi karyawan semakin baik, otomatis kerja sama dengan pihak luar bisa lebih kuat," tutupnya.
Pelatihan bertajuk Quantitative Risk Management ini diikuti 11 peserta dan digelar intensif selama dua hari pada akhir Juli 2025. Materi yang diberikan mencakup teori hingga simulasi proyek nyata, guna membekali para peserta dengan keterampilan praktis dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Kemampuan mengelola risiko menjadi salah satu aspek krusial di tengah dinamika bisnis yang kian kompleks. Dengan kompetensi yang memadai, perusahaan dapat menjaga stabilitas operasional sekaligus meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan.
Baca Juga: Kinerja Kredit Melempem, Sinyal Ekonomi Indonesia Masih Lesu
Menurutnya pelatihan ini tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan teoretis tetapi juga melatih pola pikir analitis agar karyawan mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan data dan perhitungan akurat. "Hasilnya, tidak hanya meningkatkan kemampuan individu, tetapi juga memperkuat ketahanan organisasi secara keseluruhan," jelasnya.
Salah satu peserta pelatihan, Tiara Dwi, merasakan banyak manfaat dari kegiatan ini. Ia mencontohkan, nilai rata-rata peserta meningkat signifikan, dari 49,3 pada pre-test menjadi 88,6 di post-test.
"Ini membuktikan bahwa materi yang diberikan sangat bisa kami pahami. Kami jadi lebih siap menerapkan konsep manajemen risiko, terutama saat harus mengambil keputusan penting dalam proyek," ungkap Tiara.
Baca Juga: Tumbuh 107%, PLN EPI Raih Laba Rp2,24 Triliun Sepanjang 2024
Ia menambahkan, pemahaman baru yang diperoleh membuatnya dan rekan-rekan lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan kerja sehari-hari. "Kalau kompetensi karyawan semakin baik, otomatis kerja sama dengan pihak luar bisa lebih kuat," tutupnya.
(nng)
Lihat Juga :