Jakarta Memanas, Rupiah Merana Sentuh Level Rp16.499 per Dolar AS
Jum'at, 29 Agustus 2025 - 16:39 WIB
loading...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan, Jumat (29/8/2025) usai merosot 147 poin atau sekitar 0,90% ke level Rp16.499 per dolar AS. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) ditutup melemah pada akhir perdagangan, Jumat (29/8/2025) usai merosot 147 poin atau sekitar 0,90% ke level Rp16.499 per dolar AS. Selain sentimen asing, kondisi di dalam negeri dengan aksi demonstrasi yang mengepung Jakarta ikut mempengaruhi pergerakan kursrupiah .
Pelemahan rupiah juga terlihat sangat dalam berdasarkan data JISDOR Bank Indonesia (BI), dimana hari ini ambruk ke posisi Rp16.461 per USD. Posisi tersebut lebih rendah dari peringkat kemarin di Rp16.356 per USD.
Dari sentimen dalam negeri, ketegangan sosial dan politik dalam negeri yang memanas sejak Kamis (28/8/2025). Apalagi bumbu-bumbu sebelumnya dimana pemerintah akan memberikan tunjangan untuk perumahan terhadap DPR, ini pun juga membuat satu ketegangan tersendiri.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Babak Belur Imbas Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob
Ditambah bersamaan dengan pejabat di pemerintahan melakukan korupsi yang cukup masif. Carut-marut ini yang membuat pasar sedikit apatis terhadap perpolitikan di Indonesia.
Semakin panasnya kondisi sosial dan politik di Indonesia imbas adanya korban jiwa pada aksi demonstrasi. Kabar adanya korban jiwa ini mulai ramai di kalangan masyarakat sejak malam tadi sehingga menyebabkan kondisi demonstrasi semakin tereskalasi.
Selain itu, birokrasi yang kental dengan kolusi dan nepotisme, membuat kecemburuan tersendiri bagi para profesional lainnya yang selama ini masih belum memiliki job, sehingga wajar ketimpangan semakin tajam dalam pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.490 - Rp16.520 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menerangkan, pelemahan rupiah juga berasal dari dari AS menunjukkan bahwa ekonomi tumbuh dengan pesat, melampaui proyeksi dan pembacaan awal untuk kuartal kedua tahun 2025.
“Selain itu, jumlah warga Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran menurun, sebuah tanda kekuatan di pasar tenaga kerja,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (29/8/2025).
Adapun Pengukuran kedua Produk Domestik Bruto (PDB) Quarter ke-2 tahun ini menunjukkan ekspansi tahunan sebesar 3,3 persen, melampaui proyeksi 3,1 persen dan naik dari 3,0 persen sebelumnya, sementara Klaim Pengangguran Awal turun menjadi 229.000, sedikit lebih baik dari konsensus 230.000 dan turun dari revisi 234.000.
Bloomberg mengungkapkan bahwa Gubernur The Fed Lisa Cook "menggugat Presiden Donald Trump atas upaya pemecatannya atas dugaan penipuan hipotek, yang memicu pertikaian bersejarah atas independensi bank sentral AS.".
Sementara itu Reuters melaporkan, bahwa Gubernur Federal Reserve Christopher Waller akan mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan bulan September dan penurunan lebih lanjut selama tiga hingga enam bulan ke depan untuk mencegah pasar tenaga kerja kolaps.
Selain itu, harapan perdamaian telah meredup setelah Presiden AS Donald Trump pekan lalu mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengadakan perundingan langsung sebelum mempertimbangkan pertemuan puncak trilateral yang diselenggarakan oleh Washington.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Setiap Rupiah Uang Rakyat Harus Kita Jaga
Meskipun Trump menawarkan jaminan keamanan AS selain pengerahan pasukan, belum ada tanggal atau tempat pertemuan yang ditetapkan, dan para analis melihat sedikit kemajuan dalam waktu dekat. Sementara itu, Rusia melancarkan gelombang serangan mematikan baru di Kyiv, merusak gedung-gedung yang menampung misi Uni Eropa dan British Council.
Dalam sebuah langkah yang terkait dengan agresi India dalam membeli minyak mentah Rusia, tarif tambahan AS sebesar 25% untuk impor India mulai berlaku pada hari Rabu, menggandakan total bea masuk menjadi 50% mulai 27 Agustus. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan yang lebih luas yang bertujuan untuk mengekang hubungan India dengan Rusia di tengah perang Ukraina.
Pelemahan rupiah juga terlihat sangat dalam berdasarkan data JISDOR Bank Indonesia (BI), dimana hari ini ambruk ke posisi Rp16.461 per USD. Posisi tersebut lebih rendah dari peringkat kemarin di Rp16.356 per USD.
Dari sentimen dalam negeri, ketegangan sosial dan politik dalam negeri yang memanas sejak Kamis (28/8/2025). Apalagi bumbu-bumbu sebelumnya dimana pemerintah akan memberikan tunjangan untuk perumahan terhadap DPR, ini pun juga membuat satu ketegangan tersendiri.
Baca Juga: Rupiah dan IHSG Babak Belur Imbas Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob
Ditambah bersamaan dengan pejabat di pemerintahan melakukan korupsi yang cukup masif. Carut-marut ini yang membuat pasar sedikit apatis terhadap perpolitikan di Indonesia.
Semakin panasnya kondisi sosial dan politik di Indonesia imbas adanya korban jiwa pada aksi demonstrasi. Kabar adanya korban jiwa ini mulai ramai di kalangan masyarakat sejak malam tadi sehingga menyebabkan kondisi demonstrasi semakin tereskalasi.
Selain itu, birokrasi yang kental dengan kolusi dan nepotisme, membuat kecemburuan tersendiri bagi para profesional lainnya yang selama ini masih belum memiliki job, sehingga wajar ketimpangan semakin tajam dalam pemerintahan Prabowo-Gibran saat ini.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp16.490 - Rp16.520 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi menerangkan, pelemahan rupiah juga berasal dari dari AS menunjukkan bahwa ekonomi tumbuh dengan pesat, melampaui proyeksi dan pembacaan awal untuk kuartal kedua tahun 2025.
“Selain itu, jumlah warga Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran menurun, sebuah tanda kekuatan di pasar tenaga kerja,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (29/8/2025).
Adapun Pengukuran kedua Produk Domestik Bruto (PDB) Quarter ke-2 tahun ini menunjukkan ekspansi tahunan sebesar 3,3 persen, melampaui proyeksi 3,1 persen dan naik dari 3,0 persen sebelumnya, sementara Klaim Pengangguran Awal turun menjadi 229.000, sedikit lebih baik dari konsensus 230.000 dan turun dari revisi 234.000.
Bloomberg mengungkapkan bahwa Gubernur The Fed Lisa Cook "menggugat Presiden Donald Trump atas upaya pemecatannya atas dugaan penipuan hipotek, yang memicu pertikaian bersejarah atas independensi bank sentral AS.".
Sementara itu Reuters melaporkan, bahwa Gubernur Federal Reserve Christopher Waller akan mendukung penurunan suku bunga pada pertemuan bulan September dan penurunan lebih lanjut selama tiga hingga enam bulan ke depan untuk mencegah pasar tenaga kerja kolaps.
Selain itu, harapan perdamaian telah meredup setelah Presiden AS Donald Trump pekan lalu mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengadakan perundingan langsung sebelum mempertimbangkan pertemuan puncak trilateral yang diselenggarakan oleh Washington.
Baca Juga: Presiden Prabowo: Setiap Rupiah Uang Rakyat Harus Kita Jaga
Meskipun Trump menawarkan jaminan keamanan AS selain pengerahan pasukan, belum ada tanggal atau tempat pertemuan yang ditetapkan, dan para analis melihat sedikit kemajuan dalam waktu dekat. Sementara itu, Rusia melancarkan gelombang serangan mematikan baru di Kyiv, merusak gedung-gedung yang menampung misi Uni Eropa dan British Council.
Dalam sebuah langkah yang terkait dengan agresi India dalam membeli minyak mentah Rusia, tarif tambahan AS sebesar 25% untuk impor India mulai berlaku pada hari Rabu, menggandakan total bea masuk menjadi 50% mulai 27 Agustus. Langkah ini merupakan bagian dari tekanan yang lebih luas yang bertujuan untuk mengekang hubungan India dengan Rusia di tengah perang Ukraina.
(akr)
Lihat Juga :