India Incar Transaksi Rp1.600 Triliun Tanpa Dolar AS dengan BRICS
Senin, 01 September 2025 - 22:10 WIB
loading...
India secara aktif mendorong negara-negara BRICS untuk melakukan penyelesaian transaksi dagang tanpa dolar AS. FOTO/iStock
A
A
A
JAKARTA - India secara aktif mendorong negara-negara anggota BRICS untuk melakukan penyelesaian transaksi dagang senilai hingga USD100 miliar per tahun menggunakan mata uang rupee. Langkah ini merupakan bagian dari upaya New Delhi untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan memperkuat posisi rupee di kancah global.
Bank Sentral India (RBI) baru-baru ini mengirimkan surat edaran kepada negara-negara BRICS dan mitra dagang lainnya, mengizinkan penyelesaian transaksi perdagangan secara langsung dalam rupee. Ini akan difasilitasi melalui pembukaan akun Vostro khusus, yang memungkinkan perusahaan asing membeli produk India langsung dengan mata uang lokal.
Baca Juga: Bertemu di China, Modi dan Putin Terlihat Makin Mesra di Tengah Tekanan AS
Selain itu, RBI telah menginstruksikan bank-bank milik negara untuk memfasilitasi transaksi bisnis ini tanpa memerlukan persetujuan sebelumnya, meskipun mereka tetap diwajibkan untuk memenuhi standar KYC (Know Your Customer) yang ketat.
Managing Editor Khaleej Times, Issac John mengungkapkan, sebuah laporan dari RBI menunjukkan bahwa sekitar 85% dari transaksi lintas batas India saat ini masih diselesaikan dalam dolar AS. Ini membuka peluang bagi India untuk mengalihkan sekitar 10-15 persen dari total transaksi tersebut ke dalam rupee.
John memperkirakan bahwa jika India berhasil mengisi celah ini bersama negara-negara BRICS, aliran dana sebesar USD100 miliar per tahun bisa masuk dalam mata uang lokal. Angka ini setara Rp1.600 triliun jika dihitung berdasarkan nilai tukar saat ini, yang akan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian India.
"Bahkan jika 10-15 persen dari perdagangan bergeser ke rupee, itu bisa mencapai lebih dari USD100 miliar dalam aliran tahunan, memberikan rupee jejak global yang lebih kuat," tulis John dalam artikelnya dikutip dari Watcher Guru, Senin (1/9).
Dia menekankan bahwa India harus mendorong BRICS untuk memanfaatkan celah ini melalui akun Vostro khusus. Tantangan serupa juga diungkapkan oleh Ajay Sahai, Direktur Jenderal Federasi Organisasi Ekspor India (FIEO).
Baca Juga: Media Rusia: Miliarder Yahudi George Soros Diduga Dalangi Demo Ricuh di Indonesia
Menurutnya, dunia saat ini tengah bergerak menuju sistem perdagangan multi-mata uang, dan India harus proaktif menginternasionalisasi rupee, mirip dengan upaya Tiongkok untuk mengglobalisasikan yuan.
"Dengan menginternasionalisasi rupee, India memposisikan diri untuk mendapatkan keuntungan dari pergeseran rantai pasokan. Sekaligus mengurangi biaya transaksi bagi eksportir dan importir yang selama ini sangat terpapar volatilitas dolar," kata Sahai.
Kunci untuk mencapai tujuan ambisius ini adalah dengan memberikan insentif yang menarik bagi negara-negara anggota BRICS agar mereka bersedia menggunakan rupee dalam perdagangan. Langkah ini tidak hanya strategis dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari visi India untuk membangun kemandirian finansial dan pengaruh yang lebih besar di panggung dunia.
Bank Sentral India (RBI) baru-baru ini mengirimkan surat edaran kepada negara-negara BRICS dan mitra dagang lainnya, mengizinkan penyelesaian transaksi perdagangan secara langsung dalam rupee. Ini akan difasilitasi melalui pembukaan akun Vostro khusus, yang memungkinkan perusahaan asing membeli produk India langsung dengan mata uang lokal.
Baca Juga: Bertemu di China, Modi dan Putin Terlihat Makin Mesra di Tengah Tekanan AS
Selain itu, RBI telah menginstruksikan bank-bank milik negara untuk memfasilitasi transaksi bisnis ini tanpa memerlukan persetujuan sebelumnya, meskipun mereka tetap diwajibkan untuk memenuhi standar KYC (Know Your Customer) yang ketat.
Managing Editor Khaleej Times, Issac John mengungkapkan, sebuah laporan dari RBI menunjukkan bahwa sekitar 85% dari transaksi lintas batas India saat ini masih diselesaikan dalam dolar AS. Ini membuka peluang bagi India untuk mengalihkan sekitar 10-15 persen dari total transaksi tersebut ke dalam rupee.
John memperkirakan bahwa jika India berhasil mengisi celah ini bersama negara-negara BRICS, aliran dana sebesar USD100 miliar per tahun bisa masuk dalam mata uang lokal. Angka ini setara Rp1.600 triliun jika dihitung berdasarkan nilai tukar saat ini, yang akan memberikan dorongan signifikan bagi perekonomian India.
"Bahkan jika 10-15 persen dari perdagangan bergeser ke rupee, itu bisa mencapai lebih dari USD100 miliar dalam aliran tahunan, memberikan rupee jejak global yang lebih kuat," tulis John dalam artikelnya dikutip dari Watcher Guru, Senin (1/9).
Dia menekankan bahwa India harus mendorong BRICS untuk memanfaatkan celah ini melalui akun Vostro khusus. Tantangan serupa juga diungkapkan oleh Ajay Sahai, Direktur Jenderal Federasi Organisasi Ekspor India (FIEO).
Baca Juga: Media Rusia: Miliarder Yahudi George Soros Diduga Dalangi Demo Ricuh di Indonesia
Menurutnya, dunia saat ini tengah bergerak menuju sistem perdagangan multi-mata uang, dan India harus proaktif menginternasionalisasi rupee, mirip dengan upaya Tiongkok untuk mengglobalisasikan yuan.
"Dengan menginternasionalisasi rupee, India memposisikan diri untuk mendapatkan keuntungan dari pergeseran rantai pasokan. Sekaligus mengurangi biaya transaksi bagi eksportir dan importir yang selama ini sangat terpapar volatilitas dolar," kata Sahai.
Kunci untuk mencapai tujuan ambisius ini adalah dengan memberikan insentif yang menarik bagi negara-negara anggota BRICS agar mereka bersedia menggunakan rupee dalam perdagangan. Langkah ini tidak hanya strategis dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari visi India untuk membangun kemandirian finansial dan pengaruh yang lebih besar di panggung dunia.
(nng)
Lihat Juga :