13 Perusahaan Besi dan Baja Lulus CAP Batch 3.0, Perkuat Transisi Rendah Karbon Indonesia

Rabu, 10 September 2025 - 21:22 WIB
loading...
13 Perusahaan Besi dan...
Kelulusan 13 perusahaan besi dan baja dari program Corporate Assistance Program (CAP) Batch 3.0 menjadi bukti bahwa pelaku industri mulai mengambil langkah konkret menuju ekonomi rendah karbon. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Sektor swasta memegang peran kunci dalam mendukung dekarbonisasi nasional, salah satunya di industri berat seperti besi dan baja yang tergolong emisi-intensif. Diketahui, sektor industri menyumbang sekitar 34% emisi nasional, dengan subsektor besi dan baja menjadi salah satu penyumbang terbesar.

Pada 2023, emisi besi dan baja menghasilkan sekitar 32 juta tCO₂e, setara dengan 2,6% dari total emisi Indonesia. Subsektor tersebut juga menyumbang sekitar 7-9% dari total emisi CO₂ global.

Kelulusan 13 perusahaan besi dan baja dari program Corporate Assistance Program (CAP) Batch 3.0 yang difasilitasi KADIN Net Zero Hub, WRI Indonesia, dan IBCSD menjadi bukti bahwa pelaku industri mulai mengambil langkah konkret menuju ekonomi rendah karbon . Melalui pendampingan teknis intensif, perusahaan telah menyusun strategi dekarbonisasi awal yang sejalan dengan target nasional net-zero 2050 dan komitmen global untuk mengatasi krisis iklim.

Baca Juga: Krakatau Posco Pacu Daya Saing Global Lewat Produk Baja Rendah Karbon

Dalam acara KADIN NZH Corporate Assistance Program (CAP) Batch 3.0 Graduation yang berlangsung di Jakarta, Wakil Ketua Umum KADIN Bidang SDM, Kebudayaan, dan Pembangunan Berkelanjutan, Shinta W. Kamdani menyampaikan, “Satu pesan sederhana yang bisa kita simpulkan: dekarbonisasi bukan beban, tetapi peluang terbesar kita untuk meneguhkan Indonesia menjadi pemain penting di kancah global, sekaligus menjaga agar bumi nusantara tetap menjadi rumah yang layak untuk generasi mendatang.”

Menurutnya, partisipasi sektor besi dan baja dalam CAP Batch 3.0 menandai tonggak penting bagi perjalanan dekarbonisasi industri. “CAP telah memberikan alat navigasi yang sangat relevan dengan arah kebijakan dan dinamika pasar. Peserta kini bukan hanya tahu “mengapa harus dekarbonisasi”, tetapi juga “bagaimana melakukannya secara nyata”, dan lebih penting lagi, bagaimana memimpin tim, komunitas, dan rantai pasok untuk ikut bergerak bersama.”

Acara ini merupakan ajang pemberian apresiasi kepada para perusahaan yang telah menyelesaikan program CAP. CAP Batch 3.0 resmi dimulai 29 April 2025 dan telah berjalan selama lima bulan. Melalui program ini, peserta mendapatkan dukungan untuk menyusun inventarisasi emisi gas rumah kaca (GHG), menetapkan target berbasis sains, dan merancang strategi awal dekarbonisasi.

Proses pendampingan dilakukan melalui pelatihan, berbagi praktik terbaik, konsultasi 1:1 dengan mentor, serta penggunaan alat perhitungan yang telah disesuaikan dengan sektor besi dan baja, serta disusun dalam empat modul tematik: Emissions Inventory, Target Setting, Strategy Implementation, serta Reporting and Disclosure.

Direktur Industri Logam Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian, Dodiet Prasetyo yang turut hadir dalam acara ini, menyebutkan bahwa inisiatif seperti CAP sejalan dengan arah kebijakan nasional, termasuk penyusunan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri oleh Kementerian Perindustrian.

“Hadirnya program CAP Batch 3.0 adalah wujud nyata komitmen dunia usaha dalam mendukung agenda dekarbonisasi industri. Pemerintah menyambut baik dan akan terus memberikan dukungan agar inisiatif-inisiatif seperti ini dapat berjalan beriringan dengan kebutuhan industri nasional, sehingga semakin memperkuat langkah bersama menuju industri rendah karbon," jelasnya.

Peta Jalan tersebut mencakup 9 subsektor lahap energi, termasuk besi dan baja, sebagai bagian dari upaya transisi menuju industri nasional yang rendah emisi dan berdaya saing di masa depan.

Senior Manager of Energy and Sustainable Business WRI Indonesia, Clorinda Wibowo menyampaikan, “Pendampingan dalam program CAP fokus pada pembangunan kapasitas internal perusahaan agar siap menghadapi dinamika perubahan regulasi, tuntutan pasar, dan ekspektasi investor terkait keberlanjutan. Tujuan utama program CAP adalah memastikan setiap perusahaan memiliki pendekatan dekarbonisasi yang berbasis sains, terukur, dan sejalan dengan praktik global serta preferensi investor yang kian berfokus pada aksi iklim yang konkret.”

Direktur Eksekutif Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), Dr. Indah Budiani menegaskan, bahwa keberhasilan program ini merupakan hasil dari kerja bersama yang erat antar berbagai pemangku kepentingan.

“Kolaborasi lintas sektor yang terbangun melalui program ini membuktikan bahwa dekarbonisasi adalah perjalanan kolektif. Perusahaan, pemerintah, hingga penyedia solusi harus berjalan beriringan. Melalui CAP Batch 3.0, kita tidak hanya melihat peningkatan kapasitas teknis perusahaan, tetapi juga terbentuknya jejaring kolaborasi yang akan terus berlanjut,” ujarnya.

13 perusahaan yang berhasil menyelesaikan CAP Batch 3.0 adalah PT Bakrie Metal Industries, PT Bakrie Pipe Industries, PT Dexin Steel Indonesia, PT Fumira, PT Krakatau Baja Industri, PT Krakatau Baja Konstruksi, PT Krakatau Pipe Industries, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Southeast Asia Pipe Industries, PT Tatalogam Lestari, PT Tata Metal Lestari, PT The Master Steel Manufactory, dan PT Tri Sinar Purnama.

Seluruh perusahaan tersebut kini memiliki inventarisasi emisi yang mengacu pada panduan GHG Protocol dan hasil simulasi target pengurangan emisi berbasis sains, serta rancangan awal strategi dekarbonisasi, sehingga dapat menjadi pijakan awal untuk implementasi dekarbonisasi perusahaan.

Dengan kelulusan batch ketiga ini, total lebih dari 43 perusahaan telah mengikuti program CAP sejak diluncurkan pada 2022. Batch pertama telah mendampingi perusahaan di sektor makanan, tekstil, dan manufaktur, dengan hasil nyata berupa perusahaan-perusahaan yang berhasil menetapkan komitmen dan mengajukan target pengurangan emisi ke Science Based Targets initiative (SBTi).

Batch kedua, yang dilaksanakan bersama Adidas Indonesia, berhasil mengajak 20 perusahaan dalam rantai pasoknya untuk menetapkan target iklim. Kini, batch ketiga memperluas cakupan ke sektor besi dan baja, menandai komitmen untuk menyentuh sektor dengan intensitas emisi tinggi.

Perusahaan peserta CAP Batch 3.0 kali ini merasa mendapatkan manfaat dari adanya pendampingan teknis yang komprehensif, salah satunya PT Tata Metal Lestari yang mendapatkan penghargaan ‘Best Graduate’ dari program CAP.

"Program CAP Batch 3.0 membantu kami memahami langkah-langkah dekarbonisasi secara nyata, mulai dari menghitung emisi hingga menetapkan target berbasis sains. Penghargaan sebagai ‘Best Graduate’ juga menjadi dorongan semangat untuk terus konsisten dalam perjalanan menuju bisnis rendah karbon melalui produk baja lapis yang perusahaan kami hasilkan," ujar VP of Capital Planning PT Tata Metal Lestari, Nicolas Bagus Setiabudi Koeswandi.

Baca Juga: Industri Besi dan Baja Menuju Emisi Nol Bersih, Kadin Net Zero Hub Perkuat Pendampingan

KADIN NZH akan terus melanjutkan program CAP dengan memperluas cakupan sektor yang didampingi. Dengan dukungan dari berbagai mitra strategis, termasuk WRI Indonesia dan IBCSD, KADIN NZH berkomitmen menjadi wadah kolaborasi yang memperkuat peran sektor swasta dalam pencapaian target iklim nasional.

Selain melalui program CAP, KADIN NZH juga menghadirkan Net Zero Learning Hub (NZLH), sebuah platform pembelajaran daring yang memperluas akses edukasi net-zero bagi dunia usaha. Melalui NZLH, pelaku industri dapat terus membangun kapasitas internal secara mandiri melalui modul pembelajaran, diskusi bersama pakar, dan alat bantu praktis.

Inisiatif seperti CAP dan NZLH dapat memperkuat ekosistem pembelajaran dan pendampingan yang berkelanjutan, sehingga transisi industri menuju emisi nol bersih dapat dilakukan secara lebih inklusif, terarah, dan berdampak.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pertamina Akselerasi...
Pertamina Akselerasi Transisi Energi Melalui Program Dekarbonisasi dan Bisnis Rendah Karbon
Dari Banten untuk Indonesia:...
Dari Banten untuk Indonesia: Krakatau Steel dan Hebei Perkuat Ekosistem Baja Nasional
Ketahanan Energi Nasional...
Ketahanan Energi Nasional Dinilai Masih Rapuh di Tengah Tekanan Global
IBCSD Dorong Percepatan...
IBCSD Dorong Percepatan Investasi Iklim untuk Dekarbonisasi Industri melalui Forum Bisnis
Pertamina dan ERIA Perkuat...
Pertamina dan ERIA Perkuat Kemitraan Strategis di Bidang Transisi Energi
Transisi Energi Sektor...
Transisi Energi Sektor Batu Bara Terkendala Biaya dan Regulasi
ANDALAS Forum VI Digelar...
ANDALAS Forum VI Digelar di Palembang, Sinergi Energi Jadi Sorotan
Legislator PAN Dorong...
Legislator PAN Dorong Pemerintah Terus Upayakan Transisi Energi Ramah Lingkungan
IISM Dorong Transisi...
IISM Dorong Transisi Energi Berkeadilan bagi Masyarakat
Rekomendasi
Mengapa Pemain Spanyol...
Mengapa Pemain Spanyol Tidak Menyanyikan Lagu Kebangsaan di Piala Dunia 2026?
Ford Batal Gunakan Baterai...
Ford Batal Gunakan Baterai LFP untuk Mobil Listriknya
Hasil Piala Dunia 2026:...
Hasil Piala Dunia 2026: Maxi Araujo Selamatkan Uruguay dari Kejutan Arab Saudi
Berita Terkini
Sambut Kabar Damai AS-Iran,...
Sambut Kabar Damai AS-Iran, Harga Bitcoin Melesat Tembus USD65.900
Kapal Tanker India Lintasi...
Kapal Tanker India Lintasi Selat Hormuz, Tandai Pulihnya Jalur Strategis usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Ini Prinsip Dasar Manajemen...
Ini Prinsip Dasar Manajemen Risiko yang Wajib Dipahami Setiap Trader Forex
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
Hasil Seleksi Pelatihan...
Hasil Seleksi Pelatihan Vokasi Batch 2 Diumumkan 18 Juni 2026, Begini Cara Aksesnya
Harga Tiket Whoosh Pakai...
Harga Tiket Whoosh Pakai Skema Dinamis Sambut Libur Sekolah Plus Long Weekend, Termurah Rp250 Ribu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved