Ekonom Kritik Kebijakan SAL: Berutang Ugal-ugalan dan Potensi Pengelolaan Tak Optimal

Senin, 15 September 2025 - 12:46 WIB
loading...
Ekonom Kritik Kebijakan...
Saldo Anggaran Lebih (SAL) menjadi sorotan setelah Menkeu Purbaya memindahkan dana Rp200 triliun ke bank Himbara. Menurut ekonom, akumulasi SAL yang besar adalah akibat dari praktik berutang ugal-ugalan. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky mengkritik kebijakan pemerintah terkait Saldo Anggaran Lebih (SAL), yang baru-baru ini menjadi sorotan setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan penempatandana Rp200 triliun ke bank Himbara. Menurutnya, akumulasi SAL yang besar adalah akibat dari praktik "berutang ugal-ugalan" selama era pemerintahan sebelumnya.

Lebih lanjut, ia mencurigai adanya potensi pengelolaan SAL yang tidak optimal dan dapat "menyamarkan" praktik buruk."Masalahnya menjadi lebih kompleks jika ternyata dana SAL selama ini memang amat diandalkan untuk kebutuhan kas temporer Pemerintah. Kemungkinan juga untuk 'membantu' likuiditas beberapa BUMN dan Badan Hukum Lainnya milik negara," ujar Awalil dalam keterangannya, Senin (15/9/2025).

Sambung Awalil menjelaskan, meskipun Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) era reformasi selalu defisit, pemerintah sering menarik utang yang melebihi kebutuhan untuk menutup defisit. Fenomena ini menciptakan Sisa Lebih Pembiayaan (SiLPA) yang kemudian terakumulasi menjadi SAL.

Baca Juga: Ekonom: Dana Rp200 Triliun ke Bank Negara Bukan Solusi Ajaib bagi Aktivitas Kredit

Ia menyoroti lonjakan SiLPA yang drastis, dari Rp53,39 triliun pada 2019 menjadi Rp245,60 triliun pada 2020. Menurutnya, meskipun saat itu terjadi pandemi, penarikan utang tetap dilakukan besar-besaran, jauh melampaui defisit.

Awalil menyebut, bahwa posisi SAL terus membesar dari Rp212,70 triliun pada 2019 menjadi Rp478,96 triliun pada 2022. Peningkatan ini menunjukkan bahwa sejak era pertama pemerintahan Jokowi (Joko Widodo), utang selalu lebih besar dari kebutuhan pembiayaan defisit.

Ia berpandangan bahwa tingginya utang pemerintah membawa konsekuensi berupa biaya besar, tercermin dari peningkatan pembayaran bunga.

Awalil mempertanyakan, mengapa pemerintah tidak memilih menggunakan SAL untuk mengurangi utang, yang berpotensi menurunkan pembayaran bunga dan risiko refinancing. Baca Juga: Utang Jatuh Tempo Indonesia Rp800 Triliun, DPR Desak Menkeu Purbaya Susun Strategi

Menurutnya, narasi bahwa pemindahan dana tersebut akan berdampak besar pada sektor riil atau pertumbuhan ekonomi bisa jadi berlebihan, terutama karena dana yang dipindahkan berupa deposit on call, yang menguatkan dugaan bahwa penggunaannya bersifat temporer.

"Jelas bahwa kinerja SAL selama ini merupakan akibat dari berutang yang ugal-ugalan selama era Jokowi," pungkas Awalil.

(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Utang Pemerintah Bengkak...
Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara
Begini Hasil Pertemuan...
Begini Hasil Pertemuan Dasco dan Bos Himbara, Dirut BNI: Fundamental Bagus, Tak Perlu Cemas
Dirut Himbara Dikumpulin...
Dirut Himbara Dikumpulin Dasco Bersama Mensesneg, Bahas Apa?
BI Rate Naik, LPS Tetap...
BI Rate Naik, LPS Tetap Tahan Tingkat Bunga Penjaminan 3,5%
Terancam Bangkrut? 27...
Terancam Bangkrut? 27 Negara Panik Amankan Dana Darurat Bank Dunia
Rupiah Terus Tergerus,...
Rupiah Terus Tergerus, OJK Sebut Industri Perbankan RI Masih Memadai Hadapi Ancaman
Pasar Modal Dapat Sentimen...
Pasar Modal Dapat Sentimen Positif, BRI Siap Melaju dengan Fundamental Kuat
Mahasiswa MNC University...
Mahasiswa MNC University Pelajari Praktik Layanan Pelanggan Industri Perbankan melalui Company Visit ke Halo BCA
Prabowo Janjikan Buruh...
Prabowo Janjikan Buruh Tidak Ngontrak Lagi
Rekomendasi
Quick Marriage with...
Quick Marriage with Twins: A Dazzling Mom's Tale di V+Short, Kisah Ibu Tangguh yang Menemukan Cinta Lamanya
Anggota Polri dan TNI...
Anggota Polri dan TNI Gugur saat Selamatkan Anak Tenggelam di Pantai Maluku Tenggara
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Berita Terkini
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Tokocrypto Resmi Bergabung...
Tokocrypto Resmi Bergabung ke Ekosistem ICEX Group, Proses Migrasi Lima PAKD Selesai
Gunakan MT Gamkonora,...
Gunakan MT Gamkonora, Pertamina Patra Niaga Tambah 450 Ribu Barel Minyak
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved