Koalisi Ekonomi Membumi Dorong Pembiayaan Hijau

Senin, 15 September 2025 - 23:00 WIB
loading...
Koalisi Ekonomi Membumi...
Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) mendorong hadirnya format baru pembiayaan konservasi berbasis proteksi. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Koalisi Ekonomi Membumi (KEM) mendorong hadirnya format baru pembiayaan konservasi berbasis proteksi atau perlindungan ekosistem. Skema ini dinilai lebih adil dan inklusif, serta mampu menjangkau masyarakat di tingkat tapak sekaligus memberi kepastian bagi investor.

Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Damayanti Ratunanda, menjelaskan pihaknya kini mengelola 12 program dengan skema hibah, pinjaman, dan dana abadi. Salah satu inovasinya adalah Fasilitas Dana Bergulir Tunda Tebang, yang memungkinkan pohon milik petani dijadikan jaminan pembiayaan dengan syarat tidak ditebang.

"Pohon bisa menjadi jaminan, tapi tetap harus dijaga. Skema ini mendukung usaha produktif sekaligus memastikan kelestarian hutan," ujarnya dalam pernyataannya, Senin (15/9).

Baca Juga: Kredit Hijau Bank Himbara Tembus Rp1.452 Triliun di 2024, Intip Rinciannya

Perspektif serupa datang dari Conservation Strategy Fund (CSF) yang menyoroti keterkaitan antara kesejahteraan masyarakat dengan kelestarian alam. Direktur CSF Indonesia, Desta Pratama, menyebut masyarakat adat yang menjaga hutan sering kali lebih sejahtera dibanding masyarakat kota.

"Property rights harus ada di tangan masyarakat adat. Itu akan memberi kepastian bagi pengelolaan berbasis komunitas sekaligus membangun model usaha yang menopang protection-based financing," kata Desta.

Sementara itu, Direktur ANGIN Advisory, Saskia Tjokro, menekankan pentingnya orientasi jangka panjang bagi investor. Ia menyebut usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar hutan sering kekurangan akses modal dan pengetahuan, padahal mereka merupakan penopang utama ekosistem ekonomi di kawasan tersebut. "Investasi berdampak harus menyeimbangkan keuntungan finansial dengan perlindungan jangka panjang," ujarnya.

Dari sisi investor, pendanaan untuk perlindungan hutan kerap dianggap memiliki skala lebih kecil dibanding proyek restorasi. Padahal, dampaknya terhadap masyarakat dan lanskap sama besar. Sumber pendanaan juga tersedia luas, mulai dari rantai pasok global, bilateral, hingga multilateral, yang dapat diarahkan untuk mendukung upaya proteksi.

Direktur Eksekutif Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN), Thomas Veriasa, mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai aktor utama.

"Kalau bekerja dengan masyarakat jangan coba-coba, karena mereka bukan tempat uji coba. Social engineering yang baik bisa menumbuhkan rasa kepemilikan. Tingkat kegagalan penanaman pohon bahkan bisa ditekan hingga 3 persen," tegasnya.

Baca Juga: Konsisten Layani Keuangan Inklusif, BRI Diganjar Anugerah Ekonomi Hijau

Diskusi ini menegaskan bahwa proteksi hutan harus dipandang sebagai investasi berdampak yang menguntungkan ekosistem, masyarakat, dan ekonomi. Instrumen pendanaan hijau perlu menjangkau hingga tingkat lokal, memberi ruang bagi masyarakat adat maupun UMKM untuk berdaya, sekaligus membangun kepercayaan investor.

Panel bertajuk "Green Resilience by Protection: Unlocking Ecosystem-Based Financing to Secure Indonesia’s Living Ecoscapes" tersebut digelar Koalisi Ekonomi Membumi bersama Katadata Sustainability Action for the Future Economy (SAFE) 2025 di Jakarta.

(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
3,88 Juta Lowongan Kerja...
3,88 Juta Lowongan Kerja Ramah Lingkungan Bakal Terbuka di 2026, Catat Sektor Industrinya
Dorong Ekonomi Hijau,...
Dorong Ekonomi Hijau, Kapal Api Group Rehabilitasi Mangrove di Semarang
Purbaya Temui Menkeu...
Purbaya Temui Menkeu China, Perkuat Kerja Sama Pembiayaan dan Investasi
RupiahCepat dan Bank...
RupiahCepat dan Bank DBS Kolaborasi Perluas Akses Pembiayaan
APHI dan New Forests...
APHI dan New Forests Dukung Investasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
Pembangunan Tanpa Ekologi:...
Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal
Kritisi Parpol Koalisi,...
Kritisi Parpol Koalisi, Deddy PDIP: Jika Tidak Nyaman dengan Situasi Politik, Silakan Keluar dari Pemerintahan
Membangun Ekonomi Jabar...
Membangun Ekonomi Jabar dari Rumah: Sinergi Baru untuk Pembiayaan Hunian yang Lebih Inklusif
Rekomendasi
Ekuador vs Jerman: Der...
Ekuador vs Jerman: Der Panzer Kejar Angka 12
Korban Gempa Venezuela...
Korban Gempa Venezuela Bertambah, 164 Orang Tewas, 971 Luka-luka
Prabowo Bertemu Kapolri...
Prabowo Bertemu Kapolri di Istana, Terima Laporan Kamtibmas-Persiapan Hari Bhayangkara 2026
Berita Terkini
Waspadai Phishing dan...
Waspadai Phishing dan CS Palsu di Platform Kripto, Begini Modusnya
EV Services: Membangun...
EV Services: Membangun Ekosistem Kendaraan Listrik yang Semakin Terintegrasi
Nasabah Mekaar Naik...
Nasabah Mekaar Naik Kelas Capai 2,5 Juta Sepanjang 2025
Jembatan Pasar Aset...
Jembatan Pasar Aset Tradisional dan Digital, ICE dan OKX Bentuk Joint Venture
Kredit Pintar dan AFPI...
Kredit Pintar dan AFPI Edukasi Mahasiswa Kelola Keuangan Digital
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Infografis
7 Dosa Kebijakan Nicolas...
7 Dosa Kebijakan Nicolas Maduro: Akar Kehancuran Ekonomi dan Sosial Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved