Dukung Program MBG, Impor 1 Juta Ekor Sapi Perah Masih Jauh dari Target
Jum'at, 19 September 2025 - 21:10 WIB
loading...
Pemerintah terus mendorong impor sapi perah untuk mendukung ketersediaan susu dalam negeri. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah terus mendorong impor sapi perah untuk mendukung ketersediaan susu dalam negeri, terutama guna menunjang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun, realisasi impor hingga September 2025 masih jauh dari target yang ditetapkan untuk tahun ini.
Hendra Wibawa dari Kementerian Pertanian dalam pernyataannya Kamis (19/9), mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengapresiasi pengusaha yang terus meningkatkan importasi sapi perah dari australia.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sebelumnya melaporkan bahwa jumlah sapi perah yang telah masuk ke Indonesia baru mencapai 11.500 ekor. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan target impor sebanyak 150.000 ekor pada 2025, yang merupakan bagian dari rencana impor satu juta ekor sapi dalam lima tahun ke depan.
"Sampai dengan kita ada di sini, kami laporkan sudah ada investasi masuk 11.500 sapi perah untuk kebutuhan susu dan 29.000 ekor investasi sapi pedaging untuk daging sapi potong," ujar Sudaryono dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, dikutip Jumat (19/9).
Baca Juga: GP Ansor dan Kementan Sinergi Bangun Swasembada Pangan untuk Indonesia
Kebijakan pemerintah tidak menganggarkan pembelian sapi perah secara langsung, tetapi mendorong pelaku usaha di industri susu, importir susu bubuk, dan industri pakan ternak untuk melakukan impor. Pemerintah berjanji memberikan kemudahan perizinan untuk menarik minat investor.
Terkini, Indonesia kembali kedatangan 523 ekor sapi perah dari Australia yang didatangkan oleh PT Asli Juara Indonesia bekerja sama dengan North Australian Cattle Company (NACC).
![Dukung Program MBG, Impor 1 Juta Ekor Sapi Perah Masih Jauh dari Target]()
Lambatnya realisasi impor ini menjadi tantangan serius bagi kelancaran program MBG yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Hingga saat ini, program tersebut belum dapat secara konsisten menyajikan susu dalam menu akibat terbatasnya ketersediaan.
Ketergantungan pada impor susu masih sangat tinggi. Data menunjukkan total kebutuhan susu dalam negeri mencapai 17,34 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya mampu memenuhi 3,86 juta ton atau sekitar 22,26%.
Baca Juga: Anggaran Kementan Ditambah Jadi Rp40 Triliun di 2026, Ini Rinciannya
Artinya, nearly 80% kebutuhan susu nasional masih bergantung pada impor. Impor sapi perah hidup diharapkan dapat menjadi "mesin" untuk meningkatkan produksi susu lokal dalam jangka menengah.
Komitmen pemerintah untuk mendorong investasi di sepetak peternakan sapi perah terus ditekankan. Namun, diperlukan langkah-langkah percepatan yang lebih konkret agar target jangka panjang satu juta ekor sapi perah dapat tercapai dan ketahanan pangan nasional semakin kuat.
Hendra Wibawa dari Kementerian Pertanian dalam pernyataannya Kamis (19/9), mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengapresiasi pengusaha yang terus meningkatkan importasi sapi perah dari australia.
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sebelumnya melaporkan bahwa jumlah sapi perah yang telah masuk ke Indonesia baru mencapai 11.500 ekor. Angka ini sangat kecil dibandingkan dengan target impor sebanyak 150.000 ekor pada 2025, yang merupakan bagian dari rencana impor satu juta ekor sapi dalam lima tahun ke depan.
"Sampai dengan kita ada di sini, kami laporkan sudah ada investasi masuk 11.500 sapi perah untuk kebutuhan susu dan 29.000 ekor investasi sapi pedaging untuk daging sapi potong," ujar Sudaryono dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, dikutip Jumat (19/9).
Baca Juga: GP Ansor dan Kementan Sinergi Bangun Swasembada Pangan untuk Indonesia
Kebijakan pemerintah tidak menganggarkan pembelian sapi perah secara langsung, tetapi mendorong pelaku usaha di industri susu, importir susu bubuk, dan industri pakan ternak untuk melakukan impor. Pemerintah berjanji memberikan kemudahan perizinan untuk menarik minat investor.
Terkini, Indonesia kembali kedatangan 523 ekor sapi perah dari Australia yang didatangkan oleh PT Asli Juara Indonesia bekerja sama dengan North Australian Cattle Company (NACC).

Lambatnya realisasi impor ini menjadi tantangan serius bagi kelancaran program MBG yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Hingga saat ini, program tersebut belum dapat secara konsisten menyajikan susu dalam menu akibat terbatasnya ketersediaan.
Ketergantungan pada impor susu masih sangat tinggi. Data menunjukkan total kebutuhan susu dalam negeri mencapai 17,34 juta ton per tahun, sementara produksi domestik hanya mampu memenuhi 3,86 juta ton atau sekitar 22,26%.
Baca Juga: Anggaran Kementan Ditambah Jadi Rp40 Triliun di 2026, Ini Rinciannya
Artinya, nearly 80% kebutuhan susu nasional masih bergantung pada impor. Impor sapi perah hidup diharapkan dapat menjadi "mesin" untuk meningkatkan produksi susu lokal dalam jangka menengah.
Komitmen pemerintah untuk mendorong investasi di sepetak peternakan sapi perah terus ditekankan. Namun, diperlukan langkah-langkah percepatan yang lebih konkret agar target jangka panjang satu juta ekor sapi perah dapat tercapai dan ketahanan pangan nasional semakin kuat.
(nng)
Lihat Juga :