ALFI Mendorong Transformasi Logistik Agar Berdaya Saing Global
Sabtu, 20 September 2025 - 20:11 WIB
loading...
Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Akbar Djohan menegaskan, efisiensi dan digitalisasi menjadi kunci agar biaya logistik nasional lebih kompetitif di tingkat global. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Sektor logistik Indonesia tengah berada pada momentum penting untuk melakukan transformasi besar-besaran. Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Akbar Djohan menegaskan, efisiensi dan digitalisasi menjadi kunci agar biaya logistik nasional lebih kompetitif di tingkat global.
"Logistik adalah urat nadi perdagangan. Jika sistemnya tidak efisien, maka biaya tinggi akan menjadi beban bagi semua sektor. Visi kita adalah menghadirkan logistik yang terintegrasi, transparan, dan berdaya saing global," ujar Akbar Djohan di Jakarta, Sabtu (20/9/2205).
Akbar mengatakan, transformasi logistik bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi juga bagaimana sistem dan kebijakan mampu berjalan seiring, dengan dukungan digitalisasi, sustainability, dan peningkatan kapasitas SDM.
Baca Juga: Asosiasi Logistik Buka-bukaan Soal Efek Penghapusan Kuota Impor dan Pelonggaran TKDN
Saat ini, ucap Akbar, biaya logistik Indonesia masih berada di angka 14,29% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Akbar menilai angka tersebut masih terlalu tinggi dan menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
“Kalau kita ingin bersaing di tingkat global, maka biaya logistik harus bisa ditekan. Digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak,” lanjut Akbar.
![ALFI Mendorong Transformasi Logistik Agar Berdaya Saing Global]()
Sambung Akbar menyampaikan, salah satu langkah nyata yang tengah didorong ALFI adalah implementasi sistem logistik terintegrasi berbasis teknologi. Menurut Akbar, pemanfaatan big data, smart warehouse, hingga sistem pelabuhan modern akan mempersingkat rantai pasok sekaligus menekan biaya.
"Digitalisasi akan membawa efisiensi, transparansi, dan kecepatan layanan. Selain itu, kita juga harus menyiapkan SDM yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru," ungkap Akbar.
Selain digitalisasi lanjut Akbar, konsep sustainability atau keberlanjutan juga menjadi sorotan. Akbar menyebut, sektor logistik perlu diarahkan pada praktik ramah lingkungan, termasuk pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan energi hijau.
"Transformasi logistik harus sejalan dengan agenda keberlanjutan global. Kita tidak hanya bicara efisiensi, tetapi juga tanggung jawab pada lingkungan," sambung Akbar.
Untuk mempercepat langkah tersebut, Akbar sampaikan, ALFI akan menggelar ALFI Convex 2025 pada 12–14 November 2025 di ICE BSD, Tangerang, Banten. Pameran dan konferensi logistik terbesar di Indonesia ini akan mengusung tema “Indonesia in Motion: Transformasi Logistik Menuju Indonesia Emas 2045”.
Baca Juga: Biaya Logistik di Indonesia Turun 40 Persen dalam Lima Tahun
"ALFI Convex 2025 akan menjadi ajang strategis mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, dan investor dalam mempercepat transformasi logistik nasional," ucap Akbar.
Dengan langkah ini, ALFI berharap Indonesia dapat segera memiliki sistem logistik yang lebih efisien, terintegrasi, dan berdaya saing global. "Kami optimistis, jika semua pihak bersinergi, Indonesia bisa menjadi kekuatan logistik regional bahkan global," kata Akbar.
"Logistik adalah urat nadi perdagangan. Jika sistemnya tidak efisien, maka biaya tinggi akan menjadi beban bagi semua sektor. Visi kita adalah menghadirkan logistik yang terintegrasi, transparan, dan berdaya saing global," ujar Akbar Djohan di Jakarta, Sabtu (20/9/2205).
Akbar mengatakan, transformasi logistik bukan hanya soal membangun infrastruktur, tetapi juga bagaimana sistem dan kebijakan mampu berjalan seiring, dengan dukungan digitalisasi, sustainability, dan peningkatan kapasitas SDM.
Baca Juga: Asosiasi Logistik Buka-bukaan Soal Efek Penghapusan Kuota Impor dan Pelonggaran TKDN
Saat ini, ucap Akbar, biaya logistik Indonesia masih berada di angka 14,29% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Akbar menilai angka tersebut masih terlalu tinggi dan menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
“Kalau kita ingin bersaing di tingkat global, maka biaya logistik harus bisa ditekan. Digitalisasi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak,” lanjut Akbar.

Sambung Akbar menyampaikan, salah satu langkah nyata yang tengah didorong ALFI adalah implementasi sistem logistik terintegrasi berbasis teknologi. Menurut Akbar, pemanfaatan big data, smart warehouse, hingga sistem pelabuhan modern akan mempersingkat rantai pasok sekaligus menekan biaya.
"Digitalisasi akan membawa efisiensi, transparansi, dan kecepatan layanan. Selain itu, kita juga harus menyiapkan SDM yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru," ungkap Akbar.
Selain digitalisasi lanjut Akbar, konsep sustainability atau keberlanjutan juga menjadi sorotan. Akbar menyebut, sektor logistik perlu diarahkan pada praktik ramah lingkungan, termasuk pengurangan emisi karbon dan pemanfaatan energi hijau.
"Transformasi logistik harus sejalan dengan agenda keberlanjutan global. Kita tidak hanya bicara efisiensi, tetapi juga tanggung jawab pada lingkungan," sambung Akbar.
Untuk mempercepat langkah tersebut, Akbar sampaikan, ALFI akan menggelar ALFI Convex 2025 pada 12–14 November 2025 di ICE BSD, Tangerang, Banten. Pameran dan konferensi logistik terbesar di Indonesia ini akan mengusung tema “Indonesia in Motion: Transformasi Logistik Menuju Indonesia Emas 2045”.
Baca Juga: Biaya Logistik di Indonesia Turun 40 Persen dalam Lima Tahun
"ALFI Convex 2025 akan menjadi ajang strategis mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, asosiasi, dan investor dalam mempercepat transformasi logistik nasional," ucap Akbar.
Dengan langkah ini, ALFI berharap Indonesia dapat segera memiliki sistem logistik yang lebih efisien, terintegrasi, dan berdaya saing global. "Kami optimistis, jika semua pihak bersinergi, Indonesia bisa menjadi kekuatan logistik regional bahkan global," kata Akbar.
(akr)
Lihat Juga :