5 Miliarder yang Mengubah Wajah Industri Kecantikan Dunia
Rabu, 24 September 2025 - 14:33 WIB
loading...
Rihanna menghadiri sebuah acara untuk lini pakaian dalamnya Savage X Fenty di Hotel Westin Bonaventure di Los Angeles pada 28 Agustus 2021. FOTO/AP
A
A
A
JAKARTA - Dari pendiri selebritas hingga raksasa industri, para miliarder dan perusahaannya ini tengah membentuk ulang standar kecantikan serta mengubah cara mereka terhubung dengan konsumen. Industri kecantikan saat ini tengah mengalami gelombang transformasi, didorong oleh pendatang baru yang menantang dan para pemain lama yang terus beradaptasi agar tetap relevan.
Merek-merek kini mendefinisikan ulang pengalaman konsumen, meluncurkan produk inovatif, serta mendorong batas kreativitas. Mengawali perubahan ini, Tatler Asia menyoroti sejumlah miliarder berpengaruh yang kiprahnya membentuk masa depan industri kecantikan.
1. Rihanna – Fenty Beauty
Penyanyi asal Barbados, Robyn Rihanna Fenty atau lebih dikenal dengan Rihanna membangun sebagian besar kekayaan senilai USD1 miliar bukan dari musik, melainkan melalui bisnis kecantikan dan fesyen. Setelah sukses meluncurkan lini parfum, Rihanna berkolaborasi dengan rumah mode global sebelum membuat gebrakan pada 2017 dengan mendirikan Fenty Beauty bersama LVMH. Awalnya ia memiliki 15% saham, namun kini kepemilikannya meningkat menjadi 50%.
Baca Juga: Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia versi Forbes September 2025, Total Kekayaan Tembus Rp2.506 Triliun
Sejak awal, Fenty hadir dengan semangat inklusivitas, menawarkan produk untuk berbagai warna kulit. Peluncuran foundation dan concealer dengan 40 pilihan warna memicu perubahan besar di industri, memaksa merek lain mengikuti langkah serupa. Business Insider menyebut hal ini sebagai titik balik bagi industri yang lama mengabaikan perempuan kulit berwarna.
Dalam setahun, pendapatan tahunan Fenty sudah melampaui USD550 juta. Kesuksesan itu dilanjutkan dengan peluncuran lini lingerie Savage X Fenty pada 2018 yang mengusung pesan kepercayaan diri dan body positivity, disusul Fenty Skin untuk perawatan kulit dan Fenty Hair untuk perawatan rambut. Menurut Forbes, kekayaan Rihanna kini mencapai sekitar USD1 miliar atau sekitar Rp16,6 triliun.
2. Françoise Bettencourt Meyers – L'Oréal
Françoise Bettencourt Meyers adalah ahli waris raksasa kosmetik Prancis, L'Oréal, sekaligus perempuan terkaya di dunia. El País mencatat, ia dikenal menjaga privasi dan jarang tampil di acara glamor kecuali yang terkait langsung dengan perusahaan. Sebelumnya ia menjabat sebagai wakil ketua perusahaan sebelum mundur pada April lalu.
Selain mendorong L’Oréal ke arah teknologi kecantikan personalisasi dan keberlanjutan, Bettencourt Meyers juga dikenal melalui filantropi dan kiprah intelektualnya. Melalui Yayasan Bettencourt Schueller yang dipimpinnya, ratusan juta dolar telah digelontorkan untuk riset ilmiah dan pelestarian warisan budaya, termasuk kontribusi besar untuk restorasi Katedral Notre-Dame.
Pada akhir 2023, ia menjadi perempuan pertama yang menyandang status centibillionaire dengan kekayaan lebih dari USD100 miliar. Namun, nilainya turun drastis pada tahun berikutnya akibat melemahnya penjualan kosmetik di China. Kini, ia tercatat sebagai perempuan terkaya kedua di dunia dengan kekayaan bersih USD94,2 miliar atau setara Rp1.568 triliun
3. Suh Kyung-bae – Amorepacific
Suh Kyung-bae, ketua sekaligus CEO Amorepacific, dianggap sebagai motor penggerak popularitas global kecantikan Korea (K-beauty). Ia memimpin perusahaan sejak 1997 dan berhasil memperluas jangkauan internasional dengan portofolio merek ternama seperti Sulwhasoo, Laneige, dan Innisfree.
Strateginya menggabungkan inovasi teknologi dengan riset biologi, memadukan tradisi kecantikan Timur dan Barat untuk menghadirkan produk yang sesuai berbagai pasar.
Di bawah kepemimpinannya, Amorepacific terus mencatat pertumbuhan global dan menempatkan diri sebagai salah satu perusahaan paling inovatif di dunia. Kekayaannya kini diperkirakan mencapai USD1,4 miliar atau setara Rp23,3 triliun.
4. Kim Byung Hoon – APR
Kim Byung Hoon, dengan kekayaan sekitar US$1,3 miliar, menjadi miliarder perawatan kulit termuda Korea Selatan pada 2025 lewat kepemilikan 31% di APR, perusahaan yang didirikannya pada 2014. Awalnya bergerak di bidang kosmetik, APR mencetak terobosan pada 2021 dengan perangkat kecantikan rumahan yang menawarkan pengalaman perawatan layaknya spa.
Baca Juga: Pendidikan George Soros, Miliarder yang Diduga sebagai Dalang Demo Ricuh di Indonesia
Tidak seperti banyak pesaing yang bergantung pada penjualan duty free atau pasar China, APR menonjol berkat pemasaran lewat TikTok dan produk berteknologi modern. Popularitas K-beauty semakin mendongkrak APR, terutama setelah merek andalannya, Medicube, digunakan selebritas internasional.
Pada 2023, Hailey Bieber membagikan pengalamannya memakai gel mask Medicube dan kemudian mendukung perangkat Age-R Booster-H, yang melambungkan nama brand tersebut. Momentum berlanjut pada 2024, ketika APR menggandeng Kylie Jenner, Kendall Jenner, dan Khloe Kardashian untuk kampanye global.
Tahun ini, saham APR melonjak pesat hingga menjadi perusahaan kecantikan terbesar di Korea Selatan berdasarkan nilai pasar, melampaui Amorepacific, menurut Bloomberg. Kim menegaskan ambisinya menjadikan APR perusahaan paling inovatif di sektor kecantikan.
5. Hou Juncheng – Proya
Hou Juncheng mendirikan Proya pada 2006 di Zhejiang, China, setelah sebelumnya berpengalaman mendistribusikan merek kosmetik lokal seperti "Yue-Sai" sejak 1990-an. Dengan memanfaatkan e-commerce, siaran langsung, dan media sosial, Proya berhasil menarik konsumen muda, terutama perempuan usia 18–24 tahun di kota kecil hingga menengah.
Tahun lalu, pendapatan perusahaan menembus 10 miliar yuan atau setara USD1,4 miliar, menjadi tonggak sejarah sebagai merek kecantikan lokal pertama yang mencapai angka tersebut. Di bawah kepemimpinan Hou, Proya banyak berinvestasi di bidang riset dan pengembangan, menghasilkan 256 paten.
Ia juga menggagas proyek “Oriental Grasse” untuk membangun pusat industri kosmetik modern di Hangzhou dan Huzhou. Ke depan, Hou berencana membuka pusat inovasi di Paris serta melakukan akuisisi untuk memperkuat posisi global Proya. Kekayaannya kini diperkirakan mencapai USD1,7 miliar artau setara Rp28,3 triliun.
Merek-merek kini mendefinisikan ulang pengalaman konsumen, meluncurkan produk inovatif, serta mendorong batas kreativitas. Mengawali perubahan ini, Tatler Asia menyoroti sejumlah miliarder berpengaruh yang kiprahnya membentuk masa depan industri kecantikan.
1. Rihanna – Fenty Beauty
Penyanyi asal Barbados, Robyn Rihanna Fenty atau lebih dikenal dengan Rihanna membangun sebagian besar kekayaan senilai USD1 miliar bukan dari musik, melainkan melalui bisnis kecantikan dan fesyen. Setelah sukses meluncurkan lini parfum, Rihanna berkolaborasi dengan rumah mode global sebelum membuat gebrakan pada 2017 dengan mendirikan Fenty Beauty bersama LVMH. Awalnya ia memiliki 15% saham, namun kini kepemilikannya meningkat menjadi 50%.
Baca Juga: Daftar 10 Orang Terkaya Indonesia versi Forbes September 2025, Total Kekayaan Tembus Rp2.506 Triliun
Sejak awal, Fenty hadir dengan semangat inklusivitas, menawarkan produk untuk berbagai warna kulit. Peluncuran foundation dan concealer dengan 40 pilihan warna memicu perubahan besar di industri, memaksa merek lain mengikuti langkah serupa. Business Insider menyebut hal ini sebagai titik balik bagi industri yang lama mengabaikan perempuan kulit berwarna.
Dalam setahun, pendapatan tahunan Fenty sudah melampaui USD550 juta. Kesuksesan itu dilanjutkan dengan peluncuran lini lingerie Savage X Fenty pada 2018 yang mengusung pesan kepercayaan diri dan body positivity, disusul Fenty Skin untuk perawatan kulit dan Fenty Hair untuk perawatan rambut. Menurut Forbes, kekayaan Rihanna kini mencapai sekitar USD1 miliar atau sekitar Rp16,6 triliun.
2. Françoise Bettencourt Meyers – L'Oréal
Françoise Bettencourt Meyers adalah ahli waris raksasa kosmetik Prancis, L'Oréal, sekaligus perempuan terkaya di dunia. El País mencatat, ia dikenal menjaga privasi dan jarang tampil di acara glamor kecuali yang terkait langsung dengan perusahaan. Sebelumnya ia menjabat sebagai wakil ketua perusahaan sebelum mundur pada April lalu.
Selain mendorong L’Oréal ke arah teknologi kecantikan personalisasi dan keberlanjutan, Bettencourt Meyers juga dikenal melalui filantropi dan kiprah intelektualnya. Melalui Yayasan Bettencourt Schueller yang dipimpinnya, ratusan juta dolar telah digelontorkan untuk riset ilmiah dan pelestarian warisan budaya, termasuk kontribusi besar untuk restorasi Katedral Notre-Dame.
Pada akhir 2023, ia menjadi perempuan pertama yang menyandang status centibillionaire dengan kekayaan lebih dari USD100 miliar. Namun, nilainya turun drastis pada tahun berikutnya akibat melemahnya penjualan kosmetik di China. Kini, ia tercatat sebagai perempuan terkaya kedua di dunia dengan kekayaan bersih USD94,2 miliar atau setara Rp1.568 triliun
3. Suh Kyung-bae – Amorepacific
Suh Kyung-bae, ketua sekaligus CEO Amorepacific, dianggap sebagai motor penggerak popularitas global kecantikan Korea (K-beauty). Ia memimpin perusahaan sejak 1997 dan berhasil memperluas jangkauan internasional dengan portofolio merek ternama seperti Sulwhasoo, Laneige, dan Innisfree.
Strateginya menggabungkan inovasi teknologi dengan riset biologi, memadukan tradisi kecantikan Timur dan Barat untuk menghadirkan produk yang sesuai berbagai pasar.
Di bawah kepemimpinannya, Amorepacific terus mencatat pertumbuhan global dan menempatkan diri sebagai salah satu perusahaan paling inovatif di dunia. Kekayaannya kini diperkirakan mencapai USD1,4 miliar atau setara Rp23,3 triliun.
4. Kim Byung Hoon – APR
Kim Byung Hoon, dengan kekayaan sekitar US$1,3 miliar, menjadi miliarder perawatan kulit termuda Korea Selatan pada 2025 lewat kepemilikan 31% di APR, perusahaan yang didirikannya pada 2014. Awalnya bergerak di bidang kosmetik, APR mencetak terobosan pada 2021 dengan perangkat kecantikan rumahan yang menawarkan pengalaman perawatan layaknya spa.
Baca Juga: Pendidikan George Soros, Miliarder yang Diduga sebagai Dalang Demo Ricuh di Indonesia
Tidak seperti banyak pesaing yang bergantung pada penjualan duty free atau pasar China, APR menonjol berkat pemasaran lewat TikTok dan produk berteknologi modern. Popularitas K-beauty semakin mendongkrak APR, terutama setelah merek andalannya, Medicube, digunakan selebritas internasional.
Pada 2023, Hailey Bieber membagikan pengalamannya memakai gel mask Medicube dan kemudian mendukung perangkat Age-R Booster-H, yang melambungkan nama brand tersebut. Momentum berlanjut pada 2024, ketika APR menggandeng Kylie Jenner, Kendall Jenner, dan Khloe Kardashian untuk kampanye global.
Tahun ini, saham APR melonjak pesat hingga menjadi perusahaan kecantikan terbesar di Korea Selatan berdasarkan nilai pasar, melampaui Amorepacific, menurut Bloomberg. Kim menegaskan ambisinya menjadikan APR perusahaan paling inovatif di sektor kecantikan.
5. Hou Juncheng – Proya
Hou Juncheng mendirikan Proya pada 2006 di Zhejiang, China, setelah sebelumnya berpengalaman mendistribusikan merek kosmetik lokal seperti "Yue-Sai" sejak 1990-an. Dengan memanfaatkan e-commerce, siaran langsung, dan media sosial, Proya berhasil menarik konsumen muda, terutama perempuan usia 18–24 tahun di kota kecil hingga menengah.
Tahun lalu, pendapatan perusahaan menembus 10 miliar yuan atau setara USD1,4 miliar, menjadi tonggak sejarah sebagai merek kecantikan lokal pertama yang mencapai angka tersebut. Di bawah kepemimpinan Hou, Proya banyak berinvestasi di bidang riset dan pengembangan, menghasilkan 256 paten.
Ia juga menggagas proyek “Oriental Grasse” untuk membangun pusat industri kosmetik modern di Hangzhou dan Huzhou. Ke depan, Hou berencana membuka pusat inovasi di Paris serta melakukan akuisisi untuk memperkuat posisi global Proya. Kekayaannya kini diperkirakan mencapai USD1,7 miliar artau setara Rp28,3 triliun.
(nng)
Lihat Juga :