Strategi Perusahaan Teknologi Indonesia Ekspansi ke Pasar Global
Minggu, 28 September 2025 - 15:21 WIB
loading...
Pendiri Gani AI, Bintang Hidayanto. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Perusahaan teknologi asal Indonesia, Gani AI, melakukan terobosan dengan mengumumkan strategi ekspansi global. Perusahaan ini tidak hanya fokus sebagai penyedia layanan Kecerdasan Buatan (AI) tetapi menargetkan diferensiasi produk melalui pelatihan model AI khusus untuk sektor hukum, pajak, dan akuntansi yang disesuaikan dengan regulasi di lebih dari 20 negara.
Pendiri Gani AI, Bintang Hidayanto, menyatakan komitmennya untuk menjadikan perusahaannya sebagai pelopor Indonesia di kancah internasional. "Kita ingin menjadi perusahaan dengan pendiri asal Indonesia pertama yang, mudah-mudahan, berhasil mendobrak pasar internasional," ujar Bintang dalam pernyataannya dikutip Minggu (28/9).
Baca Juga: Pakar IPB Ungkap Dampak Buruk Remaja yang Lebih Nyaman Curhat ke AI
Strategi ini diwujudkan melalui pengembangan produk andalan, Gani Atlas. Produk ini merupakan solusi berbasis AI yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan korporasi regional dan multinasional.
"Kita membedakan diri dengan produk yang tidak hanya berupa AI as a Service, tapi juga Software as a Service (SaaS) yang dirancang khusus untuk perusahaan-perusahaan besar," jelas Bintang.
Gani Atlas memadukan deep vertical AI di sektor hukum dan regulasi dengan kemampuan mengubah data tak terstruktur seperti dokumen dan kontrak menjadi struktur analitik yang mudah diproses mesin.
"User bisa upload ribuan data secara acak, lalu memahami informasinya dengan cara yang sangat mudah dibantu AI," tambahnya.
Di balik ekspansi tersebut, Gani AI menempatkan edukasi pasar dan keamanan data sebagai pilar utama. Bintang mengungkapkan, tantangan terbesar justru terletak pada kesalahpahaman publik yang menganggap AI sebagai solusi serba bisa. "AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu yang terbatas, bukan solusi otomatis untuk semua masalah," tegasnya.
Baca Juga: Riset Harvard Temukan Penggunaan AI di Tempat Kerja Mengurangi Produktivitas
Untuk mengatasi kekhawatiran keamanan data klien korporat, Gani AI menerapkan pendekatan unik. Perusahaan tidak menghubungkan foundation model pihak ketiga langsung ke sistem pengguna, melainkan menjalankannya di infrastruktur sendiri.
"Seluruh data dan proses tetap berada dalam sistem yang kami kendalikan. Ini untuk mencegah potensi kebocoran data," jelas Bintang.
Lebih lanjut, Gani AI dalam eksekusi pasar global mengedepankan strategi kolaborasi. Perusahaan akan fokus pada pengembangan produk dan bermitra dengan profesional lokal di setiap negara target.
"Kolaborasi dengan mitra lokal akan membuat kami lebih responsif terhadap kebutuhan pasar masing-masing negara," imbuh Bintang.
Pendiri Gani AI, Bintang Hidayanto, menyatakan komitmennya untuk menjadikan perusahaannya sebagai pelopor Indonesia di kancah internasional. "Kita ingin menjadi perusahaan dengan pendiri asal Indonesia pertama yang, mudah-mudahan, berhasil mendobrak pasar internasional," ujar Bintang dalam pernyataannya dikutip Minggu (28/9).
Baca Juga: Pakar IPB Ungkap Dampak Buruk Remaja yang Lebih Nyaman Curhat ke AI
Strategi ini diwujudkan melalui pengembangan produk andalan, Gani Atlas. Produk ini merupakan solusi berbasis AI yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan korporasi regional dan multinasional.
"Kita membedakan diri dengan produk yang tidak hanya berupa AI as a Service, tapi juga Software as a Service (SaaS) yang dirancang khusus untuk perusahaan-perusahaan besar," jelas Bintang.
Gani Atlas memadukan deep vertical AI di sektor hukum dan regulasi dengan kemampuan mengubah data tak terstruktur seperti dokumen dan kontrak menjadi struktur analitik yang mudah diproses mesin.
"User bisa upload ribuan data secara acak, lalu memahami informasinya dengan cara yang sangat mudah dibantu AI," tambahnya.
Di balik ekspansi tersebut, Gani AI menempatkan edukasi pasar dan keamanan data sebagai pilar utama. Bintang mengungkapkan, tantangan terbesar justru terletak pada kesalahpahaman publik yang menganggap AI sebagai solusi serba bisa. "AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu yang terbatas, bukan solusi otomatis untuk semua masalah," tegasnya.
Baca Juga: Riset Harvard Temukan Penggunaan AI di Tempat Kerja Mengurangi Produktivitas
Untuk mengatasi kekhawatiran keamanan data klien korporat, Gani AI menerapkan pendekatan unik. Perusahaan tidak menghubungkan foundation model pihak ketiga langsung ke sistem pengguna, melainkan menjalankannya di infrastruktur sendiri.
"Seluruh data dan proses tetap berada dalam sistem yang kami kendalikan. Ini untuk mencegah potensi kebocoran data," jelas Bintang.
Lebih lanjut, Gani AI dalam eksekusi pasar global mengedepankan strategi kolaborasi. Perusahaan akan fokus pada pengembangan produk dan bermitra dengan profesional lokal di setiap negara target.
"Kolaborasi dengan mitra lokal akan membuat kami lebih responsif terhadap kebutuhan pasar masing-masing negara," imbuh Bintang.
(nng)
Lihat Juga :