Warga RI Ramai-ramai Pindah ke BBM Non Subsidi, Negara Hemat Rp12,6 Triliun
Rabu, 01 Oktober 2025 - 19:24 WIB
loading...
Pengendara mobil dan sepeda motor mengisi BBM non subsidi di salah satu SPBU, di Jakarta. FOTO/Arif Julianto
A
A
A
JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan terjadinya perubahan signifikan dalam pola konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat Indonesia pada pertengahan 2025. Terjadi pergeseran konsumsi dari BBM bersubsidi jenis Pertalite menuju BBM non-subsidi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan penjualan Pertalite atau RON 90 mengalami penurunan, sementara BBM non-subsidi justru meningkat. Perubahan pola ini terpantau sejak Juli-Agustus 2025.
"Pada tahun 2025 ini terjadi hal yang tidak biasa. Sejak Juli-Agustus kemarin, terjadi shifting atau perubahan pola konsumsi. Konsumen yang tadinya menggunakan RON 90 atau Pertalite itu cenderung turun dan beralih ke RON yang lebih tinggi," ujar Laode dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (1/10/2025).
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Ada yang Naik per 1 Oktober 2025, Ini Daftar Lengkapnya
Secara rinci, rata-rata penjualan harian Pertalite turun 5,10 persen dari 81.106 kiloliter (KL) per hari pada 2024 menjadi 76.970 KL per hari hingga Juli 2025. Sebaliknya, penjualan harian BBM non-subsidi, di antaranya RON 90, 92, 95, dan 98 justru naik 19,21 persen dari 19.061 KL per hari pada 2024 menjadi 22.723 KL per hari pada 2025.
Perubahan ini juga tercermin dari pergeseran market share. Pangsa pasar BBM non-subsidi meningkat dari 11 persen pada 2024 menjadi 15 persen pada 2025.
Dampak positif dari perubahan konsumsi ini langsung terasa pada penghematan anggaran negara. Laode menjelaskan, kompensasi subsidi Pertalite yang pada 2024 mencapai Rp48,923 triliun, diproyeksikan turun menjadi Rp36,314 triliun pada 2025.
Angka tersebut mencerminkan efisiensi anggaran sebesar Rp12,61 triliun atau setara 25,77 persen. Artinya, negara berhasil menghemat dana sebesar itu berkat peralihan masyarakat ke BBM non-subsidi.
Baca Juga: Purbaya Blak-blakan Harga Sebenarnya dari BBM, LPG 3 Kg, Solar, hingga Pupuk
Tren kenaikan ini tidak hanya terjadi pada BBM non-subsidi Pertamina. Laode menambahkan, estimasi penjualan bensin non-subsidi di SPBU swasta pada 2025 juga diproyeksikan melonjak 91,3 persen atau setara 1,35 juta KL.
Sementara untuk Pertamina, penjualan bensin non-subsidi diperkirakan mencapai 7 juta KL pada 2025, atau meningkat 14,02 persen atau 0,86 juta KL. Di sisi lain, penjualan bensin subsidi diproyeksikan turun 1,4 juta KL.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengungkapkan penjualan Pertalite atau RON 90 mengalami penurunan, sementara BBM non-subsidi justru meningkat. Perubahan pola ini terpantau sejak Juli-Agustus 2025.
"Pada tahun 2025 ini terjadi hal yang tidak biasa. Sejak Juli-Agustus kemarin, terjadi shifting atau perubahan pola konsumsi. Konsumen yang tadinya menggunakan RON 90 atau Pertalite itu cenderung turun dan beralih ke RON yang lebih tinggi," ujar Laode dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VII DPR RI, Rabu (1/10/2025).
Baca Juga: Harga BBM Pertamina Ada yang Naik per 1 Oktober 2025, Ini Daftar Lengkapnya
Secara rinci, rata-rata penjualan harian Pertalite turun 5,10 persen dari 81.106 kiloliter (KL) per hari pada 2024 menjadi 76.970 KL per hari hingga Juli 2025. Sebaliknya, penjualan harian BBM non-subsidi, di antaranya RON 90, 92, 95, dan 98 justru naik 19,21 persen dari 19.061 KL per hari pada 2024 menjadi 22.723 KL per hari pada 2025.
Perubahan ini juga tercermin dari pergeseran market share. Pangsa pasar BBM non-subsidi meningkat dari 11 persen pada 2024 menjadi 15 persen pada 2025.
Dampak positif dari perubahan konsumsi ini langsung terasa pada penghematan anggaran negara. Laode menjelaskan, kompensasi subsidi Pertalite yang pada 2024 mencapai Rp48,923 triliun, diproyeksikan turun menjadi Rp36,314 triliun pada 2025.
Angka tersebut mencerminkan efisiensi anggaran sebesar Rp12,61 triliun atau setara 25,77 persen. Artinya, negara berhasil menghemat dana sebesar itu berkat peralihan masyarakat ke BBM non-subsidi.
Baca Juga: Purbaya Blak-blakan Harga Sebenarnya dari BBM, LPG 3 Kg, Solar, hingga Pupuk
Tren kenaikan ini tidak hanya terjadi pada BBM non-subsidi Pertamina. Laode menambahkan, estimasi penjualan bensin non-subsidi di SPBU swasta pada 2025 juga diproyeksikan melonjak 91,3 persen atau setara 1,35 juta KL.
Sementara untuk Pertamina, penjualan bensin non-subsidi diperkirakan mencapai 7 juta KL pada 2025, atau meningkat 14,02 persen atau 0,86 juta KL. Di sisi lain, penjualan bensin subsidi diproyeksikan turun 1,4 juta KL.
(nng)
Lihat Juga :