Transformasi Jalan Sehat Menuju Keberlanjutan Industri Keuangan
Kamis, 09 Oktober 2025 - 18:27 WIB
loading...
Pertumbuhan terbesar inudtsri keuangan disumbang sektor e-commerce. FOTO/iStock
A
A
A
JAKARTA - Disrupsi digital telah mengubah wajah industri keuangan nasional. Namun yang sejatinya diuji bukan semata kemampuan teknologi, melainkan tingkat kepercayaan dan tata kelola lembaga keuangan di tengah sorotan publik dan regulasi yang kian ketat. Transformasi menjadi keniscayaan agar industri keuangan tumbuh sehat, transparan, dan akuntabel.
Perubahan besar dalam lanskap digital ini terlihat nyata dalam satu dekade terakhir. Indonesia mengalami percepatan luar biasa di sektor e-commerce, transportasi digital, investasi, dan layanan keuangan berbasis teknologi. Laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital Asia Tenggara mencapai USD263 miliar tahun ini, naik 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan terbesar disumbang sektor e-commerce yang mencatat gross merchandise value (GMV) senilai USD65 miliar atau sekitar Rp1.082 triliun. Tren ini menunjukkan pergeseran perilaku masyarakat yang semakin terbiasa bertransaksi digital. Akibatnya, sektor keuangan dan asuransi didorong untuk menyesuaikan diri, menghadirkan produk yang adaptif, mudah diakses, dan relevan dengan gaya hidup digital konsumen.
Baca Juga: Roadshow ke Jawa, Purbaya Komitmen Bangun Kawasan Industri Hasil Tembakau
Namun, kemajuan teknologi tak bisa dilepaskan dari tantangan membangun kepercayaan publik. Di tengah maraknya inovasi digital, industri keuangan justru menghadapi krisis kepercayaan dan tuntutan transparansi. Karena itu, penguatan tata kelola dan akuntabilitas menjadi kunci utama agar inovasi tidak hanya cepat, tapi juga dapat dipercaya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah strategis melalui sejumlah regulasi, seperti POJK 11/2023 dan POJK 23/2023, yang menekankan pentingnya governance, manajemen risiko, serta transparansi pelaporan. Regulasi ini berfungsi layaknya "rem dan pedal gas" sekaligus memastikan industri bergerak cepat, namun tetap terkendali dan sehat.
"OJK menargetkan penyelesaian POJK 11/2023 untuk sektor asuransi pada 2026. Dengan langkah ini, kami berharap industri asuransi, termasuk syariah, tumbuh lebih kuat dan memiliki posisi yang solid di pasar," ujar Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, dalam forum Ijtima Sanawi 2025 di Jakarta.
Transformasi digital di sektor keuangan kini semakin bertumpu pada analisis data besar (big data analytics). Perusahaan asuransi mulai memanfaatkan data gaya hidup, riwayat kesehatan, hingga perilaku finansial untuk memperkirakan risiko secara akurat dan merancang produk yang sesuai kebutuhan nasabah. Beberapa di antaranya mengembangkan produk usage-based insurance, di mana premi disesuaikan dengan perilaku pengguna seperti jumlah langkah harian atau frekuensi berkendara.
Pendekatan berbasis data tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membantu mengurangi potensi kecurangan (fraud). Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan potensi fraud dalam klaim asuransi umum dapat mencapai sekitar 10% dari total klaim tahunan. Padahal, premi industri asuransi umum pada triwulan IV 2024 tercatat Rp112,9 triliun, tumbuh 8,7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kecerdasan buatan (AI) kini juga memainkan peran penting dalam mempercepat layanan. Di sejumlah perusahaan asuransi, proses klaim yang sebelumnya memakan waktu hingga tujuh hari kini dapat diselesaikan kurang dari 24 jam. Tingkat akurasi deteksi fraud pun mencapai lebih dari 90%. Teknologi ini membuat layanan semakin transparan karena setiap proses terekam digital dan mudah diaudit.
Baca Juga: Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia, Keuangan Syariah Masuk Tiga Besar Global
Transformasi digital turut mendorong desain produk keuangan yang lebih inklusif. Dengan dukungan data dan AI, perusahaan dapat menghadirkan produk asuransi mikro, perlindungan perjalanan berbasis jarak, atau proteksi digital untuk pengguna aktif layanan daring. Meski demikian, tingkat penetrasi asuransi Indonesia masih rendah, yakni 2,72% terhadap PDB per Februari 2025, menurun tipis dari 2,84 persen pada Desember 2024. Angka ini masih jauh di bawah Malaysia 4,8% dan Singapura 11,4%.
Sementara itu, sektor lain seperti e-commerce dan transportasi digital telah lebih dulu membuktikan dampak nyata transformasi. Dalam laporan e-Conomy SEA 2024, video commerce menyumbang 20% dari total GMV e-commerce, naik signifikan dibanding 5% pada 2022. Pertumbuhan serupa terjadi di layanan transportasi digital yang mencatat kenaikan sekitar 13% year on year hingga menembus nilai GMV USD9 miliar pada 2024.
Transformasi digital pada akhirnya bukanlah proyek sesaat, melainkan perjalanan panjang menuju keberlanjutan. Di tengah disrupsi dan persaingan yang ketat, yang bertahan bukanlah yang paling besar atau paling canggih, melainkan yang paling akuntabel, adaptif, dan dipercaya. Karena dalam industri keuangan, kepercayaan bukan sekadar aset melainkan fondasi dari keberlanjutan itu sendiri.
Perubahan besar dalam lanskap digital ini terlihat nyata dalam satu dekade terakhir. Indonesia mengalami percepatan luar biasa di sektor e-commerce, transportasi digital, investasi, dan layanan keuangan berbasis teknologi. Laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital Asia Tenggara mencapai USD263 miliar tahun ini, naik 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan terbesar disumbang sektor e-commerce yang mencatat gross merchandise value (GMV) senilai USD65 miliar atau sekitar Rp1.082 triliun. Tren ini menunjukkan pergeseran perilaku masyarakat yang semakin terbiasa bertransaksi digital. Akibatnya, sektor keuangan dan asuransi didorong untuk menyesuaikan diri, menghadirkan produk yang adaptif, mudah diakses, dan relevan dengan gaya hidup digital konsumen.
Baca Juga: Roadshow ke Jawa, Purbaya Komitmen Bangun Kawasan Industri Hasil Tembakau
Namun, kemajuan teknologi tak bisa dilepaskan dari tantangan membangun kepercayaan publik. Di tengah maraknya inovasi digital, industri keuangan justru menghadapi krisis kepercayaan dan tuntutan transparansi. Karena itu, penguatan tata kelola dan akuntabilitas menjadi kunci utama agar inovasi tidak hanya cepat, tapi juga dapat dipercaya.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengambil langkah strategis melalui sejumlah regulasi, seperti POJK 11/2023 dan POJK 23/2023, yang menekankan pentingnya governance, manajemen risiko, serta transparansi pelaporan. Regulasi ini berfungsi layaknya "rem dan pedal gas" sekaligus memastikan industri bergerak cepat, namun tetap terkendali dan sehat.
"OJK menargetkan penyelesaian POJK 11/2023 untuk sektor asuransi pada 2026. Dengan langkah ini, kami berharap industri asuransi, termasuk syariah, tumbuh lebih kuat dan memiliki posisi yang solid di pasar," ujar Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Mirza Adityaswara, dalam forum Ijtima Sanawi 2025 di Jakarta.
Transformasi digital di sektor keuangan kini semakin bertumpu pada analisis data besar (big data analytics). Perusahaan asuransi mulai memanfaatkan data gaya hidup, riwayat kesehatan, hingga perilaku finansial untuk memperkirakan risiko secara akurat dan merancang produk yang sesuai kebutuhan nasabah. Beberapa di antaranya mengembangkan produk usage-based insurance, di mana premi disesuaikan dengan perilaku pengguna seperti jumlah langkah harian atau frekuensi berkendara.
Pendekatan berbasis data tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga membantu mengurangi potensi kecurangan (fraud). Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menunjukkan potensi fraud dalam klaim asuransi umum dapat mencapai sekitar 10% dari total klaim tahunan. Padahal, premi industri asuransi umum pada triwulan IV 2024 tercatat Rp112,9 triliun, tumbuh 8,7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Kecerdasan buatan (AI) kini juga memainkan peran penting dalam mempercepat layanan. Di sejumlah perusahaan asuransi, proses klaim yang sebelumnya memakan waktu hingga tujuh hari kini dapat diselesaikan kurang dari 24 jam. Tingkat akurasi deteksi fraud pun mencapai lebih dari 90%. Teknologi ini membuat layanan semakin transparan karena setiap proses terekam digital dan mudah diaudit.
Baca Juga: Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia, Keuangan Syariah Masuk Tiga Besar Global
Transformasi digital turut mendorong desain produk keuangan yang lebih inklusif. Dengan dukungan data dan AI, perusahaan dapat menghadirkan produk asuransi mikro, perlindungan perjalanan berbasis jarak, atau proteksi digital untuk pengguna aktif layanan daring. Meski demikian, tingkat penetrasi asuransi Indonesia masih rendah, yakni 2,72% terhadap PDB per Februari 2025, menurun tipis dari 2,84 persen pada Desember 2024. Angka ini masih jauh di bawah Malaysia 4,8% dan Singapura 11,4%.
Sementara itu, sektor lain seperti e-commerce dan transportasi digital telah lebih dulu membuktikan dampak nyata transformasi. Dalam laporan e-Conomy SEA 2024, video commerce menyumbang 20% dari total GMV e-commerce, naik signifikan dibanding 5% pada 2022. Pertumbuhan serupa terjadi di layanan transportasi digital yang mencatat kenaikan sekitar 13% year on year hingga menembus nilai GMV USD9 miliar pada 2024.
Transformasi digital pada akhirnya bukanlah proyek sesaat, melainkan perjalanan panjang menuju keberlanjutan. Di tengah disrupsi dan persaingan yang ketat, yang bertahan bukanlah yang paling besar atau paling canggih, melainkan yang paling akuntabel, adaptif, dan dipercaya. Karena dalam industri keuangan, kepercayaan bukan sekadar aset melainkan fondasi dari keberlanjutan itu sendiri.
(nng)
Lihat Juga :