Purbaya Optimistis Indonesia Bisa Seperti China, Ini Resepnya
Jum'at, 10 Oktober 2025 - 13:09 WIB
loading...
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. FOTO/Instagram/@menkeuri
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan Indonesia harus berani menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang lebih ambisius untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Menurut dia pertumbuhan dua digit bukan mimpi tetapi harus dikejar jika ingin menjadi negara maju.
Purbaya mengungkapkan, sejumlah negara di Asia Timur seperti Korea Selatan, Taiwan, dan China mampu menjaga pertumbuhan tinggi selama lebih dari satu dekade sebelum beranjak menjadi negara maju. Menurutnya, kunci keberhasilan mereka terletak pada transformasi struktural menuju industri manufaktur berdaya saing tinggi.
"Bicara tentang strategi pertumbuhan 8 persen boleh juga walau menantang. Negara seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan China menargetkan pertumbuhan double digit selama lebih dari 10 tahun sebelum menjadi negara maju. Kalau kita hanya di 5 persen terus, tentu berisiko stagnan," ujar Purbaya dalam acara Prasasti Luncheon Talk, dikutip Jumat (10/10/2025).
Baca Juga: Menkeu Purbaya Buka-bukaan soal Alasan Pemecatan 26 Pegawai Pajak
Dia mengatakan lompatan ekonomi (growth leap) hanya bisa dicapai jika Indonesia mampu melakukan transformasi ekonomi secara menyeluruh dari basis pertanian menuju manufaktur, dan pada tahap selanjutnya ke basis jasa. Namun demikian, sektor pertanian tetap perlu dijaga sebagai penopang stabilitas ekonomi nasional.
“Intinya adalah transformasi ekonomi. Negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jerman tetap menjaga basis manufaktur mereka. Kita harus mengembangkan manufaktur berteknologi tinggi tanpa meninggalkan pertanian,” jelasnya.
Untuk mengakselerasi pertumbuhan menuju kisaran 8 persen, pemerintah menyiapkan strategi besar dengan menjadikan sektor swasta sebagai motor utama, sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai katalisator. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif, memperbaiki regulasi, dan mempercepat realisasi belanja kementerian dan lembaga.
"Sektor swasta harus jadi mesin pertumbuhan utama. Pemerintah akan memfasilitasi dengan kebijakan dan percepatan investasi. Tim percepatan ekonomi sudah kami bentuk untuk menyelesaikan berbagai bottleneck investasi," kata Purbaya.
Ia juga menyoroti pentingnya arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) sebagai penggerak ekonomi. Pengalamannya mengurai 193 kasus hambatan investasi senilai Rp893 triliun pada 2016–2019 menjadi modal penting untuk memperbaiki iklim investasi di masa depan.
Baca Juga: Purbaya Pecat 26 Pegawai Pajak: Bukan Saatnya Main-main
Purbaya optimistis, dengan sinergi antara mesin pertumbuhan fiskal dan sektor swasta, Indonesia dapat menembus pertumbuhan di atas 6 persen dalam waktu dekat.
"Selama dua puluh tahun terakhir, mesin kita berjalan timpang. Ke depan, keduanya harus hidup bersama. Jika itu terjadi, angka 6 hingga 6,5 persen bukan hal mustahil," pungkasnya.
Purbaya mengungkapkan, sejumlah negara di Asia Timur seperti Korea Selatan, Taiwan, dan China mampu menjaga pertumbuhan tinggi selama lebih dari satu dekade sebelum beranjak menjadi negara maju. Menurutnya, kunci keberhasilan mereka terletak pada transformasi struktural menuju industri manufaktur berdaya saing tinggi.
"Bicara tentang strategi pertumbuhan 8 persen boleh juga walau menantang. Negara seperti Jepang, Korea, Taiwan, dan China menargetkan pertumbuhan double digit selama lebih dari 10 tahun sebelum menjadi negara maju. Kalau kita hanya di 5 persen terus, tentu berisiko stagnan," ujar Purbaya dalam acara Prasasti Luncheon Talk, dikutip Jumat (10/10/2025).
Baca Juga: Menkeu Purbaya Buka-bukaan soal Alasan Pemecatan 26 Pegawai Pajak
Dia mengatakan lompatan ekonomi (growth leap) hanya bisa dicapai jika Indonesia mampu melakukan transformasi ekonomi secara menyeluruh dari basis pertanian menuju manufaktur, dan pada tahap selanjutnya ke basis jasa. Namun demikian, sektor pertanian tetap perlu dijaga sebagai penopang stabilitas ekonomi nasional.
“Intinya adalah transformasi ekonomi. Negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, dan Jerman tetap menjaga basis manufaktur mereka. Kita harus mengembangkan manufaktur berteknologi tinggi tanpa meninggalkan pertanian,” jelasnya.
Untuk mengakselerasi pertumbuhan menuju kisaran 8 persen, pemerintah menyiapkan strategi besar dengan menjadikan sektor swasta sebagai motor utama, sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berperan sebagai katalisator. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif, memperbaiki regulasi, dan mempercepat realisasi belanja kementerian dan lembaga.
"Sektor swasta harus jadi mesin pertumbuhan utama. Pemerintah akan memfasilitasi dengan kebijakan dan percepatan investasi. Tim percepatan ekonomi sudah kami bentuk untuk menyelesaikan berbagai bottleneck investasi," kata Purbaya.
Ia juga menyoroti pentingnya arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) sebagai penggerak ekonomi. Pengalamannya mengurai 193 kasus hambatan investasi senilai Rp893 triliun pada 2016–2019 menjadi modal penting untuk memperbaiki iklim investasi di masa depan.
Baca Juga: Purbaya Pecat 26 Pegawai Pajak: Bukan Saatnya Main-main
Purbaya optimistis, dengan sinergi antara mesin pertumbuhan fiskal dan sektor swasta, Indonesia dapat menembus pertumbuhan di atas 6 persen dalam waktu dekat.
"Selama dua puluh tahun terakhir, mesin kita berjalan timpang. Ke depan, keduanya harus hidup bersama. Jika itu terjadi, angka 6 hingga 6,5 persen bukan hal mustahil," pungkasnya.
(nng)
Lihat Juga :