Sawit Masih Jadi Andalan Ekonomi RI, Target Produksi 92 Juta Ton di 2045
Selasa, 04 November 2025 - 21:14 WIB
loading...
A
A
A
Menurut dia, keunggulan ini menjadikan sawit sebagai komoditas minyak nabati paling efisien dan berkelanjutan di dunia. Untuk memastikan keberlanjutan, pemerintah memperkuat implementasi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang kini mencakup seluruh rantai industri, dari hulu hingga hilir, sesuai Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2025.
“ISPO bersifat wajib. Untuk pekebun kecil, sertifikasi diberi masa transisi empat tahun, dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah,” ujarnya.
Pemerintah juga tengah mengembangkan sistem informasi ISPO agar data lahan sawit lebih transparan dan mudah dilacak. Setiap lahan tersertifikasi nantinya dapat diverifikasi bebas dari kawasan hutan dan tidak tumpang tindih dengan izin lain. “Ini akan menjadi game changer dalam tata kelola sawit kita,” kata Dida.
Ia menambahkan, pengembangan energi hijau berbasis sawit seperti biofuel, biogas, dan bioavtur juga membuka peluang ekonomi baru. Saat ini terdapat sekitar 200 produk turunan sawit yang telah dikomersialisasikan, mulai dari kosmetik hingga energi terbarukan. Bahkan 40% kandungan biodiesel nasional berasal dari sawit.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Surjadi, menekankan pentingnya memperkuat dimensi sosial dalam pembangunan industri sawit. “Kesejahteraan petani swadaya harus menjadi fokus. Banyak dari mereka memiliki lahan kecil, 2–3 hektare, dan kesulitan mengakses pupuk maupun pendanaan,” ujarnya.
Ia mendorong pembentukan kelompok tani yang mendapat pendampingan dari perusahaan besar atau pemerintah agar memiliki posisi tawar lebih baik. “Selain petani, buruh perkebunan juga bagian penting dari ekosistem sawit. Mereka berhak atas pekerjaan layak dan status formal,” katanya.
“ISPO bersifat wajib. Untuk pekebun kecil, sertifikasi diberi masa transisi empat tahun, dengan seluruh biaya ditanggung pemerintah,” ujarnya.
Pemerintah juga tengah mengembangkan sistem informasi ISPO agar data lahan sawit lebih transparan dan mudah dilacak. Setiap lahan tersertifikasi nantinya dapat diverifikasi bebas dari kawasan hutan dan tidak tumpang tindih dengan izin lain. “Ini akan menjadi game changer dalam tata kelola sawit kita,” kata Dida.
Ia menambahkan, pengembangan energi hijau berbasis sawit seperti biofuel, biogas, dan bioavtur juga membuka peluang ekonomi baru. Saat ini terdapat sekitar 200 produk turunan sawit yang telah dikomersialisasikan, mulai dari kosmetik hingga energi terbarukan. Bahkan 40% kandungan biodiesel nasional berasal dari sawit.
Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Surjadi, menekankan pentingnya memperkuat dimensi sosial dalam pembangunan industri sawit. “Kesejahteraan petani swadaya harus menjadi fokus. Banyak dari mereka memiliki lahan kecil, 2–3 hektare, dan kesulitan mengakses pupuk maupun pendanaan,” ujarnya.
Ia mendorong pembentukan kelompok tani yang mendapat pendampingan dari perusahaan besar atau pemerintah agar memiliki posisi tawar lebih baik. “Selain petani, buruh perkebunan juga bagian penting dari ekosistem sawit. Mereka berhak atas pekerjaan layak dan status formal,” katanya.
Lihat Juga :