Sawit Masih Jadi Andalan Ekonomi RI, Target Produksi 92 Juta Ton di 2045
Selasa, 04 November 2025 - 21:14 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Tanpa Perhitungan Matang, Kebijakan B50 Berpotensi Mematikan Sawit Nasional
Mengutip hasil riset IPB University yang dipublikasikan di Forest Policy & Economics tahun 2020, Surjadi menegaskan bahwa konflik antara ekonomi dan lingkungan bisa diminimalkan. “Dengan pengelolaan yang tepat, perkebunan sawit di lahan gambut pun dapat menekan emisi tanpa mengorbankan produktivitas,” ujarnya.
Adapun Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, mengatakan target produksi sawit nasional pada 2045 mencapai 92 juta ton, hampir dua kali lipat dari capaian saat ini sekitar 53 juta ton.
Menurut Eddy, pembenahan sektor hulu harus menjadi prioritas. “Hilirisasi tidak akan berhasil jika hulunya bermasalah. Produksi sawit stagnan lima tahun terakhir. Karena itu, peningkatan produktivitas petani dan efisiensi kebun menjadi kunci,” katanya.
Ia menilai program biodiesel berperan besar menjaga stabilitas harga sawit dan memperkuat ekonomi daerah. “Sebelum program biodiesel, harga sawit sempat di bawah biaya produksi. Sekarang harga bisa bertahan dan petani kembali bergairah,” ujarnya.
Eddy menambahkan, Gapki terus menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR) di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat. “Kami ingin industri sawit tidak hanya kuat secara ekonomi, tapi juga membawa manfaat sosial dan ramah lingkungan,” pungkasnya.
Mengutip hasil riset IPB University yang dipublikasikan di Forest Policy & Economics tahun 2020, Surjadi menegaskan bahwa konflik antara ekonomi dan lingkungan bisa diminimalkan. “Dengan pengelolaan yang tepat, perkebunan sawit di lahan gambut pun dapat menekan emisi tanpa mengorbankan produktivitas,” ujarnya.
Adapun Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, mengatakan target produksi sawit nasional pada 2045 mencapai 92 juta ton, hampir dua kali lipat dari capaian saat ini sekitar 53 juta ton.
Menurut Eddy, pembenahan sektor hulu harus menjadi prioritas. “Hilirisasi tidak akan berhasil jika hulunya bermasalah. Produksi sawit stagnan lima tahun terakhir. Karena itu, peningkatan produktivitas petani dan efisiensi kebun menjadi kunci,” katanya.
Ia menilai program biodiesel berperan besar menjaga stabilitas harga sawit dan memperkuat ekonomi daerah. “Sebelum program biodiesel, harga sawit sempat di bawah biaya produksi. Sekarang harga bisa bertahan dan petani kembali bergairah,” ujarnya.
Eddy menambahkan, Gapki terus menjalankan program tanggung jawab sosial (CSR) di bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemberdayaan masyarakat. “Kami ingin industri sawit tidak hanya kuat secara ekonomi, tapi juga membawa manfaat sosial dan ramah lingkungan,” pungkasnya.
(nng)
Lihat Juga :