Penjualan Mobil Tokcer di Oktober, Pertanda Konsumsi Kelas Menengah RI Menggeliat

Selasa, 11 November 2025 - 17:24 WIB
loading...
Penjualan Mobil Tokcer...
Penjualan mobil nasional melesat naik di Oktober 2025 dibanding bulan sebelumnya. Hal ini menjadi pertanda stabilnya ekonomi Indonesia membuat masyarakat kelas menengah tidak lagi menahan belanja. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Penjualan mobil nasional melesat naik sepanjang Oktober 2025 dibanding bulan sebelumnya. Hal ini menjadi pertanda stabilnya ekonomi Indonesia membuat masyarakat kelas menengah tidak lagi menahan belanja mereka.

Selama bulan Oktober, penjualan mobil tercatat mendekati 75 ribuan unit. Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) penjualan mobil secara wholesales meningkat 19,2%, sedangkan retail tumbuh 17,2%.

Penjualan mobil nasional secara wholesales pada bulan Oktober 2025 tercatat 74.020 unit. Sementara pada periode yang sama, penjualan mobil Astra secara wholesales naik 4% menjadi 34.888 unit dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca Juga: Konsumsi Rumah Tangga Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2025

"Seiring dengan stabilitas ekonomi yang terjaga dan aktivitas pasar yang mulai menunjukkan peningkatan menjelang akhir tahun, kami berharap kondisi ini dapat mendukung perkembangan industri otomotif ke depan," ujar Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo.

"Konsistensi kami dalam menghadirkan teknologi yang relevan serta layanan purna jual yang unggul menjadi kunci untuk terus menjaga posisi Astra sekaligus mendorong pertumbuhan pasar yang berkelanjutan," paparnya.


Ekonomi Tumbuh

Di tengah dinamika perdagangan internasional, ekonomi Indonesia tangguh dan tetap mencatat pertumbuhan yang solid. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 5,04% (y-on-y) pada triwulan-III 2025, lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 4,95%.

Sebagai pembanding, ekonomi sejumlah negara tetangga juga mengalami pertumbuhan di tengah tekanan perdagangan internasional, di antaranya Vietnam 8,2%, China 4,8%, Malaysia 5,2%, dan Singapura 2,9%.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode ini salah satunya didorong oleh konsumsi masyarakat yang tetap terjaga," ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud.

Indeks Pembangunan Manusia Meningkat

Indikator yang dirilis oleh BPS adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM mengukur sejauh mana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam aspek ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Semakin tinggi nilai IPM, semakin baik kualitas hidup di suatu wilayah. IPM Indonesia pada tahun 2025 capai 75,90, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 75,02. Dengan capaian tahun ini, Indonesia tetap berada dalam kategori pembangunan manusia tinggi.

Salah satu indikatornya yakni pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan naik dari Rp12,3 juta pada tahun lalu menjadi Rp12,8 juta pada tahun ini. Baca Juga: Penjualan Mobil di Indonesia September 2025 Naik Tipis

”Pengeluaran riil per kapita per tahun yang telah disesuaikan adalah rata-rata konsumsi penduduk per tahun yang dihitung berdasarkan harga konstan tahun 2012 dengan wilayah rujukan Jakarta Selatan. Angka ini juga telah disesuaikan dengan tingkat inflasi dan daya beli paritas”, jelas Edy.

Secara spasial, 3 (tiga) provinsi mencatat IPM tertinggi yaitu DKI Jakarta (85,05), DI Yogyakarta (82,48), dan Kepulauan Riau (80,53). Ketiga provinsi tersebut berada pada kategori tinggi. Sedangkan IPM terendah yaitu Provinsi Papua Pegunungan sebesar 54,91. BPS juga mencatat bahwa Provinsi Jawa Barat mencatat kenaikan IPM tertinggi yaitu sebesar 0,98 poin.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
BPS: Sensus Ekonomi...
BPS: Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Penetapan Pajak Pribadi
BPS Canangkan Sensus...
BPS Canangkan Sensus Ekonomi 2026 di Kalimantan Timur: Perkuat Kompas Pembangunan Daerah
Potensi Sensus Ekonomi...
Potensi Sensus Ekonomi Melahirkan Ribuan Keputusan
Wakil Kepala BPS RI:...
Wakil Kepala BPS RI: Sensus Ekonomi Akan Mampu Ukur Kontribusi Sektor Pendidikan terhadap Ekonomi DIY
Imbas BI Rate Naik,...
Imbas BI Rate Naik, Pasar Rumah Kelas Menengah Mulai Ngerem
Transformasi Ekonomi...
Transformasi Ekonomi Progresif, Kepala BPS Canangkan Sensus Ekonomi di Maluku Utara
Sensus Ekonomi 2026:...
Sensus Ekonomi 2026: Data untuk Memperkuat UMKM dan Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
PHK Massal Berisiko...
PHK Massal Berisiko Gerus Kelas Menengah, Sekjen Perindo Ferry Kurnia Dorong Insentif Dunia Usaha
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Rekomendasi
PKS Minta Fenomena Calon...
PKS Minta Fenomena Calon Mahasiswa Tidak Daftar Ulang di PTN Jadi Evaluasi SPMB 2026
Kemenhaj Sebut 90% Jemaah...
Kemenhaj Sebut 90% Jemaah Haji Sudah Tiba di Tanah Air
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
Berita Terkini
Harga Gas Penting, tapi...
Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram, Ini Rinciannya
IHSG Dibuka Menguat...
IHSG Dibuka Menguat 0,61% ke Level 5.932
AS-Iran Kembali Saling...
AS-Iran Kembali Saling Balas Serangan, Harga Minyak Langsung Mendidih
GAPKI Soroti Indonesia...
GAPKI Soroti Indonesia Belum Ada Acuan Harga Sawit yang Seragam
Harga Minyak Kembali...
Harga Minyak Kembali ke Level Sebelum Perang, Mengapa Bensin Tak Ikut Turun?
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved