Negara BRICS Bakal Mengubah Utang Dolar Menjadi Yuan China
Selasa, 18 November 2025 - 19:51 WIB
loading...
Negara BRICS, Ethiopia memulai negosiasi dengan China untuk mengubah sebagian dari utangnya sebesar USD5,38 miliar kepada Beijing menjadi pinjaman dalam denominasi yuan. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Negara BRICS , Ethiopia memulai negosiasi dengan China untuk mengubah sebagian dari utangnya sebesar USD5,38 miliar kepada Beijing menjadi pinjaman dalam denominasi yuan . Rencana ini di tengah dorongan pemerintah untuk meringankan tekanan valuta asing dan memperdalam hubungan perdagangan.
Menurut gubernurnya, Eyob Tekalign, Bank Nasional Ethiopia memulai pembicaraan di Beijing bulan lalu dengan Export-Import Bank of China (Bank Ekspor-Impor China) dan People’s Bank of China (Bank Rakyat China) mengenai pembayaran, fasilitasi perdagangan, dan restrukturisasi utang seperti dilaporkan Bloomberg.
Baca Juga: Mata Uang Berbasis Emas BRICS Muncul sebagai Alternatif Dolar AS
Pejabat Ethiopia menyambut potensi pertukaran mata uang Dolar AS dengan China untuk membantu membangun kembali ekonomi negara setelah bertahun-tahun mengalami guncangan.
"China saat ini merupakan mitra yang sangat penting bagi kami. Sangat masuk akal untuk mengatur beberapa swap mata uang, kami telah mengajukan permintaan secara resmi dan kemudian sedang mengerjakannya,” kata Eyob setelah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional di Washington.
Langkah pemerintah negara Afrika Timur ini mengikuti hal serupa yang dilakukan oleh Kenya. Awal bulan ini, Nairobi menyelesaikan konversi tiga pinjaman kereta api yang dibiayai China dari dolar AS ke yuan – langkah yang menurut Kementerian Keuangan akan mengurangi biaya bunga sekitar USD215 juta per tahun.
Nigeria juga memperbarui perubahan mata uang senilai 15 miliar yuan (USD2 miliar) dengan Bank Rakyat China pada Desember lalu untuk mendukung penyelesaian perdagangan naira-yuan.
Sebagai informasi Ethiopia telah berada di bawah tekanan ekonomi yang berat akibat pandemi corona dan perang saudara yang brutal selama dua tahun di wilayah Tigray, utara negara tersebut yang berakhir pada 2022.
Negara ini gagal membayar obligasi internasional tunggal senilai USD1 miliar pada Desember 2023, tetapi sejak itu telah meresmikan kesepakatan bantuan dengan kreditor resminya di bawah Kerangka Bersama G20, yang diketuai bersama oleh Prancis dan China, yang menyediakan lebih dari USD3,5 miliar dalam bentuk bantuan. Pembicaraan terpisah dengan pemegang obligasi dilaporkan masih sulit mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Simbol Perlawanan Dolar AS, Mata Uang BRICS Tampilkan Desain Unik
Sementara itu pada awal September lalu, Menteri Keuangan (Menkeu) Ahmed Shide mengatakan, bahwa Ethiopia dan China sepakat pada kerangka pertukaran mata uang untuk memfasilitasi perdagangan birr-yuan sebagai bagian dari upaya untuk membangun kembali ekonomi dan mendiversifikasi kemitraan setelah bertahun-tahun mengalami guncangan ekonomi.
Pada Januari 2024, Ethiopia bergabung dengan BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Kelompok ekonomi ini telah mendorong lebih banyak penyelesaian dalam mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.
Dorongan negara-negara BRICS yang membuang dolar AS, lantas mendapatkan kritikan keras oleh Presiden AS Donald Trump, yang telah mengancam tarif balasan hingga sanksi.
Menurut gubernurnya, Eyob Tekalign, Bank Nasional Ethiopia memulai pembicaraan di Beijing bulan lalu dengan Export-Import Bank of China (Bank Ekspor-Impor China) dan People’s Bank of China (Bank Rakyat China) mengenai pembayaran, fasilitasi perdagangan, dan restrukturisasi utang seperti dilaporkan Bloomberg.
Baca Juga: Mata Uang Berbasis Emas BRICS Muncul sebagai Alternatif Dolar AS
Pejabat Ethiopia menyambut potensi pertukaran mata uang Dolar AS dengan China untuk membantu membangun kembali ekonomi negara setelah bertahun-tahun mengalami guncangan.
"China saat ini merupakan mitra yang sangat penting bagi kami. Sangat masuk akal untuk mengatur beberapa swap mata uang, kami telah mengajukan permintaan secara resmi dan kemudian sedang mengerjakannya,” kata Eyob setelah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional di Washington.
Langkah pemerintah negara Afrika Timur ini mengikuti hal serupa yang dilakukan oleh Kenya. Awal bulan ini, Nairobi menyelesaikan konversi tiga pinjaman kereta api yang dibiayai China dari dolar AS ke yuan – langkah yang menurut Kementerian Keuangan akan mengurangi biaya bunga sekitar USD215 juta per tahun.
Nigeria juga memperbarui perubahan mata uang senilai 15 miliar yuan (USD2 miliar) dengan Bank Rakyat China pada Desember lalu untuk mendukung penyelesaian perdagangan naira-yuan.
Sebagai informasi Ethiopia telah berada di bawah tekanan ekonomi yang berat akibat pandemi corona dan perang saudara yang brutal selama dua tahun di wilayah Tigray, utara negara tersebut yang berakhir pada 2022.
Negara ini gagal membayar obligasi internasional tunggal senilai USD1 miliar pada Desember 2023, tetapi sejak itu telah meresmikan kesepakatan bantuan dengan kreditor resminya di bawah Kerangka Bersama G20, yang diketuai bersama oleh Prancis dan China, yang menyediakan lebih dari USD3,5 miliar dalam bentuk bantuan. Pembicaraan terpisah dengan pemegang obligasi dilaporkan masih sulit mencapai kesepakatan.
Baca Juga: Simbol Perlawanan Dolar AS, Mata Uang BRICS Tampilkan Desain Unik
Sementara itu pada awal September lalu, Menteri Keuangan (Menkeu) Ahmed Shide mengatakan, bahwa Ethiopia dan China sepakat pada kerangka pertukaran mata uang untuk memfasilitasi perdagangan birr-yuan sebagai bagian dari upaya untuk membangun kembali ekonomi dan mendiversifikasi kemitraan setelah bertahun-tahun mengalami guncangan ekonomi.
Pada Januari 2024, Ethiopia bergabung dengan BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Kelompok ekonomi ini telah mendorong lebih banyak penyelesaian dalam mata uang lokal untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.
Dorongan negara-negara BRICS yang membuang dolar AS, lantas mendapatkan kritikan keras oleh Presiden AS Donald Trump, yang telah mengancam tarif balasan hingga sanksi.
(akr)
Lihat Juga :