Mata Uang Berbasis Emas BRICS Muncul sebagai Alternatif Dolar AS

Minggu, 31 Agustus 2025 - 21:00 WIB
loading...
Mata Uang Berbasis Emas...
Negara-negara anggota BRICS semakin gencar mengembangkan mata uang bersama berbasis emas. FOTO/Shutterstock
A A A
JAKARTA - Negara-negara anggota BRICS semakin gencar mengembangkan mata uang bersama berbasis emas yang digadang menjadi alternatif sistem keuangan global berbasis dolar Amerika Serikat (AS). Proyek ambisius ini kini memasuki tahap percepatan, dengan target peluncuran diproyeksikan paling cepat pada 2026.

Upaya ini lahir dari keinginan kolektif anggota BRICS untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. Meskipun nama resmi mata uang tersebut belum ditentukan, proyek ini memanfaatkan cadangan emas besar yang dimiliki negara-negara anggota untuk menciptakan instrumen pembayaran yang lebih stabil dan terukur.

Meski banyak spekulasi bahwa mata uang ini akan menggantikan dolar AS, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menegaskan BRICS tidak berupaya menyingkirkan mata uang AS.

"Alternatif yang sedang dibangun adalah sistem penyelesaian transaksi menggunakan mata uang nasional masing-masing anggota," ujarnya, dikutip dari Watcher Guru, Minggu (31/8).

Kerangka multi-mata uang ini memungkinkan setiap negara anggota tetap mempertahankan kedaulatan moneter, namun nilainya akan diukur berdasarkan cadangan emas yang dimiliki. Skema ini diharapkan mengoptimalkan nilai tukar dan menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih berimbang.

Proyek ini tidak hanya menyasar penciptaan mata uang tunggal, tetapi juga membangun infrastruktur keuangan modern. Bank Pembangunan Baru BRICS, misalnya sedang merancang sistem pembayaran lintas batas bernilai miliaran dolar untuk mendukung transaksi antaranggota.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
China Desak BRICS Berani...
China Desak BRICS Berani Melawan Barat: Akses Mineral Strategis Bakal Dikunci
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Harga Emas Antam Stagnan...
Harga Emas Antam Stagnan di Posisi Rp2.655.000 per Gram, Saatnya Beli?
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
Rupiah Jeblok Lagi,...
Rupiah Jeblok Lagi, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
Pengadilan AS Hukum...
Pengadilan AS Hukum Warga Israel karena Curi Rahasia Dagang
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Kim Jong-un Janji Kapal...
Kim Jong-un Janji Kapal Perang Korut Dilengkapi Senjata Nuklir, Momok bagi AS
Rekomendasi
Bareskrim Ungkap Peran...
Bareskrim Ungkap Peran 4 WNI dalam Sindikat Judi Online Internasional di Hayam Wuruk
Gempa Magnitudo 6,8...
Gempa Magnitudo 6,8 Guncang Pulau Tahuna Sulut
Tingkatkan Kualitas...
Tingkatkan Kualitas Layanan, ShopeeFood Fokus Dorong Pengembangan Kompetensi Mitra Pengemudi
Berita Terkini
Ekonom Bank Mandiri...
Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Modernland Realty Catat...
Modernland Realty Catat Laba Bersih Rp241,12 Miliar di 2025
Lusi Tak Menyangka Dapat...
Lusi Tak Menyangka Dapat Hadiah Mobil dari Tabungan Dahsyat Arisan MNC Bank
Bank Mandiri Taspen...
Bank Mandiri Taspen Buka 3 Posko Bantu Korban Penipuan Investasi
Emas Now Tawarkan Investasi...
Emas Now Tawarkan Investasi Logam Mulia Lebih Inklusif
Program Tabungan Dahsyat...
Program Tabungan Dahsyat Arisan MNC Bank Perkuat Loyalitas Nasabah
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved