Tingkatkan Daya Saing, Pemerintah Dorong Hilirisasi Sumber Daya Mineral
Kamis, 20 November 2025 - 08:44 WIB
loading...
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam kunjungannya berkunjung ke FT UGM, Yogyakarta, Rabu (19/11). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah menegaskan pentingnya penguatan riset dan hilirisasi sumber daya mineral sebagai fondasi meningkatkan daya saing nasional. Sumber daya mineral dinilai berperan strategis dalam perekonomian melalui penciptaan lapangan kerja, penyediaan bahan baku industri, hingga menjadi komponen utama dalam pengembangan teknologi dan transisi energi bersih.
"Di tengah transformasi besar menuju ekonomi berbasis teknologi, Indonesia membutuhkan riset yang kuat dan berkualitas tinggi, khususnya di bidang material energi. Hilirisasi mineral dan dorongan global terhadap energi baru menuntut kemampuan riset yang mampu menjaga daya saing nasional," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).
Hal itu disampaikan Airlangga saat berkunjung ke Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), Yogyakarta, Rabu (19/11). Untuk mendukung pengembangan mineral secara berkelanjutan, riset dan inovasi menjadi kunci.
Menurut dia peneliti berperan dalam mengidentifikasi cadangan baru, mengembangkan teknologi ekstraksi yang efisien, serta mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan. Peningkatan kapasitas riset, terutama di bidang material energi, dinilai semakin mendesak.
Dalam diskusi dengan para peneliti FT UGM, Airlangga membahas pengembangan teknologi baterai kendaraan listrik, termasuk kebutuhan teknologi untuk daur ulang baterai. Selain itu, peningkatan nilai tambah batu bara turut disorot, terutama batu bara kalori rendah yang jumlahnya melimpah hingga lebih dari 30 miliar ton dan menjadi aspek penting menuju target net zero emission.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan hibah sekaligus peresmian pemanfaatan peralatan laboratorium Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICPMS) NexON ICP-MS 1100 dari PT Eco Energi Perkasa (CNGR Indonesia) kepada FT UGM. Alat pendeteksi mineral berpresisi tinggi ini diharapkan memperkuat kapasitas riset nasional dan membuka peluang strategis bagi pengembangan iptek.
Baca Juga: Indonesia-Singapura Perkuat Kemitraan Strategis dan Dorong Integrasi Ekonomi Kawasan
Airlangga menegaskan bahwa penguatan fasilitas riset merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk membangun ekonomi berbasis inovasi. Ia berharap kerja sama ini tidak hanya menambah kapasitas fasilitas ilmiah, tetapi juga mampu membentuk ekosistem riset yang melahirkan SDM unggul dan inovasi kompetitif.
Dengan teknologi karakterisasi unsur yang lebih canggih, FT UGM disebut dapat memperkuat riset rantai pasok industri baterai, mulai dari validasi mutu bahan baku, optimasi proses pemurnian, hingga inovasi material energi baru. Kolaborasi tersebut juga membuka peluang percepatan transfer teknologi dan pengetahuan antarlembaga.
Kemitraan ini dinilai mencerminkan model triple-helix yang ideal antara universitas, industri, dan pemerintah. Universitas menyediakan basis ilmiah dan SDM, industri menghadirkan kebutuhan serta teknologi terbaru, sementara pemerintah memastikan dukungan kebijakan untuk mendorong hilirisasi dan inovasi berkelanjutan.
Baca Juga: Pemerintah Setujui KUR Kekayaan Intelektual Rp10 Triliun, Hak Cipta Bisa Jadi Agunan
"Pemerintah mendorong agar kemitraan ini berkembang melalui agenda riset jangka panjang, termasuk pemurnian logam kritis, riset bahan katoda, aspek keberlanjutan (ESG), serta inovasi proses yang mendukung daya saing industri material energi Indonesia. Kami berharap laboratorium ini menjadi rumah bagi lahirnya inovasi besar yang memperkuat peran Indonesia secara global," ujar Airlangga.
"Di tengah transformasi besar menuju ekonomi berbasis teknologi, Indonesia membutuhkan riset yang kuat dan berkualitas tinggi, khususnya di bidang material energi. Hilirisasi mineral dan dorongan global terhadap energi baru menuntut kemampuan riset yang mampu menjaga daya saing nasional," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Kamis (20/11/2025).
Hal itu disampaikan Airlangga saat berkunjung ke Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM), Yogyakarta, Rabu (19/11). Untuk mendukung pengembangan mineral secara berkelanjutan, riset dan inovasi menjadi kunci.
Menurut dia peneliti berperan dalam mengidentifikasi cadangan baru, mengembangkan teknologi ekstraksi yang efisien, serta mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan. Peningkatan kapasitas riset, terutama di bidang material energi, dinilai semakin mendesak.
Dalam diskusi dengan para peneliti FT UGM, Airlangga membahas pengembangan teknologi baterai kendaraan listrik, termasuk kebutuhan teknologi untuk daur ulang baterai. Selain itu, peningkatan nilai tambah batu bara turut disorot, terutama batu bara kalori rendah yang jumlahnya melimpah hingga lebih dari 30 miliar ton dan menjadi aspek penting menuju target net zero emission.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan hibah sekaligus peresmian pemanfaatan peralatan laboratorium Inductively Coupled Plasma Mass Spectrometry (ICPMS) NexON ICP-MS 1100 dari PT Eco Energi Perkasa (CNGR Indonesia) kepada FT UGM. Alat pendeteksi mineral berpresisi tinggi ini diharapkan memperkuat kapasitas riset nasional dan membuka peluang strategis bagi pengembangan iptek.
Baca Juga: Indonesia-Singapura Perkuat Kemitraan Strategis dan Dorong Integrasi Ekonomi Kawasan
Airlangga menegaskan bahwa penguatan fasilitas riset merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah untuk membangun ekonomi berbasis inovasi. Ia berharap kerja sama ini tidak hanya menambah kapasitas fasilitas ilmiah, tetapi juga mampu membentuk ekosistem riset yang melahirkan SDM unggul dan inovasi kompetitif.
Dengan teknologi karakterisasi unsur yang lebih canggih, FT UGM disebut dapat memperkuat riset rantai pasok industri baterai, mulai dari validasi mutu bahan baku, optimasi proses pemurnian, hingga inovasi material energi baru. Kolaborasi tersebut juga membuka peluang percepatan transfer teknologi dan pengetahuan antarlembaga.
Kemitraan ini dinilai mencerminkan model triple-helix yang ideal antara universitas, industri, dan pemerintah. Universitas menyediakan basis ilmiah dan SDM, industri menghadirkan kebutuhan serta teknologi terbaru, sementara pemerintah memastikan dukungan kebijakan untuk mendorong hilirisasi dan inovasi berkelanjutan.
Baca Juga: Pemerintah Setujui KUR Kekayaan Intelektual Rp10 Triliun, Hak Cipta Bisa Jadi Agunan
"Pemerintah mendorong agar kemitraan ini berkembang melalui agenda riset jangka panjang, termasuk pemurnian logam kritis, riset bahan katoda, aspek keberlanjutan (ESG), serta inovasi proses yang mendukung daya saing industri material energi Indonesia. Kami berharap laboratorium ini menjadi rumah bagi lahirnya inovasi besar yang memperkuat peran Indonesia secara global," ujar Airlangga.
(nng)
Lihat Juga :