KPI Dorong Inovasi dan Kembangkan Bisnis Low Carbon
Kamis, 20 November 2025 - 18:51 WIB
loading...
Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro dalam diskusi di di Jakarta, Rabu (19/11/2025). FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) terus berinovasi untuk mengembangkan bisnis eksisting, serta membangun bisnis low carbon demi mendorong pertumbuhan. Strategi pertumbuhan ganda tersebut diyakini akan mendukung ketahanan energi nasional.
"Strategi memaksimalkan bisnis eksisting dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas kilang. KPI juga membangun bisnis low carbon dengan mengembangkan green refinery dan menghasilkan produk-produk berbahan baku nabati," ungkap Pth. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI Prayitno dalam diskusi di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Siap Operasikan RFCC Terbesar di Balikpapan Kuartal IV-2025
Prayitno menjelaskan, untuk pengembangan bahan bakar nabati, KPI mengimplementasikan sejumlah strategi. Pertama, melalui Co-Processing yaitu bahan baku nabati diproses melalui pencampuran dengan bahan baku fosil pada fasilitas eksisting. Dengan strategi ini, kata dia, KPI telah mampu menghasilkan bioavtur Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak inti sawit atau Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil.
Kemudian, melalui konversi, di mana bahan baku nabati 100 persen diproses menjadi bahan bakar. Pada strategi ini, KPI telah mampu memproduksi biodiesel 100% dengan jenis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Produk KPI ini dikenal dengan Pertamina Renewable Diesel (RD).
KPI juga telah mengembangkan Green Refinery yang dapat mengolah bahan baku limbah, salah satunya adalah Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah, menjadi bahan bakar. Proses produksinya dilakukan di Kilang Cilacap, dan rencananya akan dikembangkan di Kilang Dumai dan Balongan.
Avtur berbasis minyak jelantah itu telah digunakan untuk penerbangan pesawat Pelita Air Services dengan rute Jakarta-Denpasar pada Agustus lalu. Capaian ini, tegas dia, merupakan bentuk transformasi energi, sekaligus langkah strategis dalam transisi menuju energi rendah karbon di Indonesia.
Produk Pertamina SAF juga telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091. Pencapaian ini menjadikan Pertamina SAF sebagai produk SAF pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang bersertifikat resmi. "Kami sedang menyiapkan unit produksi baru di Kilang Cilacap untuk produksi SAF, pasarnya bisa dari dalam negeri maupun luar negeri," imbuhnya.
Baca Juga: Dukung Transisi Energi, KPI Kembangkan Kilang Hijau hingga Produksi Biofuel
Untuk tahap awal, papar dia, kapasitas produksi ditargetkan sebesar 9 metric barrel dengan komposisi 2–3% UCO. Produksi Pertamina SAF berbahan baku ini juga menjadi kelanjutan cerita sukses KPI dalam memproduksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
Beragam strategi yang dijalankan KPI, jelas dia, tidak hanya akan mempercepat transisi energi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional. Prayitno mengungkapkan langkah tersebut memiliki multiplier effect, seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan produksi, dan bertambahnya nilai tambah di dalam negeri.
Pada acara yang sama, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa strategi yang dijalankan KPI menunjukkan bahwa upaya hilirisasi telah dilakukan Kilang Pertamina jauh sebelum terbitnya aturan mengenai hilirisasi. "Sebelum ada regulasi hilirisasi, teman-teman di Kilang Pertamina rupanya sudah melakukannya," kata dia.
Di sisi lain, lanjut Komaidi, tren global menunjukkan bisnis kilang mengalami pertumbuhan. Kapasitas kilang secara global bertambah, namun produknya bergeser ke petrokimia. Namun di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menurut Komaidi, produk kilang masih didominasi BBM.
Terkait pengembangan kilang di dalam negeri, Komaidi menilai ada beberapa tantangan, di antaranya kompleksitas yang cukup tinggi, serta investasi yang besar. Kompleksitas pembangunan kilang bisa menurutnya bisa 10-15 kali lipat lebih tinggi dibandingkan industri manufaktur.
Di sisi lain, kilang yang dikelola BUMN di dalam negeri lebih diarahkan untuk memproduksi bahan bakar, yang marjinnya kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan petrokimia. Karena itu, kata dia, untuk mendorong percepatan pengembangan kilang, pemerintah perlu memberikan dukungan bagi badan usaha.
"Strategi memaksimalkan bisnis eksisting dilakukan dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas kilang. KPI juga membangun bisnis low carbon dengan mengembangkan green refinery dan menghasilkan produk-produk berbahan baku nabati," ungkap Pth. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Bisnis KPI Prayitno dalam diskusi di Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Energi, Pertamina Siap Operasikan RFCC Terbesar di Balikpapan Kuartal IV-2025
Prayitno menjelaskan, untuk pengembangan bahan bakar nabati, KPI mengimplementasikan sejumlah strategi. Pertama, melalui Co-Processing yaitu bahan baku nabati diproses melalui pencampuran dengan bahan baku fosil pada fasilitas eksisting. Dengan strategi ini, kata dia, KPI telah mampu menghasilkan bioavtur Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak inti sawit atau Refined Bleached Deodorized Palm Kernel Oil.
Kemudian, melalui konversi, di mana bahan baku nabati 100 persen diproses menjadi bahan bakar. Pada strategi ini, KPI telah mampu memproduksi biodiesel 100% dengan jenis Hydrotreated Vegetable Oil (HVO). Produk KPI ini dikenal dengan Pertamina Renewable Diesel (RD).
KPI juga telah mengembangkan Green Refinery yang dapat mengolah bahan baku limbah, salah satunya adalah Used Cooking Oil (UCO) atau minyak jelantah, menjadi bahan bakar. Proses produksinya dilakukan di Kilang Cilacap, dan rencananya akan dikembangkan di Kilang Dumai dan Balongan.
Avtur berbasis minyak jelantah itu telah digunakan untuk penerbangan pesawat Pelita Air Services dengan rute Jakarta-Denpasar pada Agustus lalu. Capaian ini, tegas dia, merupakan bentuk transformasi energi, sekaligus langkah strategis dalam transisi menuju energi rendah karbon di Indonesia.
Produk Pertamina SAF juga telah memenuhi standar internasional ASTM D1655 dan DefStan 91-091. Pencapaian ini menjadikan Pertamina SAF sebagai produk SAF pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang bersertifikat resmi. "Kami sedang menyiapkan unit produksi baru di Kilang Cilacap untuk produksi SAF, pasarnya bisa dari dalam negeri maupun luar negeri," imbuhnya.
Baca Juga: Dukung Transisi Energi, KPI Kembangkan Kilang Hijau hingga Produksi Biofuel
Untuk tahap awal, papar dia, kapasitas produksi ditargetkan sebesar 9 metric barrel dengan komposisi 2–3% UCO. Produksi Pertamina SAF berbahan baku ini juga menjadi kelanjutan cerita sukses KPI dalam memproduksi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.
Beragam strategi yang dijalankan KPI, jelas dia, tidak hanya akan mempercepat transisi energi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi ekonomi nasional. Prayitno mengungkapkan langkah tersebut memiliki multiplier effect, seperti penciptaan lapangan kerja, peningkatan produksi, dan bertambahnya nilai tambah di dalam negeri.
Pada acara yang sama, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan bahwa strategi yang dijalankan KPI menunjukkan bahwa upaya hilirisasi telah dilakukan Kilang Pertamina jauh sebelum terbitnya aturan mengenai hilirisasi. "Sebelum ada regulasi hilirisasi, teman-teman di Kilang Pertamina rupanya sudah melakukannya," kata dia.
Di sisi lain, lanjut Komaidi, tren global menunjukkan bisnis kilang mengalami pertumbuhan. Kapasitas kilang secara global bertambah, namun produknya bergeser ke petrokimia. Namun di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia, menurut Komaidi, produk kilang masih didominasi BBM.
Terkait pengembangan kilang di dalam negeri, Komaidi menilai ada beberapa tantangan, di antaranya kompleksitas yang cukup tinggi, serta investasi yang besar. Kompleksitas pembangunan kilang bisa menurutnya bisa 10-15 kali lipat lebih tinggi dibandingkan industri manufaktur.
Di sisi lain, kilang yang dikelola BUMN di dalam negeri lebih diarahkan untuk memproduksi bahan bakar, yang marjinnya kurang menguntungkan jika dibandingkan dengan petrokimia. Karena itu, kata dia, untuk mendorong percepatan pengembangan kilang, pemerintah perlu memberikan dukungan bagi badan usaha.
(nng)
Lihat Juga :